Dengan berbekal kejuuran, keichlasan, dan wawasan pikir & emosi yang 
bagus...maka ebenarnya setiap local government SANGAT SEPANTASNYA membentuk 
"Tim Khusus Pemantau Orang Orang Berjasa Kepada Bangsa & Negara". Tugasnya 
selain mencatat segala /data (secara pro-active bukan sekedar menunggu), juga 
menangani, mengayomi, peduli berat, membantu menyelesaikan masalah kehidupan 
pihak yang berjasa itu (Veteran Pejuang, Juara juara/tokoh Olahraga, Seni 
Budaya, Ilmu Pengetahuan, Pendidikan dan bidang bidang lainnya).

Dana-nya ? APBD, sebagian dari APBN, sebagian dari bantuan langsung masyarakat, 
sebagian dari kegiatan insidetil....   
Petugasnya ? sebagian birokrat, sebagian tokoh perorangan sipil/militer yang 
berdedikasi tinggi, LSM dan sejenismya....

Kita terlalu sering mendengar berita menyedikan seperti ini yang menimpa para 
sodare kite dari kalangan veteran pejuang, olahraga, seni dan 
sebagainya...harusnya kita malu terhadap sistim bernegara kita yang tidak atau 
sangat LEMAH pedulinya thd hal hal demikian ....  para penyelenggara negara 
lokal/pusat jangan berlindung pada segala kelemahan yang ada dirinya......tapi 
buatlah sistim yang akan bisa menjalankan suatu kegiatan serius, sistim yang 
bisa meningkatkan sikap peduli bangsa & negara pada mereka tsb diatas.....

Salam,


  ----- Original Message ----- 
  From: rini kusdianti 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, October 24, 2008 5:30 PM
  Subject: [HISTORIA-INDONESIA] (unknown)



  Mba Astri,
  Saya sedih baca berita ini, masak pejuang yg sdh membantu kemerdekaan RI 
sekarang msh harus berjuang memikirkan tempat tinggal?
  Mungkin dari historia bisa berbuat sesuatu?
  Misalnya buat surat ke Foke & goverment agar Pak Ilyas bisa punya rumah 
tinggal
  Atau ide spy ada sponsor ...  yg mau membantu Pak Ilyas?

  Salam Historia
  Rini Kusdianti

------------------------------------------------------------------------------
  From: astri rahadi <[EMAIL PROTECTED]>
  To: komunitas historia <[email protected]>; budaya tionghoa 
<[EMAIL PROTECTED]>
  Cc: petrosea <[EMAIL PROTECTED]>
  Sent: Thursday, October 23, 2008 11:10:03 AM
  Subject: [HISTORIA-INDONESIA] (unknown)



  Rumah Pejuang Ilyas Karim di Pinggir Rel akan Digusur 
  Shohib Masykur - detikNews


  (Foto: Shohib Masykur/detikcom) 

  Jakarta - Masalah demi masalah masih mendera Ilyas Karim di usia tuanya. 
Pejuang yang mendapat gelar kehormatan 'Veteran Pejuang Kemerdekaan RI' itu 
akan menjadi korban gusur. Rumahnya yang berada di pinggir rel Kalibata Jakarta 
Selatan akan digusur pada 2009. 

  "Saya mau diusir dari sini. Surat pemberitahuannya sudah ada di lurah. Tahun 
2009 saya harus sudah pergi," kata Ilyas Karim, pengibar bendera Sang Saka 
Merah Putih pada 17 Agustus 1945 saat ditemui detikcom di rumahnya, Jl. 
Rawajati Barat, Kalibata, Jaksel, Selasa (12/8/2008).

  Perintah pengusiran Ilyas datang dari Gubernur DKI Fauzie Bowo yang ingin 
membangun rumah susun milik pemerintah di lapangan dekat rumah Ilyas. 
Konsekuensinya, Ilyas dan sekitar 40 KK yang lain harus "dibersihkan" .

  "Dia (Foke) mau di lapangan depan dibangun rumah susun. Yang akan membangun 
Menko Kesra Abu Rizal Bakrie," tutur Ilyas.

  Akibat penggusuran itu, sekarang Ilyas kebingungan hendak pindah ke mana. Dia 
mengaku tidak memiliki tanah lagi di tempat lain. Sedangkan untuk pindah ke 
rumah salah seorang anaknya, Ilyas mengaku tidak leluasa karena gangguan usia.

  "Saya sudah tua. Repot kalau harus pindah-pindah, " kata Ilyas.

  Menurut Ilyas, dia sudah memberi tahu pihak PTKA rencana penggusuran dirinya. 
Pihak PTKA mengaku tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan itu datang dari 
pemerintah.

  "Kami tidak mengusir Bapak. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa karena yang 
mengusir pemerintah," kata Ilyas menirukan petugas dari PTKA. Ilyas membangun 
rumah di tanah PT KA sejak 1985. PT KA memang mengizinkan tanah itu digunakan 
Ilyas sampai kapan pun. 

  (sho/asy) 





   

Kirim email ke