Ada baiknya bercermin dari keteladanan cerita berikut ini
(dari teman)

--- Pada Ming, 21/2/10, Mr. Ali Rama <[email protected]> menulis:

Dari: Mr. Ali Rama <[email protected]>
Judul: [indoatiium] Cerita dari Kelantan
Kepada: [email protected], "Gombak" <[email protected]>
Tanggal: Minggu, 21 Februari, 2010, 11:41 PM

  Sebuah sharing pengalaman dari Kang Abik, semoga bermanfaat.. ...

Cerita dari Kelantan  
Wednesday, 17 February 2010  
Siang
itu,14 Februari 2010,saya mendarat di Bandara Kota Bharu, Negeri
Kelantan. Saya datang ke Kelantan atas undangan Departemen Penerangan
Kerajaan Negeri Kelantan,sebagai pembicara ahli dalam acara talkshow
berjudul, Selebriti Sebagai Ikon Masyarakat dalam momen Festival
Hiburan Islami. 
Juga diundang untuk memberi
kuliah umum di Masjid Kerajaan. Tiba di bandara panitia sudah datang
menjemput.Mereka terdiri dua orang gadis dan dua orang lelaki. Ramah
dan baik. Saya langsung diajak untuk menemui tokoh paling dihormati di
Negeri Kelantan, yaitu seorang ulama kharismatik yang juga menjabat
sebagai Menteri Besar Kerajaan Negeri Kelantan,yaitu Tuan Guru Dato’
Haji Nik Abdul Aziz Bin Nik Mat. 
Di rumah
dinas, tempat Menteri Besar biasa menerima tamu, para wartawan dari
media cetak dan elektonik telah menunggu.Ternyata di sana sudah datang
terlebih dahulu seorang artis dan penyanyi terkemuka Malaysia yang kini
setia mengenalkan jilbab, yaitu Wardina Shafiyyah. Tuan Guru Nik Abdul
Aziz menyambut dengan senyum yang mengembang. 
Kharismanya
sebagai seorang ulama tampak jelas.Sayangnya beliau tidak bisa
berlama-lama menemani. Sebab saya datang memang terlambat. Saya sampai
di Kota Bharu pukul 12 siang lebih,yang semestinya dijadwalkan pukul 11
siang.Penyebab keterlambatan itu adalah pesawat Malaysian Air Lines
yang tidak tepat waktu.Semestinya terbang dari KLIA ke Kota Bharu pukul
10.00 ternyata baru terbang pukul 11.20. Saya dijadwalkan bertemu dan
berbincang dengan Menteri Besar Tuan Guru Nik Abdul Aziz pukul
11.00,dan beliau ternyata sudah menunggu sejak pukul sebelas. 
Beliau
pun masih setia menunggu sampai saya datang. Hanya saja tidak bisa
berlama-lama menemani,sebab ada tamu lain yang juga harus beliau temui.
Sementara beliau menemui tamu yang lain, saya yang baru datang diminta
untuk menyantap hidangan makan siang bersama Wardina Shafiyyah dan
suaminya.Sebelum makan siang, para wartawan minta konferensi
pers.Banyak pertanyaan yang diajukan seputar perkembangan perfilman di
Indonesia.
Ada juga yang bertanya tentang proses
pembuatan film berkarakter seperti Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat Ayat
Cinta. Saya sempat menunggu-nunggu adakah wartawan yang akan menanyakan
hal berkaitan dengan Manohara. Sebab saya sedang berada di tempat
Manohara pernah membuat kisah yang banyak mendapat perhatian di
Indonesia.Ternyata tidak ada satu pun yang menyinggung masalah
itu.Semuanya fokus menanyakan segala hal yang berkaitan dengan seluk
beluk perfilman dan sastra. 
Adzan dhuhur
berkumandang, Menteri Besar mengajak shalat berjamaah. Saya tidak ikut
karena ada bagian dari pakaian saya yang kotor, saya memilih untuk
menjama’ shalat dengan jama’ ta`khir.Selesai shalat berjamaah Menteri
Besar kembali menemui saya. Kami berbincang- bincang sebentar. Lalu
bagian dokumentasi Kerajaan Negeri Kelantan meminta saya berfoto
bersama Menteri Besar Tuan Guru Nik Abdul Aziz. 
Setelah
itu panitia mengajak saya langsung ke acara inti yaitu talk show di KB
Mall Kota Bharu Kelantan. Panitia memberi tahu pengunjung telah
membludak.Saya meminta pengertian panitia untuk membawa saya ke hotel
dulu.Sebab saya baru tiba dari bandara, saya perlu cuci muka dang anti
pakaian.
Sebenarnya sejak awal saya ingin ke
hotel dulu dan berpakaian lebih rapi ketika bertemu dengan Tuan Guru
Nik Abdul Aziz. Tetapi waktu tidak memungkinkan, Tuan Guru sudah lama
menunggu. Akhirnya saya ikut saja. Maka ketika saya diajak langsung ke
KB Mall, saya minta pengertian panitia. Dan mereka setuju. Saya dibawa
ke Kelantan Trade Centre untuk membersihkan badan dan ganti pakaian.
Acara talk show di KB Mall berjalan hangat.Pengunjung membludak. 
Yang
unik adalah background panggung dan hiasan Mall seratus persen
bernuansa China. Karena hari itu memang bertepatan tahun baru China.
Akan tetapi acara sesungguhnya adalah Festival Hari Hiburan Islam.
Dalam acara itu tampak jelas kerinduan masyarakat Malaysia akan
hadirnya film-film Islami di Malaysia. Masyarakat Malaysia mengakui
dalam hal kreatifitas pembuatan film Islami pun Malaysia masih
tertinggal beberapa langkah dari Indonesia. 
Mereka
takjub dengan yang terjadi di Indonesia.Mereka merindukan adanya audisi
pemilihan bintang film yang bermoral seperti yang dilakukan di
Indonesia melalui film Ketika Cinta Bertasbih. Hari berikutnya, saya
menyempatkan diri melihat rumah kediaman Menteri BEsar sederhana dan
paling bersih di Malaysia. Saya memang ingin melihat langsung seperti
apa rumah tokoh besar yang namanya tercatat dalam 50 tokoh Islam
berpengaruh didunia dan dimuat dalam buku berjudul ”The 500 Most
Influential Muslims” yang dieditori oleh Prof. John L Esposito dan Prof
Ibrahim Kalin. 
Rumah MEnteri BEsar Nik Abdul
Aziz memang biasa saja, sama dengan umumnya rakyat Malaysia. Rumah itu
ada di samping masjid, berada di komplek lembaga pendidikan yang
didirikannya. Tak ada penjaga.Tak ada protokoler.Tak ada polisi yang
tampak. Benar-benar biasa. 
Siapa pun bisa
menemui Menteri BEsar ini jika beliau ada di rumah. Siang itu beliau
tidak ada di rumah. Saya memang tidak membuat janji untuk itu. Saya
ditemui salah satu putra beliau yang juga bersahaja. Dari cerita
orang-orang Kelantan, ternyata Menteri Besar Dato` Nik Abdul Aziz
dikenal orang yang sangat dekat dengan segala lapisan masyarakat. Ada
kebiasaan unik yang dilakukan pemimpin paling kharismatik di Malaysia
ini. 
Setiap hari Jumàt, tepatnya setelah shalat
shubuh, Menteri Besar yang juga ulama besar ini selalu menyediakan diri
menjadi tukang cukur bagi rakyatnya. Maka tak heran, jika setiap hari
Jumàt, masyarakat berdatangan shalat shubuh di masjid beliau, dan
beliau yang menjadi imam shalat. Selesai shalat shubuh puluhan orang
bersiap diri untuk dicukur rambutnya oleh beliau. Dan beliau melakukan
hal itu dengan penuh rasa sayang pada rakyatnya. 
Kebiasaan
beliau yang lain. Selama ada di kantornya,jika bukan untuk urusan
Negara maka beliau akan mematikan semua fasilitas yang ada di sana.
Misalnya jika dia harus shalat pada waktu malam, karena shalat adalah
urusan pribadi dan bukan urusan Negara,dia mematikan lampu dan AC yang
ada di ruangannya. Kepribadian ini mengingatkan pada kepribadian Umar
bin Abdul Aziz. 
Tak heran jika Dato` Nik Abdul
Aziz ini,pada tahun 1998 dinobatkan oleh Gerakan Rakyat Anti Korupsi
(GERAK) sebagai Menteri Besar - kalau di Indonesia sepadan dengan
gubernur- yang memiliki reputasi paling bersih di Malaysia.Anugerah itu
diberikan sebagai penghargaan atas usaha beliau menentang gejala bentuk
suap dan korupsi selama memerintah Negeri Kelantan selama hampir 18
tahun. 
Tiga hari saya berada di Malaysia, dan
saya menjumpai betapa cintanya penduduk Kelantan pada Tuan Guru
mereka,kepada ulama mereka yang juga menjadi Menteri Besar mereka. Ada
kalimat Tuan Guru Dato` Haji Nik Abdul Aziz yang diingat selalu oleh
rakyatnya, yaitu, ”Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu
menyatukan hati banyak orang. Bukan pemimpin yang hanya mampu
menggunakan kekuasaannya untuk membatasi ini dan itu.
”
Selama tiga hari juga,saya masih penasaran kenapa tidak satu orang pun
yang menyinggung Manohara. Akhirnya pada suatu jamuan makan bersama
beberapa panita, salah seorang dari mereka menanyakan kasus Manohara.
Dia bertanya, apakah citra Kelantan sedemikian buruk di Indonesia. Saya
jawab,mungkin iya.Tampak dia agak sedih.
Saya
lalu balik bertanya sebenarnya bagaimana masyarakat Kelantan memandang
kasus Manohara? Orang itu menjawab,mayoritas masyakarat Kelantan tidak
tahu menahu tentang kasus Manohara. Tidak ada beritanya sama sekali di
Kelantan.Dan itu juga bukan urusan pihak Kerajaan Negeri Kelantan,
tetapi itu urusan dalam rumah tangga Istana Raja. Dia sendiri memandang
tidak ada yang bisa dibenarkan dalam kasus Manohara.Menurut dia
keduaduanya salah. Dia berkata,”Mereka bertemu secara tidak
baik-baik,dan berpisah juga dengan tidak baikbaik. 
Itu
masalah dua anak kecil yang tidak baik,tetapi disangkutpautkan dengan
negara.’ Paling tidak mendengar hal itu, saya telah mengetahui satu
sudut pandang masyarakat Kelantan tentang kasus itu. Kenyataan yang
saya temui, masyarakat awam Melayu Kelantan sangat menghargai bangsa
Indonesia. Dan masih mengakui Indonesia sebagai bangsa besar. 
Seorang
di antara mereka dengan jujur mengatakan kepada saya, ”Indonesia adalah
ikon Islam di Asia Tenggara.Jika Indonesia tegak, maka umat Islam di
Asia Tenggara termasuk Malaysia tegak. Jika Indonesia runtuh yang lain
juga akan runtuh.” 


Habiburrahman El Shirazy 
Budayawan Muda, Penulis Novel Ketika Cinta Bertasbih 
 Ali Rama
Master Student in Economics
International Islamic University Malaysia
+60126832319



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke