bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menghormati jasa para pahlawan dan sejarahnya....itu kalimat yang sering kita dengar dari berbagai orasi tentang sejarah...namun hanya segelintir orang yang percaya, peduli, dan melakukan hal itu....sisanya???? hanya isapan jempol semata.....kasus ilyas karim inilah salah satu buktinya.....mungkin masih banyak pejuang lainnya yang akan mengalami hal serupa....untuk itulah langkah nyata kita sebagai pemerhati sejarah diperlukan.....meskipun kecil, tapi dapat berarti.....mungkin kita dapat menyebarkan berita tersebut ke blog2 yang menjadi pusat perhatian masyarakat banyak....mungkin juga ke friendster, atau blog2 lainnya...... atau kita bisa bikin petisi kepada pemerintah agar mereka sadar akan langkah berbahaya yang mereka ambil...... sekian dulu saran saya.....mungkin dapat membantu......
salam historia!!!! arthur --- On Mon, 27/10/08, AbSjam99 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: AbSjam99 <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [HISTORIA-INDONESIA] (unknown) To: [email protected], [EMAIL PROTECTED] Date: Monday, 27 October, 2008, 5:10 AM Dengan berbekal kejuuran, keichlasan, dan wawasan pikir & emosi yang bagus...maka ebenarnya setiap local government SANGAT SEPANTASNYA membentuk "Tim Khusus Pemantau Orang Orang Berjasa Kepada Bangsa & Negara". Tugasnya selain mencatat segala /data (secara pro-active bukan sekedar menunggu), juga menangani, mengayomi, peduli berat, membantu menyelesaikan masalah kehidupan pihak yang berjasa itu (Veteran Pejuang, Juara juara/tokoh Olahraga, Seni Budaya, Ilmu Pengetahuan, Pendidikan dan bidang bidang lainnya). Dana-nya ? APBD, sebagian dari APBN, sebagian dari bantuan langsung masyarakat, sebagian dari kegiatan insidetil... . Petugasnya ? sebagian birokrat, sebagian tokoh perorangan sipil/militer yang berdedikasi tinggi, LSM dan sejenismya.. .. Kita terlalu sering mendengar berita menyedikan seperti ini yang menimpa para sodare kite dari kalangan veteran pejuang, olahraga, seni dan sebagainya.. .harusnya kita malu terhadap sistim bernegara kita yang tidak atau sangat LEMAH pedulinya thd hal hal demikian .... para penyelenggara negara lokal/pusat jangan berlindung pada segala kelemahan yang ada dirinya..... .tapi buatlah sistim yang akan bisa menjalankan suatu kegiatan serius, sistim yang bisa meningkatkan sikap peduli bangsa & negara pada mereka tsb diatas..... Salam, ----- Original Message ----- From: rini kusdianti To: komunitashistoria@ yahoogroups. com Sent: Friday, October 24, 2008 5:30 PM Subject: [HISTORIA-INDONESIA ] (unknown) Mba Astri, Saya sedih baca berita ini, masak pejuang yg sdh membantu kemerdekaan RI sekarang msh harus berjuang memikirkan tempat tinggal? Mungkin dari historia bisa berbuat sesuatu? Misalnya buat surat ke Foke & goverment agar Pak Ilyas bisa punya rumah tinggal Atau ide spy ada sponsor ... yg mau membantu Pak Ilyas? Salam Historia Rini Kusdianti From: astri rahadi <[EMAIL PROTECTED] com> To: komunitas historia <komunitashistoria@ yahoogroups. com>; budaya tionghoa <budaya_tionghua@ yahoogroups. com> Cc: petrosea <arahadiputri@ petrosea. com> Sent: Thursday, October 23, 2008 11:10:03 AM Subject: [HISTORIA-INDONESIA ] (unknown) Rumah Pejuang Ilyas Karim di Pinggir Rel akan Digusur Shohib Masykur - detikNews (Foto: Shohib Masykur/detikcom) Jakarta - Masalah demi masalah masih mendera Ilyas Karim di usia tuanya. Pejuang yang mendapat gelar kehormatan 'Veteran Pejuang Kemerdekaan RI' itu akan menjadi korban gusur. Rumahnya yang berada di pinggir rel Kalibata Jakarta Selatan akan digusur pada 2009. "Saya mau diusir dari sini. Surat pemberitahuannya sudah ada di lurah. Tahun 2009 saya harus sudah pergi," kata Ilyas Karim, pengibar bendera Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945 saat ditemui detikcom di rumahnya, Jl. Rawajati Barat, Kalibata, Jaksel, Selasa (12/8/2008). Perintah pengusiran Ilyas datang dari Gubernur DKI Fauzie Bowo yang ingin membangun rumah susun milik pemerintah di lapangan dekat rumah Ilyas. Konsekuensinya, Ilyas dan sekitar 40 KK yang lain harus "dibersihkan" . "Dia (Foke) mau di lapangan depan dibangun rumah susun. Yang akan membangun Menko Kesra Abu Rizal Bakrie," tutur Ilyas. Akibat penggusuran itu, sekarang Ilyas kebingungan hendak pindah ke mana. Dia mengaku tidak memiliki tanah lagi di tempat lain. Sedangkan untuk pindah ke rumah salah seorang anaknya, Ilyas mengaku tidak leluasa karena gangguan usia. "Saya sudah tua. Repot kalau harus pindah-pindah, " kata Ilyas. Menurut Ilyas, dia sudah memberi tahu pihak PTKA rencana penggusuran dirinya. Pihak PTKA mengaku tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan itu datang dari pemerintah. "Kami tidak mengusir Bapak. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa karena yang mengusir pemerintah," kata Ilyas menirukan petugas dari PTKA. Ilyas membangun rumah di tanah PT KA sejak 1985. PT KA memang mengizinkan tanah itu digunakan Ilyas sampai kapan pun. (sho/asy)
