Kenapa para Kiai gk kompak untuk GOLPUT saja karena SBY JK tidak bisa 
menyelesaikan lumpur lapindo (wilayah yang hanya seperlemparan tombak dari 
pusat ponpes2), daerah ini yang dirundung masalah dan menjadi public news 
hampir setiap hari. Apakah sikap Syech Hasyim Asyaari yang berani menentang 
penguasa sudah jauh ditinggalkan oleh para penerus2nya?

Kompromi terhadap pilihan karena kedekatan penguasa menurut hemat saya adalah 
suatu hal yang makruh dan lebih dekat pada hal yang haram.

Mohon petunjuk dari kakak dan rekan2 NU.

http://lisnosetiawan.blogspot.com/

--- On Mon, 13/7/09, h13b <[email protected]> wrote:

From: h13b <[email protected]>
Subject: [kmnu2000] Dawuh Kiai, Maaf Saja
To: "kmnu nu" <[email protected]>, "pci nu" <[email protected]>
Cc: "Bahtsul Masail" <[email protected]>
Date: Monday, 13 July, 2009, 11:03 AM











    
            
            


      
      Salam,

Belumkah, fakta di bawah ini, mampu membuka ULAMA NU dan jajaran di PBNU? 

http://majalah. tempointeraktif. com/id/arsip/ 2009/07/13/ LU/mbm.20090713. 
LU130849. id.html



----------



Dawuh Kiai, Maaf Saja

JK-Win menang di sejumlah pondok pesantren. Masyarakat sekitar mencontreng SBY.

TERTATIH-TATIH, KH Idris Marzuki menyibak

tirai lalu keluar dari bilik tempat pemu­ngutan suara, Rabu pekan lalu.

Sambil mencelupkan ujung keling­kingnya ke tinta penanda telah

mencontreng, sesepuh pondok di kaki Gunung Klotok itu memandang puluhan

santri yang menunggunya. 



”Silakan tentukan sendiri pilihan kalian, saya memilih Pak JK,”

kata Mbah Idris, sapaan KH Idris. Para santri diam menunduk dan tak

memandang wajah Kiai. ”Ideologi saya dan Pak JK sama,” Mbah Idris

menambahkan. 



Setelah Mbah Idris pergi, para santri berbondong-bondong menuju

ke 11 TPS yang bertebaran di kompleks pondok. Hasilnya: JK-Wiranto

menang mutlak menguasai 90,2 persen suara. Adapun SBY-Boediono hanya

mendulang 3,28 persen dan Mega-Prabowo 0,2 persen. 



Dua hari sebelum pencontrengan, para santri tiap malam meriung

di bilik-bilik pondok. Mereka memandangi kertas karton seukuran folio

berisi keputusan ulama dalam bahtsul masail—pertemuan terbatas pengasuh

pondok pesantren dan tokoh Nahdlatul Ulama—Jawa Timur di Surabaya pada

22 Mei 2009. Intinya, mereka bulat mendukung Jusuf Kalla-Wiranto

sebagai presiden dan wakil presiden. 

Di bagian bawah selebaran itu terdapat tanda tangan 20 kiai

pengasuh pondok pesantren dan tokoh NU Jawa Timur. Di antaranya KH

Anwar Mansyur (Lirboyo, Kediri), KH Zainudin Jazuli (Ploso, Kediri), KH

Miftahul Akhyar (Surabaya), KH Abdullah Faqih (Langitan, Tuban), KH

Muchid Muzadi (Jember), dan KH Achmad Suba­dar (Besuk, Pasuruan). ”Kami

turut apa kata kiai,” kata Imam Hanifah, santri asal Purworejo. 



Namun kemenangan JK-Win sama sekali tak merembes ke luar

pondok. Di 10 TPS Kelurahan Lirboyo yang berjarak hanya sepelemparan

batu, SBY meraup 1.987 suara, Mega-Pro 895 suara, dan JK-Win hanya 239

suara. Padahal selama ini apa yang menjadi titah ulama Lirboyo,

termasuk dalam perkara politik, senantiasa diamini masyarakat sekitar. 



”Pondok dan kiai sekarang jauh dari kami,” kata Imam Subawi,

warga yang tinggal di sekitar Pondok Lirboyo. ”Santri dilarang beli

makanan di luar pondok, harus beli ke pengurus.” Bukan hanya soal

makanan. ”Kami juga sulit bertemu kiai untuk sekadar bertanya,” kata

Imam. ”Padahal tiap hari pejabat dengan mudahnya keluar-masuk rumah

kiai.” 



Mustofa, ketua takmir Mushola Al-Ikhlas, Kelurahan Sukorame,

yang berjarak 300 meter dari Lirboyo, membandingkan ulama Lirboyo

sekarang dengan figur KH Maksum Djauhari, pengasuh Lirboyo yang sudah

almarhum. ”Saat Gus Maksum masih hidup, masyarakat merasa terlindungi,”

kata dia. Tukang becak yang dirundung masalah bisa datang pukul berapa

pun. ”Gus Maksum juga tidak melarang santri membeli makanan ke warung

warga sekitar pondok.” 



JK-Win juga hanya berpendar di Pon­pes Salafiyah Syafi'iyah

Sukorejo, Situbondo. Di TPS 17 di lingkungan pondok, pasangan nomor

tiga itu merebut 300 suara, dua kandidat lainnya nol besar. Dari 18 TPS

yang tersebar di pondok, 13 TPS mutlak milik JK-Win. SBY-Boediono hanya

mendapat lima suara di lima TPS. Sedangkan Mega-Pro sama sekali tak ada

yang memilih. Total suara JK-Win dari pondok asuhan KH Achmad Fawaid

As'ad itu 5.295 suara. 



Sejam sebelum pencontrengan, santri dikumpulkan di Masjid

Ibrahimy. ”Kiai minta kami memilih Pak JK,” kata Andi, salah seorang

santri. KH Fawaid tak menampik adanya penggalangan santri. ”Santri itu

seperti anak saya, belajar bersama saya,” kata dia. ”Mereka harus

diarahkan, termasuk urusan capres-cawapres ini.” 



Tapi, di luar pondok lain lagi. Di TPS 01 yang berjarak sekitar

500 meter dari pesantren, SBY-Boediono meraup 119 suara, menang tipis

dari JK-Win yang mendulang 107 suara. Mega-Prabowo lumayan, mendapat 3

suara. Di TPS 33 dan 34 Dusun Gelidik, SBY-Boediono mendulang 263

suara, sedangkan JK-Win 128. Di empat desa sekitar pondok, Desa

Banyuputih, Sumberanyar, Sumberwaru, dan Wonorejo, SBY-Boediono unggul

dengan 10.002 suara, sedangkan JK-Win 3.613 suara hampir sama perolehan

suara Mega-Pro, 3.647 suara. ”Bukan karena kiai sudah tak didengar

masyarakat, tapi mungkin karena faktor DPT dan ancaman,” kata KH

Fawaid. Di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Pajarakan, Probolinggo, Kalla

bahkan hanya menang di sejumlah TPS di lingkungan pondok berusia 170

tahun itu. Di lingkungan sekeliling, SBY yang berjaya. 



Empat hari sebelum pencontrengan, istri JK, Mufidah Kalla,

berkunjung ke Genggong. Di hadapan calon ibu negara, pengasuh Pondok

Genggong KH Hasan Mutawakkil Alallah menyeru para santri dan masyarakat

Probolinggo memilih JK-Win. Seruan yang mendebarkan hati karena sang

kiai adalah Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nah­dlatul Ulama Jawa

Timur. 



Tokoh masyarakat Pajarakan, Mohammad Sulthon, menilai kekalahan

JK-Win di Genggong bermakna: dawuh (ucapan) kiai sudah tak dipatuhi

masyarakat sekitar, bahkan santrinya sendiri. ”Kini masyarakat lebih

sreg mengikuti kata hatinya sendiri,” kata Sulthon. 



Namun KH Mutawakkil Alallah seperti tak terbebani dengan

kekalahan kandidat pujaannya. Baginya, keka­lah­an JK-Win yang disokong

kiai justru menjadi penanda arus balik tata pergaulan politik kiai.

Ulama NU kembali solid setelah sempat terpecah-belah dalam berbagai

peristiwa politik, baik tingkat daerah maupun pusat. ”Meski suaranya

kecil, semua ulama NU di Jawa Timur mendukung Pak JK sebagai

satu-satunya kader NU dalam pemilihan presiden,” kata dia. ”Jadi, Pak

JK kalah dengan mulia dan terhormat.” 

Dwidjo U. Maksum, Hari Tri Wasono (Kediri), Ika Ningtyas (Situbondo), Mahbub 
Djunaidy (Probolinggo)

 Muhammad Mawhiburrahman

http://www.mmawhib. blogspot. com

--- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke