Pilpres,
Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin
 
Oleh Abd Moqsith Ghazali
 
 
 
 
Pilpres yang berlangsung 8 Juli 2009 lalu secara
umum berjalan lancar, aman dan damai. Ada tiga pasangan yang bertarung dalam 
pemilu presiden dan wakil presiden RI kali ini.
Masing-masing adalah Mega-Prabowo, SBY-Budiono, dan JK-Wiranto. Sekalipun KPU
belum mengumumkan hasilnya, berbagai lembaga survei telah menyimpulkan bahwa
pasangan SBY-Budiono tampil sebagai pemenang dengan dukungan suara 60 %.
Sementara di urutan kedua adalah Mega-Pro dengan suara kurang lebih 28 %, dan
yang ketiga adalah JK-Wiranto dengan perolehan suara sekitar 12 %.
Kekalahan telak JK-Wiranto ini di luar
perkiraan sebagian pihak. Sebab, publik tahu bahwa JK-Wiranto disokong oleh
berbagai ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Ratusan kiai dan pengasuh
pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah membubuhkan tanda tangan dukungan demi
kemenangan JK-Wiranto. Pernyataan dukungan kiai-kiai itu diedarkan ke
kantong-kantong NU. Dimana-mana direklamekan bahwa dalam tubuh Jusuf Kalla (JK)
telah mengalir darah NU. Karena itu, pantas dan bahkan seharusnya warga NU
menjatuhkan pilihan politiknya pada JK, bukan pada yang lain. Namun, exit
poll yang dilakukan LSI (Lembaga Survei Indonesia)
menunjukkan bahwa 60 % warga NU memilih SBY-Budiono. Suara JK-Wiranto hancur di
daerah-daerah basis NU seperti Bondowoso, Banyuwangi, Jember, Pasuruan, dan
Madura. Di Jawa Tengah juga setali tiga uang. 
Pertanyaannya, bagaimana kita meletakkan
kekalahan JK ini di tengah dukungan para kiai NU? Mungkinkah ada defisit
kharisma dan kian merosotnya otoritas ulama sehingga warga NU tak lagi
mendengarkan himbauan atau tawshiyah politik para kiai yang selama ini
menjadi panutan mereka? Penting diketahui bahwa dalam kurun lima belas tahun 
terakhir telah terjadi perubahan mendasar dalam diri warga NU seiring
dengan semakin membaiknya derajat keterdedahan mereka terhadap arus-arus
informasi. Kaum nahdliyyin sekarang kian rasional, cerdas, dan otonom. Dalam
urusan keagamaan mungkin mereka masih menyerahkan urusannya pada kiai. Pandangan
keislaman kiai masih dianggap sebagai sabda pandhita ratu. Tapi, dalam soal
ekonomi-politik dan sosial, kiai tak lagi menjadi acuan satu-satunya.
Jika puluhan tahun lalu kiai menjadi
jangkar dan referensi di berbagai kehidupan warga NU, maka beberapa tahun
terakhir terjadi diversifikasi rujukan. Jika sakit, mereka tak lagi ke kiai
melainkan ke dokter. Dalam soal politik pun, putusan dan pilihan politik kiai
hanya salah satu kompas untuk membaca peta. Mereka menentukan preferensi
politiknya setelah melakukan amatan berdasarkan data-data dan informasi yang
mereka kunyah dari berbagai sumber seperti televisi dan koran. Sekiranya
pilihan politik kiai sesuai dengan perhitungan politiknya, mereka akan
mengikutinya. Tapi, jika tak selaras, mereka tak ragu untuk menolak pilihan
politik sang kiai. Dalam soal politik, pendapat kiai tak lagi dipandang sebagai
doktrin agama yang mengikat, melainkan instrumen duniawi yang berguna sejauh
dibutuhkan.
Fenomena ini yang tampaknya tak segera
dipahami secara nastiti oleh para kiai pesantren dan pengurus NU, baik di pusat
maupun di daerah. Mereka menyangka bahwa warga NU hari ini sama belaka dengan
warga NU puluhan tahun lalu; warga NU yang illiterate dan lugu; warga NU
yang seluruh nafas dan jiwanya dipasrahkan (taslim) sepenuhnya pada kiai.
Dalam waktu lama, keluguan dan keterbelakangan nahdliyyin dipakai sebagai alat 
mobilisasi
politik dalam pemilu. Kini, dengan caranya sendiri, kaum nahdliyyin melakukan
koreksi dan kritik terhadap modus perpolitikan NU yang top-down dan satu
arah. Mereka tak menghendaki adanya dikte politik dari atas untuk memilih salah
satu pasangan tertentu. Mereka ingin diakui sebagai manusia merdeka yang bebas
menentukan arah politiknya sendiri.   
Ini adalah pertanda baik bagi kemajuan NU
di masa depan. Secara eksternal, kekalahan JK merugikan, tapi secara internal
sangat relevan bagi pengembangan kapasitas dan kemandirian kaum nahdliyyin.
Karena itu, kekalahan JK dalam konteks NU mestinya disyukuri bukan malah
diratapi. []  



   


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke