--- In [email protected], "Ntis" <chisaan2...@...> wrote:
>
> Matur nuwun banget atas infonya, Mas Fikri.
> 
> Memang semestinya ada kertas kerja pembanding untuk buku Slamet 
> Muljana. Terlebih jika kita membaca komentar M.O. Parlindungan yang 
> menyebutkan bahwa penelitian Slamet Muljana sebenarnya 
> masih "prematur". Barangkali benar adanya, jika dikatakan prematur. 
> Sebab, kalau kita membaca karya Sanusi Pane, misalnya, akan dijumpai 
> penafsiran Tjampa/Tjempo/Campa sebagai Djuempa (Aceh) sambil menilik 
> jalur pelayaran Aceh-Majapahit (Jawa). Namun, penafsiran ini pun 
> masih bersifat sementara. Sayang-seribu-sayang, jika buku Slamet 
> Muljana kemudian dilarang, sebab, itu berarti menutup pintu diskusi. 
> 
> Ada penelitian menarik lain yang dilakukan oleh Hasan Muarif 
> Ambary, "Epigraphical Data from 17th-19th Century Muslim Graves in 
> East Java". Hasan Muarif bertolak dari penelitian epigrafis pada 
> makam para sunan dan sultan yang terdapat di Gresik, Tuban, Ampel dan 
> Madura. Hasan Muarif memang tidak sampai pada kesimpulan mengenai 
> asal-usul para sunan, apakah mereka dari Arab, Cina atau Jawa, namun 
> justru pada tahap "pra-konklusi" tersebut letak kemenarikannya. 
> Sebagai misal, bagaimana dan kapan suatu "kontak budaya" terjalin 
> antara penduduk lokal dan warga asing yang terabadikan lewat 
> peninggalan arkeologis: makam muslim. Hasan Muarif mengamati beberapa 
> makam muslim di Gresik, Tuban, Ampel dan Madura menggunakan penanda 
> tulisan Arab dan juga Jawa: candrasengkala. Menurutnya, perpaduan ini 
> unik. Kenapa menggunakan tulisan Arab? Kenapa menggunakan tulisan 
> candrasengkala? Belakangan, tulisan Arab tak lagi digunakan sebagai 
> penanda makam muslim. Artinya, kearaban (keislaman?) telah luruh 
> dalam budaya lokal. Bahasa lainnya ya... membumi. 
> 
> Salah satu temuan yang barangkali dapat mematahkan tesis Slamet 
> Muljana soal persebaran agama Islam di Jawa adalah terdapatnya makam 
> muslim tertua di desa Leran, masuk wilayah Manyar, Gresik, yakni 
> makam Fatimah binti Maimun, abad XI. Penanda masa tersebut 
> menunjukkan bahwa komunitas muslim sudah ada sejak abad XI, bukan XIV 
> sebagaimana diduga Slamet Muljana.
> 
> Ngomong-ngomong, penerbitan karya-karya penelitian sejarah yang 
> dilakukan oleh LKiS tidak dimaksudkan untuk "melap-lap hasil 
> kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan", kan? Konon 
> katanya, apa yang dinamakan "Indonesia" sesungguhnya ada di "masa 
> depan", bukan di "masa lalu".
> 
> Sekali lagi, matur nuwun infonya dan sukses buat LKiS!
> 
> Salam,
> "Ntis
> 
> --- In [email protected], akhmad fikri <ilalangdisav...@y...> 
> wrote:
> > Waw, ning ntis pinter je. mau dapat buku, ngresensi
> > dulu. salut deh saya. jangan khawatir. datang saja ke
> > elkis, nanti dikasih. karena ning ntis sudah meresensi
> > di sini, tentu saja ada kontraprestasinya.
> > 
> > o, ya buku "Menuju Puncak Kemegahan" (Sejarah
> > Berdirinya Majapahit) karya Slamet Mulyana yang lain
> > telah terbit juga di LKiS. silahkan cari. LKiS juga
> > akan menerbitkan karya Slamet Mulyana yang lain:
> > "SRIWIDJAYA" judul bukunya. tunggu saja! ketiga buku
> > ini seluruhnya menarik untuk menambah perspektif kita
> > tentang sejarah masalalu.
> > 
> > ning, semestinya ketiga buku itu penting dibandingkan
> > dengan Novelnya Mas Agus Sunyoto: Suluk Abdul Jalil
> > (perjalanan ruhani syaikh siti jenar), Sang Pembaharu
> > dan Suluk Malang Sungsang. Ketiga judul buku ini
> > merupakan rangkaian novel sejarah yang ditulis cukup
> > panjang, terdiri dari 7 jilid buku. Buku ini merupakan
> > hasil penelitian mas agus selama beberapa tahun
> > tentang tarikat akmaliyah dan satariyah di Jawa. (buku
> > ini juga terbitan LKIS). 
> > 
> > menarik dari buku ini adalah perspektifnya yang
> > berbeda dengan perspektif slamet mulyono dan
> > perspektif babad tanah jawi, terutama tentang asal dan
> > keberadaan walisongo. pada slamet kita menjumpai satu
> > tesis tentang walisongo yang sebagian besar keturunan
> > cina. di novel agus walisongo justru sebagian besar
> > dari arab. 
> > 
> > penting dari itu adalah bahwa sangat jarang pula kita
> > temui sejarah ditulis dalam bentuk fiksi (novel).
> > suatu tradisi yang hanya dimulai oleh segelintir orang
> > seperti Pram, kang tohari dan mas agus sendiri.
> > 
> > kapan juga nih ning ntis mau nyerahkan karyanya ke
> > lkis?
> >
>
ning ntis dan mas fikri sebaiknya berhati-hati (=teliti secara ilmiah)
terhadap karya kedua tokoh tersebut, yakni Prof. Slamet Mulyana 
dan Agus Sunyoto.
Terhadap karya Prof Slamet Mulyana, saya mungkin bisa sedikit 
memberikan 2 pertanyaan kritis untuk menjadikan bahan diskusi lanjutan 
dalam rangka kehati-hatian kita

Pertama, mengenai bahan atau sumber sejarah yang dijadikan pijakan 
prof. Slamet Mulyana. Buku berjudul Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan 
Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara" tersebut menggunakan 
sumber sejarah berupa naskah (KONON) kuno dari kuil di Semarang. 
Naskah tersebut pertama kali diungkap oleh Komisi Portmann yang 
dibentuk oleh Pemerintah Hindia-Belanda tahun 1928. Pertanyaan 
mendasar adalah apakah naskah tersebut otentik sejaman, atau paling 
tidak mendekati waktu peristiwa, mengingat jarak usia penemuan 
Portmann dengan peristiwa yang terkandung cukup jauh. Sekedar 
mengingatkan, para Wali Songo hidup sekitar 1400-1600, sedangkan 
naskah itu diungkap tahun 1928. Mungkinkah naskah kuno, berupa kertas, 
dengan tanpa perlakuan khusus, awet sekian ratus tahun (minimal 300 
tahun)???

Ataukah itu hanya naskah yang disusun jauh hari sesudah peristiwa 
terjadi, dan dimungkinkan isinya sangat bias terhadap kepentingan 
penyusunnya?? Istilah teknis historiografinya adalah ANAKRONIS, 
tidak terdapat kesesuaian waktu antara sumber dengan peristiwa 
sejarahnya.

Jika itu, maka "NILAI" naskah itu akan menjadi "SEDERAJAT" dengan 
uraian Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha mengenai masa Majapahit, 
yakni jarak antara penyusunan naskah dengan peristiwa yang diceritakan 
terpaut ratusan tahun, dengan metode penyusunan sejarah yang sangat 
tidak memperhatikan aspek-aspek historiografi

Kedua, mengenai etnis Cina dalam personalitas beberapa Wali Songo. 
Saya pernah berbincang dengan Prof. Aminudin Kasdi, Guru Besar Sejarah 
UNESA (Surabaya) mengenai hal ini. Saya sepakat dengan asumsi Prof. 
Aminudin, bahwa mentalitas etnis Cina diperantauan adalah eksklusif, 
dan primordialis. Mereka membangun kampung Cina (Pecinan) yang khas, 
dengan tembok2 tinggi dan pintu2 kecil. Hubungan antara etnis Cina di 
Indonesia masa kuno, adalah hubungan dagang ansich. Mereka adalah 
pedagang, atau perantau yang didasarkan faktor ekonomi. Sangat sulit 
menilai bahwa etnis Cina di Indonesia adalah pioner penyebar agama 
Islam di Jawa, apalagi Nusantara, dengan segala mentalitas kampung 
Pecinan dengan tembok tinggi dan pintu kecilnya.

Bukankah mereka hanya bergaul dengan sesama Cina, dan hanya membuka 
pintu untuk menerima pembeli?

Barangkali kita perlu mendiskusikan lebih lanjut 

Ketiga, mengenai kiprah Doktor Agus Sunyoto dalam historiografi Islam 
Indonesia.

Saya mengetahui beliau sejak kuliah di Malang. Beliau adalah dosen 
Sastra Indonesia di UNIBRAW dengan ketertarikan dalam bidang budaya 
dan sejarah Islam di Indonesia yang "khas". Saya menggunakan istilah 
itu agar tetap netral, karena saya ingin tulisan saya ini bernilai 
ilmiah. Bulan November 2008, saya berkesempatan berbincang dengan 
beliau mengenai banyak hal, dan saya manfaatkan untuk mengenal beliau 
lebih jauh, terutama mengenai pendangan beliau mengenai historiografi.  
Secara berguarau saya menyampaikan bahwa beliau akan menjadi Prof. 
Slamet Mulyana baru dengan segala "kekhasan" dalam blantikan 
historiografi Indonesia. Rupanya beliau tidak merasa seperti itu. 
Beliau menyatakan bahwa prinsip penulisan sejarah bagi beliau berbeda 
sekali dengan Prof. Slamet Mulyana. Menurut beliau, Prof. Slamet 
Mulyana masih menggunakan kriteria metode dan metodologi historiografi 
yang ilmiah. Sedangkan Doktor Agus Sunyoto secara jelas menyatakan 
bahwa beliau akan menulis peristiwa sejarah dengan menggunakan sumber 
sejarah yang kadang dianggap tidak ilmiah, misalnya mitos, mite, dan 
segala bentuk ingatan kolektif masyarakat. Bagi Doktor Agus, sumber 
sejarah semacam itu justru lebih bernilai karena bersifat turun 
temurun dan terjaga validitasnya. Untuk meruntut silsilah, beliau juga 
menggunakan NASAB, yakni silsilah yang biasa dipergunakan etnis 
keturunan Arab atau komunitas pesantren di Indonesia. 

Cukup unik bukan?

Selain itu, mengenai asal usul para Wali, beliau berpendapat bahwa 
penyebar Islam adalah orang-orang Arab yang bermazhab Hanafi bahkan 
Syiah. Namun pendapat beliau cukup unik, yakni Arab yang datang ke 
Indonesia adalah Arab yang telah bermukim di Campa (=Vietnam), bukan 
orang Arab yang langsung datang dari Timur Tengah. Pendapat beliau ini 
dilatarbelakangi keberadaan tradisi Syiah di Indonesia, dan keberadaan 
informasi bahwa Sunan Ampel adalah kerabat dari kerajaan Campa. Kalau 
boleh saya sederhanakan, alur penyebaran Islam di Indonesia adalah 
Arab-Campa-Indonesia.

Unik juga bukan?
Apakah rute pelayaran waktu melewati kutub utara dari Arab ke
Indonesia, hingga harus singgah ke Campa terlebih dahulu?

Jika disampaikan bahwa sewaktu pelarangan buku Prof. Slamet Mulyana 
tidak ada reaksi para intelektual sejarah, cukup bisa dimengerti, 
karena buku tersebut menggunakan sumber sejarah yang "NILAI" 
kesejarahannya bisa kita perdebatkan (=fakta lunak).



Senang bisa bergabung untuk  berdiskusi dengan Anda semua.

Salam.


Kirim email ke