PD amat sih dagang itu melulu...wong faktanya di beberapa negara sudah 
terbukti mulai dilarang kok masih juga gak sadar


syamsuddin wrote:
>  
>
> Haram Berdiam Diri Dari Menegakkan Khilafah Dengan Alasan Menunggu 
> Imam Mahdi
>
> Dalam kitab “Masâil Fiqhiyyah Mukhtârah”, cetakan kedua (2008), karya 
> Syaikh Abu Iyas Mahmud Abdul Lathif bin Mahmud (Uwaidhah), terdapat 
> jawaban atas pertanyaan seputar Imam Mahdi dan aktivitas untuk 
> menegakkan Khilafah. Mengingat pentingnya masalah ini, maka tulisan 
> ini kami persembahkan kepada para pengunjung situs agar semua dapat 
> mengambil faedah darinya, in sya’ Allah, jika Allah SWT berkehendak.
>
> Pertanyaannya: Tidak sedikit di antara kaum Muslim—khususnya mereka 
> yang masih kental dengan kehidupan beragama—yang menyakini bahwa 
> Khilafah akan kembali tegak. Dan Khilafah yang akan tegak kembali itu 
> adalah Khilafah ‘ala minhaji an-nubuwah, Khilafah yang sesuai dengan 
> metode kenabian, yang mereka maksudkan dengan itu adalah Khilafah 
> Rasyidah. Namun, aku tidak melihat mereka itu melakukan aktivitas 
> untuk menegakkan Khilafah ini. Apabila mereka ditanya tentang alasan 
> mengapa mereka berdiam diri (tidak melakukan) aktivitas menegakkan 
> Khilafah, maka mereka menjawab bahwa Imam Mahdi-lah kelak yang akan 
> menegakkannya. Dan sebelum datangnya Imam Mahdi, Khilafah tidak akan 
> pernah tegak. Oleh karena itu, tidak perlu menyeru mereka untuk 
> beraktivitas menegakkan Khilafah. Sehingga, pertanyaannya: Apakah 
> Khilafah akan tegak secara nyata; dan apakah Imam Mahdi yang akan 
> menegakkannya?
>
> Jawab: Sesungguhnya pernyataan bahwa Khilafah akan tegak adalah 
> pernyataan yang benar, yang ditunjukkan oleh banyak sekali hadits dari 
> Nabi SAW, dan hadits-hadits itu semuanya shahih atau hasan. Mengingat, 
> hadits-hadits itu tidak ada yang mutawatir, maka masalah ini tidak 
> boleh dijadikan sebagai sebuah keyakinan. Sehingga, pernyataan bahwa 
> kaum Muslim meyakini bahwa Khilafah akan tegak adalah pernyataan yang 
> tidak benar. Sebab, keyakinan itu harus dibangun berdasarkan ayat 
> Al-Qur’an atau hadits mutawatir. Sementara berdirinya Khilafah 
> terdapat dalam hadits-hadits shahih dan hasan, bukan hadits mutawatir. 
> Sehingga, tidak boleh menjadikan berdirinya kembali Khilafah sebagai 
> sebuah keyakinan. Namun, kami membenarkan akan berdirinya kembali 
> Khilafah dengan pembenaran yang tidak pasti; kami katakan bahwa 
> Khilafah akan tegak kembali dengan izin Allah. Berikut ini 
> hadits-hadits terkait masalah tersebut:
>
> Pertama. Dari Sauban radhiyallahu ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah SAW:
>
> إِنَّ اللهَ زَوَى لِي اْلأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا 
> وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا 
> زُوِيَ لِي مِنْهَا
>
> “Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. 
> Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. 
> Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan 
> (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
>
> Sabda beliau, “umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah 
> dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku” belum terrealisasikan hingga 
> sekarang. Sebab, kaum Muslim belum pernah menguasai bumi mulai ujung 
> Timur hingga ujung Barat hingga sekarang. Dan ini akan terjadi di masa 
> yang akan datang. Sehingga ini menjadi isyarat akan berdirinya negara 
> bagi kaum Muslim yang akan menaklukkan bumi mulai dari ujung Timur 
> bumi hingga ujung Baratnya.
>
> Kedua. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu berkata: Aku telah mendengar 
> Rasulullah SAW bersabda:
>
> إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ 
> بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ 
> اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
>
> ”Jika kalian telah berjual-beli dengan cara ’înah (penjualan secara 
> kredit dengan tambahan harga); dan kalian telah mengambil ekor sapi, 
> lalu kalian (lebih) suka bertani, hingga kalian meninggalkan jihad, 
> maka (ketika itu) Allah menimpakan kepada kalian kehinaan, Allah tidak 
> akan mecabutnya sampai kalian kembali ke agama kalian.” (HR. Abu Dawud)
>
> Sabda beliau, ”sampai kalian kembali ke agama kalian” artinya adalah 
> sampai kalian kembali melaksanakan ajaran agama, dan menerapkannya 
> untuk semua urusan kehidupan kalian. Dengan demikian, hadits ini 
> merupakan bisyârah (kabar gembira) dari Rasulullah SAW bahwa kaum 
> Muslim akan kembali lagi menerapkan agamanya secara kâffah, 
> menyeluruh, setelah sebelumnya mereka meninggalkannya.
>
> Ketiga. Dari Abu Qabil yang berkata: Kami berada di sisi Abdullah bin 
> Amr bin Al-Ash radhiyallahu ’anhu. Lalu, ia ditanya tentang manakah di 
> antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau 
> Roma. Kemudian ia mengambil kotak yang ada hiasannya, ia mengeluarkan 
> surat dari katak tersebut, ia berkata: Abdullah Berkata, ”Pada saat 
> kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW 
> ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, 
> Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW bersabda:
>
> مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ
>
> ”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” 
> (HR. Ahmad)
>
> Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang penaklukkan dua kota, 
> Konstantinopel dan Rumiyah—yaitu Roma ibu kota Italia—beliau tidak 
> menafikan (membantah) penaklukkan Roma. Namun beliau hanya mengatakan 
> bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan pertama. Ini menunjukkan bahwa 
> Roma akan ditaklukkan setelahnya. Sementara hingga saat ini, Roma 
> belum ditaklukkan oleh kaum Muslim. Dengan demikian, hadits ini 
> merupakan bisyârah (kabar gembira), bahwa kaum Muslim akan menaklukkan 
> ibu kota Italia tersebut. Dan tidak terbayangkan bahwa kaum Muslim 
> akan menaklukkannya sebelum kembalinya Khilafah yang menghidupkan 
> kembali jihad di jalan Allah dan penaklukkan kota (melakukan futuhat).
>
> Keempat. Dari Nu’man bin Basyir, dari Hudzaifah radhiyallahu ’anhu 
> berkata: Rasulullah SAW bersabda:
>
> تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا 
> إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ 
> تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ 
> أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا 
> شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا 
> شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ 
> يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً 
> فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ 
> ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى 
> مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
>
> “Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak 
> Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia 
> berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah 
> berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, 
> kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk 
> mengakhirinya. Kemudia akan ada fase penguasa yang zalim. Dengan 
> kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, 
> jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa 
> diktator. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan 
> mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Selanjutnya 
> akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian 
> belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani)
>
> Hadits ini menjelaskan bahwa Khilafah akan tegak kembali setelah fase 
> penguasa yang zalim (mulkan ’adhan), dan fase penguasa diktator 
> (mulkan jabariyan). Dan Khilafah yang akan tegak itu adalah Khilafah 
> ‘ala minhaji an-nubuwah, Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, 
> yakni Khilafah yang menilai dirinya seperti Khilafah pada masa 
> Khulafaur Rasyidin. Sehingga dengan izin Allah, Khilafah yang akan 
> tegak adalah Khilafah Rasyidah. Inilah jawaban untuk pertanyaan 
> masalah pertama. Sedangkan jawaban untuk pertanyaan masalah kedua 
> adalah sebagai berikut:
>
> Sesungguhnya, sekalipun hadits-hadits an-nabawiyah asy-syarîfah 
> menyebutkan bahwa Al-Mahdi akan menegakkan Khilafah, maka hal ini 
> tidak menunjukkan bahwa kaum Muslim wajin menunggu Al-Mahdi sampai 
> Al-Mahdi mendirikan Khilafah untuk mereka. Apa yang diwajibkan atas 
> mereka tetap wajib, yaitu menegakkan Khilafah. Menegakkan Khilafah di 
> samping wajib atas Al-Mahdi, wajib pula atas kaum Muslim selain dia. 
> Sehingga, mereka yang masih kental dengan kehidupan beragama, seperti 
> yang digambarkannya, tidak punya hujjah (alasan) yang dapat mereka 
> jadikan dasar untuk berdiam diri, tidak beraktivitas untuk menegakkan 
> Khilafah, hanya dengan mengajukan pernyataan bahwa Al-Mahdi yang akan 
> menegakkan Khilafah, sebagaimana hal itu tampak dengan jelas. Oleh 
> karena itu, mereka yang masih beragama, namun berdiam diri, tidak 
> beraktivitas menegakkan Khilafah, maka mereka berdosa, akibat sikapnya 
> yang berdiam diri, tidak berbuat apa-apa, dan Allah juga akan meminta 
> pertanggungjawaban mereka atas sikap diamnya ini. Konsekwensinya, jika 
> mereka mati sebelum tegaknya Khilafah, maka ia mati seperti matinya 
> kaum jahiliyah (mati dalam keadaan berdosa). Sebab, ada riwayat dari 
> Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu yang berkata: Aku telah mendengar 
> Rasulullah SAW bersabda:
>
> مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ 
> لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ 
> بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
>
> “Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada 
> hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal 
> sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati 
> jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim).
>
> Sementara itu, orang yang selamat dari mati jahiliyah adalah 
> orang-orang yang beraktivitas menegakkan Khilafah. Oleh karena itu, 
> wahai orang-orang yang masih beragama waspadalah agar jangan sampai 
> kalian mati jahiliyah, yang tentu kalian tidak menginginkannya. Ini 
> yang pertama.
>
> Kedua, sesungguhnya hadits-hadits an-nabawiyah asy-syarîfah tidak 
> secara mutlak menyebutkan bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan 
> Khilafah, karena banyak sekali hadits yang meriwayatkannya. Sedangkan, 
> masing-masing hadits yang disebutkan semuanya menunjukkan bahwa 
> Al-Mahdi adalah seorang Khalifah yang baik dan memerintah dengan adil. 
> Misalnya sabda Rasulullah SAW:
>
> الْمَهْدِيُّ مِنِّي أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى اْلأَنْفِ يَمَْلأُ اْلأَرْضَ 
> قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا 
> وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ
>
> “Al-Mahdi itu dari keturunanku, wajahnya tampan, dan hidungnya 
> mancung. Ia akan memenuhi bumi dengan kebaikan dan keadilan. Dimana 
> sebelumnya, bumi dipenuhi dengan kekejaman dan ketidak adilan. Dan ia 
> berkuasa selama tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud)
>
> Sehingga, dalam hal ini, nama nash yang mereka jadikan dalil bahwa 
> Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah? Justru kami memiliki nash yang 
> menolak pemahaman bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah. Dan 
> nash ini menjelaskan bahwa Al-Mahdi akan menjadi Khalifah setelah 
> meninggalnya Khalifah sebelumnya. Sehingga, ini menegaskan bahwa 
> Khilafah akan tegak sebelum Al-Mahdi menjadi Khalifah. Al-Mahdi adalah 
> Khalifah yang menggantikan Khalifah sebelumnya dalam daulah Khilafah 
> Rasyidah yang—tidak lama lagi—akan datang (berdiri) dengan izin Allah. 
> Sekali lagi, ini menegaskan bahwa Al-Mahdi bukan orang yang menegakkan 
> Khilafah. Dengan begitu, gugurlah hujjah (alasan) mereka untuk berdiam 
> diri, tidak beraktivitas, dan hanya menunggu Al-Mahdi, yang menurut 
> klaim mereka bahwa Al-Mahdi inilah yang akan menegakkan Khilafah untuk 
> mereka.
>
> Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ’anha berkata: Aku 
> mendengar Rasulullah SAW bersabda:
>
> يَكُونُ اخْتِلافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي 
> هَاشِمٍ فَيٌّاتِي مَكَّةَ، فَيَسْتَخْرِجُهُ 
> النَّاسُ مِنْ بَيْتِهِ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالمَقَامِ، فَيُجَهَّزُ إليهِ جَيْش 
> مِنَ الشَّامِ حَتَّى إذَا كَانُوا 
> بالبَيْدَاءِ خُسِفَ بِهِمْ، فَيَأتِيْهِ عَصَائِبُ العِرَاقِ وأبْدَالُ 
> الشَّامِ: ويَنْشئا رَجُلٌ بالشَّامِ 
> أَخْوالُهُ مِنْ كَلْبٍ، فَيُجَهَّزُ إليهِ جَيْش، فَيَهْزِمُهُمُ الله، 
> فَتَكُونُ الدَّائِرَةُ عَلَيْهِمْ، فَذَلِكَ 
> يَوْمُ كَلْبٍ، الخَائِبُ مَنْ خَابَ مِنْ غَنِيْمَةِ كَلْبٍ، فَيَسْتَفْتِحُ 
> الكُنُوزَ، وَيَقْسِمُ أَلامْوَالَ 
> وَيُلْقِي إلاسْلاَمُ بِجَرَانِهِ ِإلى أَلارْضِ، فَيَعِيْشُونَ بِذَلِكَ سَبْعَ 
> سِنينَ أو قال: تِسْعَ.
>
> “Terjadi perselisihan ketika meninggalnya seorang Khalifah. Kemudian, 
> seorang dari Bani Hasyim (Al-Mahdi) keluar pergi ke Makkah. Masyarakat 
> membawanya (Al-Mahdi) keluar rumah menuju antara ar-rukn (hajar aswad) 
> dan al-maqâm (maqam Ibrahim ‘alaihissalam). Sementara, dari Syam telah 
> disiapkan pasukan untuk menyerangnya, namun ketika mereka berada di 
> al-Baida’ (sebuah tempat antara Makkah dan Madinah), mereka semua 
> ditenggelamkan (oleh Allah). (Melihat karamahnya itu), beberapa 
> kelompok dari Irak, dan para wali (Abdal) dari Syam mendatanginya 
> (untuk berbaiat). Seseorang di Syam yang ibunya dari Bani Kalb, 
> menyiapkan pasukan untuk menyerangnya, kemudian Allah-pun mengalahkan 
> mereka, sehingga bencana pun menimpa mereka, maka hari itu merupakan 
> hari kekalahan bagi Bani Kalb. Bahkan, orang yang menyesal adalah 
> orang yang tidak berhasil mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) 
> Bani Kalb. Kemudian, ia (Al-Mahdi) membuka berbagai harta simpanan, 
> membagi-bagi harta, menyampaikan (mendakwahkan) Islam ke 
> wilayah-wilayah sekitarnya. Masyarakat hidup bersama (Al-Mahdi) itu 
> selama tujuh tahun, atau sembilan tahun.” (HR. Ath-Thabarani dalam 
> Al-Ausath, Al-Haitsami menyebutnya dalam Majma’uz Zawâij, ia berkata 
> “semuanya rawinya adalah para rawi yang shahih).
>
> Hadits ini disepakati oleh para rawi hadits dan pensyarahnya bahwa 
> Khalifah yang dimaksud dalam hadits ini adalah Al-Mahdi (Imam Mahdi). 
> Hadits ini merupakan nash yang sharîh (gamblang) bahwa Khalifah (Imam 
> Mahdi) ini datang menggantikan Khalifah sebelumnya, “Terjadi 
> perselisihan ketika meninggalnya seorang Khalifah. Kemudian, seorang 
> dari….” Dengan demikian, Imam Mahdi bukan orang yang akan menegakkan 
> Khilafah, dan ia juga bukan Khalifah pertama dalam negara Khilafah 
> Rasyidah—yang tidak lama lagi—akan tegak dengan izin Allah. Sehingga 
> yang tersisa di depan setiap orang Muslim adalah kekhawatiran dan 
> ketakutan dari mati jahiliyah, mati dalam keadaan berdosa. Oleh karena 
> itu, tidak ada jalan lain, selain bangkit dengan penuh semangat 
> beraktivitas untuk menegakkan kembali Khilafah, dan mengangkat seorang 
> Khalifah. Wallahu a’lam bish-shawab.(www. http://www.al-aqsa.org 
> <http://www.al-aqsa.org>)
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 

Kirim email ke