Dari Milist sebelah:

SAUDARA SERUMPUN (Kontribusi untuk Hubungan Indonesia-Malaysia) Share
Wed at 16:08
SAUDARA SERUMPUN
by : Heru Susetyo

(Writer's note : cerpen ini pernah dimuat di majalah Annida tahun 2008.

I hate Indon !
Malingsia !
I hate Indon !
Malingsia !
I hate Indon!
Malingsia !

Demikianlah Agung dan Rashid saling bertukar sapa apabila berpapasan di
kampus Thammasat University, Phra Chan, Bangkok. Agung adalah mahasiswa
Indonesia yang mendapat beasiswa pemerintah Thailand untuk studi Master
bidang Thai Studies. Rashid adalah juga penerima beasiswa yang sama,
namun ia berasal dari Johor, Malaysia. Agung dan Rashid bak pinang
dibelah dua. Ibarat kembar tidak identik. Ibarat Thompson dan Thomson
dalam komik Tintin. 

Hidup di Bangkok, dimana sangat sedikit menemukan manusia berbahasa
Melayu membuat mereka cepat akrab. Selalu pergi berdua kemana-mana
Apabila mereka berbeda jenis kelamin, mungkin sudah terjadi cinta
lokasi. 

Tapi itu dulu. Sebelum pelatih karate Indonesia digebuki di Selangor,
Malaysia. Sebelum Rasa Sayange dijadikan lagu pariwisata Malaysia.
Sebelum Malaysia menerima muntahan asap dari Sumatera dan Kalimantan.
Sebelum TKI tak terdaftar membanjiri dan menyulitkan pemerintah
Malaysia. 

Kini, Agung memandang Rashid bak maling. Dan Rashid memandang Agung bak
TKI tak terdaftar yang disebut pendatang haram di Malaysia. Diperburuk
lagi dengan lahirnya situs internet www.ihateindon. com dan
www.malingsia. com yang tak jelas siapa webmaster-nya. 

Yang lebih jelas adalah Agung terprovokasi. Ia tak suka disebut `Indon`
yang konon berkonotasi budak. "Panggil aku orang Indonesia, jangan
disingkat jadi `Indo` atau `Indon`." ujar Agus penuh emosi. Rashid juga
terprovokasi. "Janganlah awak sebut saya punya negeri Malingsia. Itu
adalah bahagian daripada jinayah. Penghinaan," tutur Rashid dalam logat
Johor yang lumayan kental. 

Maka `perceraian` pun terjadi. Agung dan Rashid `pisah ranjang.` Tak
melalui masa iddah. Langsung talak tiga. Tak ada lagi agenda
jalan-jalan ke Mahboonkrong dan pasar Chatuchak di Sabtu siang. Tak ada
lagi Shalat Jum`at bersama di Soi 7 Petchburi road. Tak ada lagi
jogging bersama di Suan Lumpini setiap Ahad pagi dan bersepeda ria di
Suan Rot Fai. Tak ada lagi agenda ber-badminton ria di KBRI Petchburi
Road dan bertennis ria di Malaysian Embassy Sathorn Tai road. Pusat
Perdagangan IT dan Computer di Panthip Plaza, juga kehilangan mereka.
Karena mereka emoh menginjak surga penikmat komputer ini apabila datang
berduaan.

(Kampus Thammasat University, Phra Chan Bangkok)
"Para mahasiswa sekalian. Saya ada kabar gembira. Sebagai bagian dari
kuliah kita, saya menugaskan anda untuk mengikuti simposium kebudayaan
di beberapa negara Asia. Ini adalah momentum terbaik untuk komunikasi
antar budaya setelah anda belajar budaya Thai selama dua semester,"
ujar Ajarn Surichai pada saat awal kuliah. "Ada beberapa universitas
yang mengadakan simposium pada waktu yang sama, yaitu Kyoto di Jepang,
Shanghai di China, Kaohsiung di Taiwan, Dubai di Emirat Arab, Istanbul
di Turki, Bandung di Indonesia dan Penang di Malaysia. Kalian akan
berangkat dengan biaya universitas. Biaya transportasi, akomodasi,
termasuk perdiem semua ditanggung universitas, " lanjut Ajarn Surichai
lagi. "Puji Tuhan," ujar Anita Chan, mahasiswa Singapura.
"Alhamdulillah ujar Rashid." "Mantap, jalan-jalan euy !" teriak Agung
pelan. 

Belum lagi Ajarn Surichai menuntaskan informasinya. Agung sudah menginterupsi. 
"Ajarn, saya pilih ke Kyoto. Saya ingin melihat ibukota tua Jepang itu
di musim gugur. Pasti cantik dengan banyaknya pohon yang memerah." 
Rashid tak mau kalah. "Ajarn Surichai, please kirim saya ke Istanbul.
Saya ingin menikmati Masjid Hagia Sophia dan warisan budaya Islam abad
pertengahan di Bumi Eropa.
" "Ajarn Surichai, saya pilih Dubai, kendati Emirat Arab adalah negeri
Islam, namun Dubai adalah kota termaju di dunia saat ini. Saya ingin
menikmati gedung tertinggi di dunia, Burj Al Dubai. Pasti asyik
memandang jazirah Arab dari ketinggian 800 meter," tutur Anita Chan
polos.

"Tidak. Saya yang memutuskan. Bukan kalian. Dan saya sudah memutuskan.
Michiko-san, karena anda orang Jepang anda saya kirim ke Shanghai.
Anita Chan, karena anda keturunan Tionghoa, anda saya kirim ke
Kaohsiung, Taiwan. So Young Park, karena kamu orang Korea Selatan, kamu
saya kirim ke Kyoto, Jepang. Hussein, karena kamu dari Yordania, kamu
saya kirim ke Istanbul. Naufal karena asli Yaman silakan pergi ke
Dubai, Emirat Arab. Dan anda berdua, wahai warga Melayu, karena bahasa
dan kultur anda nyaris sama silakan saling bertukar tempat. Agung, kamu
pergi ke Penang Malaysia. Dan kamu, Rashid, pergi simposium ke
Bandung," Ajarn Surichai menjelaskan dengan tenang.

Gubrak!!! Agung seperti tertimpa meteor dari Jupiter. "Tapi Ajarn, saya
tak ingin ke Malaysia," protes Agung. "Ajarn, saya juga emoh ke
Indonesia," protes Rashid. Keduanya lalu saling bertukar pandangan
sinis. "huh!" sungut Agung kepada Rashid. "Yikes!" balas Rashid kepada
Agung sambil melotot.
"Tidak, Agung dan Rashid. Saya sudah memutuskan. Silakan kemasi barang
kalian dan siap berangkat pekan depan. Hubungi Khun Waraporn di kantor
International Students untuk arrangement ticket dan akomodasi," jawab
Ajarn Surichai santai.
"I hate Indon!" sungut Rashid kepada Agung.
"Malingsia!" balas Agung tak mau kalah. 

(Bandara Bayan Lepas, Penang)
Dengan langkah gagah, sedikit arogan malah, Agung siap memasuki counter
imigrasi airport Bayan Lepas, Penang. Ia mengenakan dasi dan jas.
Sangat resmi. Entah terpengaruh cerita darimana. Ia sangat khawatir
dianggap TKI. "Apa pekerjaan Encik?" tanya petugas imigrasi ramah. "I
am an assistant professor in Indonesia, currently pursuing Master
degree in Thailand." Agung menjawab dalam bahasa Inggris. Sengaja, biar
dianggap intelek dan tidak disamakan dengan TKI, ujar Agung dalam hati.
Tapi sejatinya ia bukan asisten professor, mana ada asisten profesor
masih bergelar S1? "Nak berapa lama Encik Agung duduk di Malaysia,
untuk tujuan apa, sila dikemukakan ?" tanya sang petugas lagi. "Cik,
this is actually not your business to ask me such questions, anyway,
let me tell you that I am an honorable guest to give speech at
Universiti Sains Malaysia's workshop tomorrow." Jawab Agung sombong.
Dan juga bohong. Ia bukan pembicara kok. Hanya partisipan biasa. Sang
petugas hanya tersenyum simpul. "Oke Cik, ini paspor anda. Sebagai
ASEAN citizen encik boleh duduk di Malaysia untuk tiga puluh hari mulai
tarikh sekarang." Agung tersenyum menang. Berlalu dengan angkuh. Tanpa
berterima kasih pula. Rasain lu, ujarnya dalam hati.

(Bandara Husen Sastranegara, Bandung)
Rashid turun dari pesawat Airbus A320 Air Asia. Penuh dengan kebanggaan
ia menaiki maskapai pelopor low cost carrier milik Malaysia ini. Rasain
kamu Agung, katanya dalam hati. Kamu ke Penang dengan Air Asia. Aku
juga ke Bandung dengan Air Asia. Keduanya pesawat Malaysia. Mana ada
pesawat Indonesia terbang ke luar negeri. Mendarat di Eropa saja
dilarang.
Setelah satu kali transit di Kuala Lumpur, ia melanjutkan dengan direct
flight menuju Bandung. Kesan pertamanya mendarat di Bandung
adalah…berantakan. Bandara kok di tengah kota. Kotor. Hmmm, mereka
harus melihat KL International Airport yang super megah dan Kota baru
Putrajaya yang sangat multimedia-equipped , ujar Rashid dalam hati. 
"Apa pekerjaan Bapak dan untuk keperluan apa ke Bandung?" tanya petugas
imigrasi ramah. Ia menggunakan bahasa Indonesia karena paham orang di
depannya adalah warganegara Malaysia. Sebenarnya Rashid ingin menjawab
dalam bahasa Indonesia. Namun ia ingin meyakinkan orang di depannya
bahwa ia warga negara terhormat negeri tetangga. " I am an assistant
professor. I was invited to give speech at a workshop organized by
Padjajaran University," Rashid menjawab dalam bahasa Inggris. Tentu
saja bohong. Kata siapa ia asisten professor. Memang di Universiti
Teknologi Malaysia Skudai-Johor, ia sudah tercantum sebagai calon
asisten magang. Masih magang sebagai calon asisten. Bukan Asisten
Professor.
"Oh, welcome to Bandung Encik. Here is your passport," lanjut petugas
imigrasi lagi. "Thank you!" jawab Rashid penuh kemenangan. Sebenarnya
ia bisa saja menjawab `terima kasih`, namun egonya menahannya untuk
mengucapkan kalimat tersebut. 

(Di dalam Taksi Menuju USM Penang)
"Friend, please take me to USM!" ujar Agung kepada supir taksi yang
menunggu di luar Bandara Bayan Lepas. Tetap menggunakan bahasa Inggris.
Biar terkesan intelek. "Oh sila Bang, nak conference –kah?" supir taksi
menjawab dalam bahasa Melayu. Tahu bahwa tampang penumpangnya ini
tampang Melayu. "Yes I am an honorable professor from Indonesia. I am
here to give speech at USM," jawab Agung lagi. Tetap sombong. Dan tetap
bohong. "Ah, seronok sekali Encik. Saya keturunan daripada Cina, tapi
saya punya famili di Jakarta, Semarang, dan Surabaya," ujar sang supir
tanpa ditanya. Emang gua pikirin, jawab Agung dalam hati. 

Belum lama beranjak dari Bayan Lepas Agung terkesiap. Ia baru sadar
bahwa sejak masuk taksi tadi sang supir tengah menikmati lagu 'Ada Apa
Denganmu' dari Peterpan. Sepanjang perjalanan ia mengangguk-anggukka n
kepalanya dan bersiul mengikuti suara Ariel Peterpan. Usai hits
Peterpan diputar, ia menggantinya dengan hits Ratu. Kini ia
bersiul-siul mengikuti suara Maia Ahmad dan Mulan Kwok dalam Teman Tapi
Mesra (TTM). "Hey friend, why do you sing Indonesian songs, because of
me?" Tanya Agung penasaran. "Tak lah Cik, lagu Indonesia sangat famous
disini. Ramai budak-budak belia Malaysia senang dengan grup muzik
daripada Indonesia. Lebih kreatif dan enerjik. Tak sama lah dengan
lagu-lagu daripada Malaysia. Tarikh 17 Disember nanti di Menara KOMTAR
(Komplek Tunku Abdul Razak –pen.) Penang nak ada perfomance dari Dewa
19. Saya nak datang lah, nak jumpa Ahmad Dhani dan Once Dewa." "Hah!!!"
Agung kaget sendiri. 

(Di dalam Taksi Menuju Unpad Bandung)
"Bro, please take me to UNPAD campus, Dipati Ukur!" ujar Rashid
sesegera setelah keluar dari Bandara Husen Sastranegara. "Apa Tuan,
maaf saya tak bisa bahasa Inggris. Memang Tuan bukan orang Indonesia?"
kok wajah Tuan mirip orang Sunda?" tanya supir taksi polos. Dasar
Indon, bahasa Inggris saja tidak bisa, sungut Rashid dalam hati.
Sementara orang Malaysia saja sekarang sudah ada yang jadi kosmonot.
Ikut misi luar angkasa Rusia Oktober lepas, tambah Rashid dalam hati.

"Saya orang Malaysia, sekarang tolong bawa saya ke kampus UNPAD Dipati
Ukur!" jawab Rashid dalam bahasa Indonesia yang lancar. Ia menekankan
betul kalimat "Saya orang Malaysia." "Oh orang Malaysia. Apa kabar
Encik? Istri saya sekarang kerja di Alor Setar, Kedah. Jadi maid di
rumah orang Cina." tambah supir taksi. "Oh ya?" hanya itu respon
Rashid. Datar. Tak heran lah kalau Indon jadi maid, ramai Indon jadi
maid di Malaysia, ujar Rashid, tentu saja dalam hati.

Selepas dari Bandara Husen Sastranegara, barulah Rashid sadar bahwa
sedari tadi sang supir memutar tembang Cindai, yang dilagukan Siti
Nurhaliza. Usai Cindai, Siti melantunkan lagu Jika karya Melly Goeslaw
berduet dengan Ari Lasso. Usai Jika, Siti berduet dengan Ariel Peterpan
dalam tembang Mungkin Nanti. Supir Sunda ini menikmati betul suara
Siti. "Heh Bang, jangan kerana saya daripada Malaysia, awak mainkan
lagu Siti Nurhaliza!" kata Rashid geram. "Tak lah Cik, sebelum Encik
masuk teksi saya, saya sudah setel lagu Siti. Saya penggemar berat
Siti. Dan bukan hanya saya, ribuan orang Indonesia senang dengan Siti
Nurhaliza. Kerana ia berbusana sopan dan tentu saja, cantik ala
Melayu," sergah supir taksi. "Dan asal encik tahu saja, apabila nanti
Encik jumpa dengan mahasiswa UNPAD, tanya saja siapa muslimah idola
mereka. Pasti mereka jawab Nurul Izzah, putri mantan Wakil Perdana
Menteri Malaysia Anwar Abraham yang cantik namun nampak shalihah itu,"
lanjut supir taxi. "Hah!!!" Rashid tak percaya. Ternyata Siti Nurhaliza
dan Nurul Izzah lebih popular di Indonesia daripada di Malaysia.

(Conference Room, USM – Penang)
Di tengah-tengah rehat workshop, Agung duduk semeja dengan lima orang
Malaysia. Mereka semua adalah dosen di USM Malaysia. "Darimana Cik, oh
daripada Indonesia, apa kabar? saya juga pernah studi di ITB Bandung
ketika studi sarjana mechanical engineering dulu," ujar Dosen I. "Ah
dari Indonesia, piye kabare, Mas? saya punya famili di Kebumen dan
Purworejo. Grandfather saya berasal dari Jawa, tapi ayah saya hijrah ke
Johor, Malaysia. Hingga saya lahir di Malaysia dan jadi citizen
Malaysia. Jadi maaf saya tak boleh cakap bahasa Jawa," ujar Dosen II.
"Darimana Bang, oh Indonesia. Gimana akhbar Dian Sastro dan Nia
Ramadhani? Saya penggemar mereka kerana saya senang movie dan Sinetron
Indonesia, lebih kreatif dari film Malaysia!" tambah Dosen III.
"Darimana Pak, ah Indonesia, ahlan wasahlan fi Penang. Saya punya dua
anak sekarang belajar di pondok pesantren Gontor. Satu di Pesantren
putra di Ponorogo, satu lagi di pesantren putri Mantingan, Ngawi," ujar
Dosen IV penuh kebanggaan. "Darimana Bang, Ah Indonesia. Saya kagum
betul dengan demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Kami tak
bebas berdemo dan unjuk rasa di Malaysia kerana ada Internal Security
Act (ISA)," ujar Dosen V yang juga aktivis LSM.

(Ruang Konferensi UNPAD, Bandung)
Usai workshop, Rashid duduk semeja dengan lima Dosen UNPAD.
Berbasa-basi menunggu waktu shalat maghrib. "Darimana Kang, oh
Malaysia. Apa kabar? Saya juga alumni Malaysia. Saya studi di
Universiti Sains Malaysia Penang untuk Master, dan International
Islamic University Malaysia di Gombak untuk Doktor," ujar Dosen I.
"Darimana, Mas, oh Malaysia. Wilujeng Sumping. Saya juga alumni
Malaysia. Saya tamat Master dari UKM Malaysia bidang medical. Satu
angkatan dengan Dr. Muszaphar Shukor, kosmonot Malaysia pertama yang
terbang ke luar angkasa melalui misi luar angkasa Rusia. Hebat sekali
Malaysia sudah bisa mengirim orang ke langit luar. Indonesia sudah dua
puluh tahun punya calon astronot, tapi tak kunjung berangkat dengan
NASA, " ujar Dosen II."Darimana Pak, ah Malaysia. Selamat Datang.
"Terus terang… dosen ini berbisik di telinga Rashid lalu melanjutkan
kalimatnya… "Saya adalah penggemar berat Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah
Anwar Ibrahim. Saya sempat patah hati ketika mereka menikah di usia
muda.", ujar Dosen III. Rashid tersenyum geli lalu berkata dalam hati.
Benar kata si supir taksi. Tapi ternyata tidak hanya mahasiswa,
dosen-pun ternyata penggemar berat kedua puan Malaysia ini. "Darimana
Pak, Ah Malaysia, saya sering ke Malaysia dan kagum betul dengan KLIA ,
Menara Petronas- KLCC , dan MRT di KL. Dahysat !" ujar Dosen IV. "Where
are you from, Sir, ah Malaysia. Ahlan wasahlan! Saya pengguna setia
mobil Proton Malaysia di Bandung, murah tapi tangguh!" lanjut Dosen V.

(Masjid Negeri Penang, Air Itam)
Usai workshop. Agung menunaikan shalat jama qashar di Masjid Negeri
Penang, Air Itam. Agung melihat banyak jama`ah shalat menggunakan
sarung Samarinda. Juga lima kelompok anak kecil sedang mengaji Al
Qur`an dibimbing seorang Ustadz. Penasaran, Agung mendekati. Ah rupanya
mereka menggunakan metode Qira`ati dari Indonesia. Ini dimana sih,
Penang atau Jakarta? Agung jadi bingung sendiri. 

(Masjid UNPAD, Dipati Ukur)
Usai workshop, Rashid menunaikan shalat jama qashar di masjid UNPAD,
Dipati Ukur. Usai shalat, sayup-sayup didengarnya satu grup mahasiswa
berlatih Nasyid Raihan dengan riangnya. Demi Masa, Ashabul Kahfi,
Senyum, dan sederet Nasyid Raihan mereka lafazkan dengan lancarnya.
Seusai Raihan, mereka melantunkan nasyid Secerah Pewarna dari The Dzikr
Al Arqam. Juga dengan lancar. Raihan dan The Dzikr-Al Arqam adalah dua
grup nasyid dari Malaysia yang kini sudah mulai jarang dilagukan oleh
mahasiswa Malaysia. Rashid jadi ragu sendiri, benarkah aku sekarang
sedang di Bandung?

(Flight Air Asia Penang-Bangkok) 
Di dalam Boeing 737-400 yang membawanya ke Bangkok. Tiba-tiba Agung
merasa malu jadi orang Indonesia. Pesawat yang membawanya di-delay take
off selama enam jam karena bandara diliputi asap pekat. Tanpa bertanya
pada siapapun Agung sudah tahu bahwa asap tersebut berasal dari
pembakaran hutan di Sumatera. Ia lebih malu lagi ketika buang air kecil
di tandas (toilet) bandara. Karena ia menjumpai banyak kata-kata jorok
dan vulgar dalam bahasa Indonesia dituliskan di pintu tandas.
Menyediakan cewek-lah, gigolo lah, dan lain-lain. Dan ia yakin
penulisnya orang Indonesia, karena bahasa yang digunakan khas Jakarta
dan juga khas Medan. Dan ia semakin malu ketika membaca kepingan berita
di koran Utusan Malaysia yang berbahasa Melayu. "Banjir besar terjadi
di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, Indonesia. Kerajaan Malaysia
mengirim tim medis daripada jabatan kesihatan aam dan daripada Bulan
Sabit Merah Malaysia untuk menolong mangsa banjir di Jakarta dan
sekitarnya." 

(Flight Air Asia Bandung-Kuala Lumpur-Bangkok)
Di dalam Airbus A 320 yang mengantarnya ke Bangkok. Tiba-tiba Rashid
jadi malu sebagai orang Malaysia. Shame on me!, ujarnya berulangkali.
Ia baru saja membaca Koran REPUBLIKA bahwa ada banyak TKW Indonesia
yang pulang ke Indonesia dalam keadaan babak belur. Disiksa oleh
majikannya di Kuching, Johor, ataupun Penang. Razia pasukan RELA
(polisi swasta Malaysia) juga semakin ganas. Mereka tak segan menangkap
dan menyiksa orang Indonesia. Sering terjadi kasus salah tangkap.
Dikira TKI ternyata pelajar ataupun eksekutif Indonesia. Dan Rashid
menjadi semakin malu ketika pada koran yang sama ia menemukan berita :
"Banjir besar terjadi di Johor, Pahang, dan Kelantan. Korban tewas
puluhan orang. Pemerintah Indonesia dan Palang Merah Indonesia
mengirimkan Tim Medis, obat-obatan dan bantuan sandang pangan untuk
menolong korban banjir"

(Bandara Suvarnabhumi, Bangkok)
Agung bertemu Rashid di ruang pengambilan bagasi bandara Suvarnabhumi.
Pesawat Agung dari Penang berselisih sepuluh menit saja dengan pesawat
Rashid dari Kuala Lumpur. Awalnya mereka sama-sama kaget dan ingin
membuang muka. Namun tak sempat lagi karena sudah begitu dekat.
Akhirnya mereka sama-sama berucap, "Assalamualaikum, sawasdee khap,
sabai dee mai?" .

Mereka tertawa sendiri karena mengatakan kalimat yang sama secara
bersamaan. Selanjutnya mereka berbasi-basi sejenak sebelum akhirnya
Agung berkata jujur : "Rashid, ternyata Malaysia tak begitu buruk. Aku
bertemu banyak orang baik di Penang. Malaysia memang Truly Asia."
"Sama, Gung, Indonesia juga tak begitu buruk. Aku merasa feel at home
di Bandung. Indonesia memang Bhinneka Tunggal Ika," Rashid berkata sama
jujurnya . "Kalau begitu, bagaimana kalau kita "pacaran" lagi nih?"
tantang Agus. "Siapa takut?" jawab Rashid sambil terbahak dan menonjok
bahu sahabatnya itu. 

"I hate Indon!" Teriak Agung.
"Malingsia!" Balas Rashid.
Tak jelas,siapa orang Indonesia dan siapa orang Malaysia. 

Mahidol, Salaya 20 Desember 2007


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke