waduh itulah antiknya mufrodat arab... kata maula bisa artinya tuan bisa artinya pembantu tapi kalau dloruri ini hmm perasaan memang artinya terpaksa sementara deh.. kalau diartikan urgent syarahnya gimana hayo? sukarno urgent untuk didukung... gimana ya? ntar tak tanyakan sama yg nu sepuh deh On Thu, 10 Dec 2009 01:54:49 -0800 (PST) sofwan nadi <[email protected]> wrote: > Ada satu yang perlu diperhatikan, mengenai makna >Ad-dlorurot atau ad-dlorury yang dimaknai Mas Syam dengan >SEMENTARA. > Pemaknaan yang saya dapat dari Allahumma Yarham KH Fuad >Hasyim BUKAN dengan makna SEMENTARA, melainkan dengan >makna URGENT, penting. Tolong Mas Syam konfirmasi ke para >Masyayikh di Jatim yang mengenal betul dengan sejarah NU. >Terima kasih. > > > > > ________________________________ >From: syamsuddin <[email protected]> > To: [email protected] > Sent: Tue, December 8, 2009 8:59:21 AM > Subject: [kmnu2000] KH Hasyim Asy’ari dan NU: Pejuang >Syariah > > > KH Hasyim Asy’ari dan NU: Pejuang Syariah > > Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, > Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari >nenek > moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. > Ayahnya bernama Kiai Asy’ari, pemimpin Pesantren Keras > yang berada di sebelah selatan Jombang. Kakeknya, Kiai > Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang > santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. > Ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren > Tambakberas di Jombang. > > Sejak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra >ketiga > dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari > ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar >untuk > menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. > Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, sejak usia 15 > tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren >lain; > mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo) >, > Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis > (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). > > Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah > haji dan menimba ilmu di Makkah. Di sana ia berguru >kepada > Syaikh Ahmad Khatib dan Syaikh Mahfudh at-Tarmisi, >gurunya > di bidang hadis. > > Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air, ia singgah di >Johor, > Malaysia, dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia >tahun > 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di > Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan > terpenting di Jawa pada Abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai > Hasyim Asy’ari memosisikan Pesantren Tebuireng sebagai > pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional. Di > pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, > tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar >membaca > huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi > pengetahuan umum, berorganisasi dan berpidato. > > Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh >Islam > tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul > Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini > berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim > Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi >NU, > bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan > dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. > > Cikal-bakal berdirinya perkumpulan para ulama yang > kemudian menjelma menjadi Nahdhatul Ulama (Kebangkitan > Ulama) tidak terlepas dari sejarah Khilafah. Ketika itu, > tanggal 3 Maret 1924, Majelis Nasional yang bersidang di > Ankara mengambil keputusan, “Khalifah telah berakhir > tugas-tugasnya. Khilafah telah dihapuskan karena >Khilafah, > pemerintahan dan republik, semuanya menjadi satu >gabungan > dalam berbagai pengertian dan konsepnya.” > > Keputusan tersebut mengguncang umat Islam di seluruh > dunia, termasuk di Indonesia. Untuk merespon peristiwa > itu, sebuah Komite Khilafah (Comite Chilafat) didirikan >di > Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua >Wondosudirdjo > (kemudian dikenal dengan nama Wondoamiseno) dari Sarikat > Islam dan wakil ketua KH A. Wahab Hasbullah dari >golongan > tradisi (yang kemudian melahirkan NU). Tujuannya untuk > membahas undangan kongres Kekhilafahan di Kairo (Bandera > Islam, 16 Oktober 1924). > > Kemudian pada Desember 1924 berlangsung Kongres al-Islam > yang diselenggarakan oleh Komite Khilafah Pusat >(Centraal > Comite Chilafat). Kongres memutuskan untuk mengirim > delegasi ke Konferensi Khilafah di Kairo untuk > menyampaikan proposal Khilafah. Setelah itu, diadakan >lagi > Kongres al-Islam di Yogyakarta pada 21-27 Agustus 1925. > Topik Kongres ini masih seputar Khilafah dan situasi >Hijaz > yang masih bergolak. Kongres diadakan lagi pada 6 >Februari > 1926 di Bandung; September 1926 di Surabaya, 1931, dan > 1932. Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang >melibatkan > Sarikat Islam (SI), Nahdhatul ulama (NU), Muhammadiyah >dan > organisasi lainnya menyelenggarakan Kongres pada 26 >Februari sampai 1 Maret 1938 di Surabaya. Arahnya adalah > menyatukan kembali umat Islam. > > Meskipun pada awalnya, Kongres Al-Islam merupakan wadah > untuk mengatasi perbedaan, pertikaian dan konflik di > antara berbagai kelompok umat Islam akibat perbedaan > pemahaman dan praktik keagamaan menyangkut persoalan > furû’iyah (cabang), seperti dilakukan sebelumnya pada > Kongres Umat Islam (Kongres al-Islam Hindia) di Cirebon > pada 31 Oktober-2 November 1922. Namun, pada >perkembangan > selanjutnya, lebih difokuskan untuk mewujudkan persatuan > dan mencari penyelesaian masalah Khilafah. > > Lahirnya NU sendiri, yang merupakan kelanjutan dari >Komite > Merembuk Hijaz, yang tujuannya untuk melobi Ibnu Suud, > penguasa Saudi saat itu, untuk mengakomodasi pemahaman > umat yang bermazhab, jelas tidak terlepas dari sejarah > keruntuhan Khilafah. Ibnu Suud sendiri adalah pengganti > Syarif Husain, penguasa Arab yang lebih dulu membelot >dari > Khilafah Utsmaniyah. Jadi, secara historis lahirnya NU > tidak terlepas dari persoalan Khilafah. > > Di sisi lain, NU sejak kelahirannya tidak berpaham >sekular > dan tidak pula anti formalisasi. Bahkan NU memandang > formalisasi syariah menjadi sebuah kebutuhan. Hanya >saja, > yang ditempuh NU dalam melakukan upaya formalisasi > bukanlah cara-cara paksaan dan kekerasan, tetapi > menggunakan cara gradual yang mengarah pada penyadaran. > Hal ini karena sepak terjang NU senantiasa berpegang >pada > kaidah fiqhiyah seperti: mâ lâ yudraku kulluh lâ yutraku > kulluh (apa yang tidak bisa dicapai semua janganlah > kemudian meninggalkan semua); dar’ al-mafâsid muqaddamun > ‘ala jalb al-mashâlih (mencegah kerusakan lebih > didahulukan daripada mengambil kemaslahatan) . > > Sejarah NU menjadi bukti bahwa sejak kelahirannya NU > justru concern pada perjuangan formalisasi Islam. Dalam > kerangka ini NU pernah mengukuhkan pemerintah Soekarno > sebagai waliyy al-amri adh-dharûri bi asy-syawkah. >Adanya > pengukuhan ini merupakan kebutuhan syar’i yang terkait > dengan masalah perwalian pernikahan, khususnya wali >hakim, > di mana hanya sah apabila diangkat oleh pemerintah yang > sah pula secara syariah. Dalam kasus ini pemerintah > Soekarno untuk sementara masih dapat ditoleraransi >sebagai > pemerintah yang sah secara syariah. Namun, karena >sifatnya > yang belum kâffah maka dikatakan adh-dharûri. Penggunaan > kata adh-dharûri (sementara) yang disifatkan pada kata > waliyy al-amri menunjukkan adanya pengakuan, bahwa >proses > perjuangan menuju formalisasi syariah belum selesai. > Karena itu, upaya menuju ke arah yang lebih sempurna >masih > terus dilakukan. Hal ini dapat dicermati dari sepak > terjang NU pada masa-masa berikutnya seperti perjuangan >NU > yang dipimpin KH Bisri Samsuri melalui fraksi PPP yang > mengegolkan UU Perkawinan serta menolak penetapan aliran > kepercayaan sebagai agama. [Ainul Yaqin, Warga NU, >Aktivis > Lembaga Kajian Islam Hanif (L-Jihan)/Sidogiri. com] > ============ ========= ========= ========= ========= >========= ========= ========= ========= ========= >========= ========= ========= ==== > > Segera nikmati Free Trial 60 hari Protector Postpaid >layanan keamanan online bagiPelanggan Speedy. > Info lebih lanjut hubungi 147 atau http://protector. >telkomspeedy. com > > ============ ========= ========= ========= ========= >========= ========= ========= ========= ========= >========= ========= ========= ==== > >Flexi - Gratis bicara sepanjang waktu se-Jawa Barat, >Banten dan DKI Jakarta. > > Speedy - Gratis internetan unlimited dari pkl. 20.00 s/d >08.00 se-Jabodetabek, Banten, Karawang dan Purwakarta. > > ============ ========= ========= ========= ========= >========= ========= ========= ========= ========= >========= ========= ========= ==== > > Raih Paket Umroh, Notebook, XBOX, Ipod Touch dan banyak >hadiah lain di http://netkuis. telkom.net Netkuis >Ramadhan 1430H > persembahan Telkom > > ============ ========= ========= ========= ========= >========= ========= ========= ========= ========= >========= ========= ========= ==== > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
============================================================================================================================ Segera nikmati Free Trial 60 hari Protector Postpaid layanan keamanan online bagiPelanggan Speedy. Info lebih lanjut hubungi 147 atau http://protector.telkomspeedy.com ============================================================================================================================
