Ibu Indarti yang terhormat,

Saya terus terang "terkesan" dengan posting-posting Anda.  Posting pertama
Anda mencoba memecah-belah dan melakukan dikotomi secara kasar antara PTS
dengan PTN.  Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya terhadap rekan-rekan
yang lain yang tidak saya ketahui 'background' akademisnya, pernyataan Anda
telah disanggah oleh dua orang dari pihak-pihak yang dicoba diadu domba oleh
Anda.  Saya sendiri yang pertama menyanggah posting Anda, saya adalah
sarjana 'fresh graduate' dari Universitas Trisakti dan sanggahan kedua
berasal dari bung Martin Manurung, seorang aktivis mahasiswa dari
Universitas Indonesia.

Saya sebisa mungkin mencoba menghargai pendapat-pendapat Anda, tapi cobalah
Anda hargai juga pendapat orang lain, bukankah penghargaan terhadap pendapat
orang lain secara dewasa juga merupakan parameter intelektualitas seseorang.
Kata-kata "hanya mengandalkan dengkul saja" sepertinya terlalu sering Anda
lontarkan tanpa indikasi yang jelas.  Kecurigaan bukan berarti tidak
berotak.  Cara-cara rejim Orde Baru selama tiga dasawarsa lebih yang masih
digunakan oleh rejim Habibie-Wiranto boneka Soeharto, memang mengakibatkan
timbulnya kecurigaan yang memang saya akui kadangkala cenderung berlebihan,
tapi tidak ada salahnya daripada menyesal di kemudian hari, bukan?  Anda
benar, kecurigaan yang berlebihan dapat menyebabkan benturan-benturan antar
pergerakan mahasiswa itu sendiri dan itulah yang diinginkan oleh pihak
penguasa.

Walaupun status saya sudah bukan mahasiswa sejak akhir bulan Oktober yang
lalu, namun saya masih sering mengikuti aksi-aksi yang dilakukan oleh
junior-junior saya.  Saya yakin bahwa mereka bukanlah mahasiswa yang cuma
bisa bicara saja seperti tuduhan Anda, darimana Anda membuat asumsi
se-negatif itu.

Kesebelan Rakyat terhadap aksi mahasiswa?  Hmm..  menarik juga untuk
dibahas.  Bahwa aksi-aksi mahasiswa mempunyai ekses-ekses negatif berupa
kemacetan jalan, itu benar dan saya himbau juga agar rekan-rekan mahasiswa
meminimalisasi hal tersebut dengan menyisakan sedikitnya setengah badan
jalan.  Pada aksi-aksi terakhir, saya lihat hal ini juga sudah dilakukan.
Namun kalau jalanan macet karena diblokir aparat, jangan salahkan mahasiswa,
dong.  Lagipula saya melihat bahwa masyarakat tidaklah secengeng itu dan
mereka kebanyakan masih mendukung aksi mahasiswa.  Terakhir, saya masih
menyaksikan tidak hanya masyarakat golongan bawah yang menyambut antusias,
tapi ada seorang pekerja profesional menggenakan stelan jas dan mengendarai
mobil BMW secara spontan melemparkan sebungkus rokok ke atas bus yang
digunakan untuk arak-arakan mahasiswa.  Yang lebih menarik, setelah diambil
beberapa batang, rokok itu diberikan pada sepasukan Marinir yang berjaga.
:-)  Saya kira aksi-aksi mahasiswa seluruhnya masih non-violence.  Kalau ada
pengaduan dari intel cengeng yang protes akibat pemukulan dan diamankan oleh
mahasiswa, saya kira cukup lucu.  Kalau tidak siap menerima resikonya,
jangan jadi intel dong!

Satu hal lagi, kalau Anda menggunakan harian "Republika" sebagai referensi,
saya bisa menebak paradigma berpikir Anda. :-)

Saya menunggu respon Anda.  Semoga Anda mau menanggapi posting saya,
walaupun saya hanya seorang Sarjana baru dari perguruan tinggi swasta yang
selama ini selalu Anda anggap hanya mengandalkan dengkul saja. :-)

Salam Reformasi total..
Salam Revolusi Indonesia..

Hormat saya,



SIGIT WIDODO
===============
Vox Populi Vox Dei
===============
Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan!
Hapuskan militerisme di Indonesia!



Indarti Sudiro wrote:


Ini makin menjadi bukti, bahwa mereka seperti yg menuduh saya memang
tidak mampu memberikan suatu argumen yg ilmiah. Malahan saya berani
bertaruh, mereka sebagai mahasiswa cuma bisa bicara saja, dan bila
ditugaskan oleh dosennya utk membuat paper, bisa dijamin paper mereka
seperti anak SMA sekarang yg doyannya tawuran. Saya juga menjadi sangsi,
bila mereka membaca referensi penuh utk makalah mereka, sebab mereka
sendiri nggak ngerti apa itu catatan kaki, referensi, dll dan apa
kegunannya.
Well, anda2 yg sok mau membela rakyat Indonesia, saya mau lihat apa sih
yg sudah anda perjuangkan setelah Soeharto jatuh? Anda justru lebih gila
daripada Soeharto, karena dgn aksi2 anda rakyat tidak lebih baik seperti
yg ingin anda perjuangkan. Malahan yg ada cuma kesebelan semata akibat
aksi2 anda itu. Saya sangat yakin, bila anda tidak menempuh cara lain yg
efektif dan strategis dengan mengedepankan kekuatan intelektual dan
moral sebagai ciri utama kekuatan mahasiswa, maka lambat laun anda akan
ditinggalkan. Mungkin anda yg congkak ini tidak berpikir sejauh yg saya
kemukakan. Tapi langkah anda justru akan mencoreng gerak langkah para
mahasiswa yg rasional dan lebih mengedepankan cara2 non-viollence!!!
Anyway, kalau anda yakin dan memang cara anda benar, ya monggo saja.
Masak iya sich, seorang seperti INDARTI SUDIRO mampu merusak kekuatan
mahasiswa. Kalau anda memang menilai INDARTI memang bisa, wuah..... saya
sangat menghargai sanjungan anda. Besok saya akan datang ke Wiranto, dan
meminta imbalan dari dia, karena saya sudah berjasa kepada dia.

Salam Reformasi Damai,
INDARTI SUDIRO

Indarti Sudiro also wrote:

>
>Setelah mengamati perilaku beberapa oknum aktivis mahasiswa Forkot,
>Famred, dll, ternyata saya melihat beberapa perilakunya tidak berbeda
>dengan rezim ORBA. Persis seperti pinang dibelah dua, walaupun berada di
>pihak yang berlawanan. Jika perilakunya sepe rti itu, saya khawatir
>negara
>Indonesia ini tidak akan pernah berkembang jadi lebih baik. Berikut
>fenomena yang saya lihat:
>Nampaknya mahasiswa Forkot, Famred, dll yang dimotori oleh mahasiswa
>Universitas Katolik Atmajaya dan Universitas Kristen Indonesia meniru
>perilaku rezim ORBA dalam gerakannya. Saya bukannya menjelek-jelekkan
>mahasiswa, tapi memang ada oknum mahasiswa yan g brengsek seperti tukang
>nyontek, tukang tawuran, suka mengintimidasi temannya, dll. Lagi pula
>bukankah para pejabat pemerintah sekarang dulunya juga mahasiswa,
>misalnya
>Abdul Gafur, Cosmas Batubara, dll yang merupakan aktivis mahasiswa yang
>berdemo menu mbangkan rezim Sukarno.
>Contoh perilaku mereka yang seperti rezim ORBA adalah mengagung2kan
>gerakan mereka dan menghina2 gerakan pendahulunya. Dulu ORBA
>mengagung2kan
>ORBA dan menghina ORLA, sekarang Reformasipun begitu, mereka
>mengagung2kan
>Reformasi dan menghina ORBA. Jika ORB A menjuluki lawan2nya sebagai
>Komunis, Islam Ekstrim, Fundamentalis, dll, maka Reformasi menjuluki
>lawan2nya sebagai anti reformasi, antek ORBA, dll untuk membungkam
>perbedaan pendapat.
>Kemudian jika aparat ORBA menculik aktivis mahasiswa dan menyiksanya,
>oknum Mahasiswa Reformasi di Universitas Kristen Indonesiapun tidak mau
>kalah. Mereka menculik Serma Suratmo yang sedang menjalankan tugasnya di
>bidang inteligen (RCTI dan Republika 28 November 1998), dan menyiksanya
>di
>Universitas Kristen Indonesia. Jika baru mahasiswa sudah begitu,
>bagaimana
>kalau sudah berkuasa jadi pemerintah? Rasanya tingkah laku mereka tak
>berbeda dengan rezim ORBA.
>Kalau ada aparat yang menubruk mahasiswa dengan truknya, ternyata oknum
>mahasiswa juga tidak kalah dengan menubrukkan mobil VW-nya ke barisan
>petugas. Akibatnya beberapa petugas langsung masuk rumah sakit.
>Dulu Suharto berkuasa menggantikan pemerintah Sukarno tanpa Pemilu,
>sekarang mahasiswa Forkot, dll juga begitu. Mereka mencoba berkuasa
>tanpa
>Pemilu juga.
>Suharto pernah merombak MPR dan membentuk sendiri MPRS dengan anggotanya
>yang dia pilih sendiri tanpa Pemilu. Sekarang Forkot dan Barisan
>Nasional
>juga begitu. Mereka mencoba membentuk MPR Reformasi dan Komite Rakyat
>tanpa Pemilu.
>Rezim ORBA tak segan2 membantai lawannya. Forkotpun begitu. Paling tidak
>ada 5 anggota Pam Swakarsa yang dikeroyok mahasiswa Universitas Katolik
>Atmajaya, UKI, dan massa hingga kepalanya terburai, dan matanya
>dicongkel.
>Adakah Indonesia akan jadi lebih ba ik diperintah oleh orang2 yang
>biadab
>seperti ini?
>Rezim ORBA senang melakukan kekerasan thd lawan politiknya. Oknum
>mahasiswa juga begitu, contohnya mahasiswa Universitas Bung Hatta Padang
>bukannya berdialog seperti seorang intelektual malah mencoba mengeroyok
>dan memukul Mentan Prof. Dr. Saleh Sholahudd in. Apa yang bisa
>diharapkan
>dari calon pemimpin seperti itu?
>Rezim ORBA senang menggunakan senjata untuk meredam lawannya. Mahasiswa
>Forkot dan Famredpun begitu. Meski mengaku2 sebagai gerakan damai, tapi
>di
>TV jelas terlihat mereka melempari petugas dengan batu sebesar kepalan
>tangan, bom molotov (seperti pada kas us Semanggi), serta menggunakan
>tiang spanduk untuk menghajar petugas.
>Kemudian dari tulisan2 yang kurang ajar (kalau "Suharto Koruptor", dll,
>saya sih masih setuju) serta tindakan joget berjingkrak2 nampaknya sudah
>bukan tindakan orang yang beradab.
>Terus terang kalau untuk menggulingkan pemerintah mereka juga
>berperilaku
>sama dengan pemerintah yang mereka gulingkan, apa bedanya pemerintah
>yang
>baru dengan yang lama jika perilaku keduanya setali tiga wang?
>Selama ini negara Indonesia tidak pernah terdapat pergantian presiden
>lewat Pemilu. Sukarno diganti Suharto tanpa Pemilu, begitu pula Suharto.
>Apakah kita akan terus begini? Selalu mengambil jalan pintas tanpa
>mengindahkan aturan main yang berlaku seperti UUD 45, dll?
>Tanpa Pemilu, pemerintah manapun yang dibuat tidak akan mendapat
>legitimasi rakyat. Forkot dan Famred serta KOBAR (organisasi buruh
>Mukhtar
>Pakpahan) bisa saja membentuk pemerintah baru tanpa Pemilu, tapi
>bagaimana
>kalau golongan lainnya seperti Ormas Isl am seperti NU, Muhammadiyah,
>MUI,
>ICMI, HMI, KAMMI, HAMMAS, dll juga membentuk Presidium sendiri.
>Apakah kita harus berperang untuk berkuasa sebagai pemerintah seperti di
>Afghanistan hanya karena ketidak-sabaran menunggu Pemilu yang tinggal 6
>bulan lagi (Mei 1999)?
>Sesungguhnya Tap MPR No. 12 sudah cukup baik. Mungkin kita tak bisa
>mengharapkan pemerintah Habibie untuk mengadili Suharto, karena selain
>mempunyai hutang budi pada Suharto yang telah menjadi ayah angkatnya,
>banyak pengikut Suharto yang masih bercokol di sana. Jadi sulit bagi
>Habibie untuk menindak Suharto. Meskipun demikian, Tap MPR yang
>membatasi
>jabatan Presiden cuma 2 x jelas akan mencegah timbulnya diktator seumur
>hidup seperti Suharto yang berkuasa sampai 5 kali masa jabatan (bahkan
>lebih kalau ti dak distop). Jika ada presiden yang mencoba berkuasa
>terus,
>maka seluruh rakyat bisa mendongkelnya dengan dasar konstitusi.
>Selain itu Tap MPR yang menjadwalkan Pemilu bulan Mei 1999 serta
>dilakukan
>pada hari libur atau hari yang diliburkan jelas mencegah adanya
>intimidasi
>di tempat kerja. Ajakan presiden Habibie pada mahasiswa serta
>organisasi2
>PBB macam UNDP untuk mengawasi Pemilu sehingga tidak terjadi kecurangan
>juga patut disambut baik (jangan curiga terus).
>Setelah pemerintah baru yang mendapat legitimasi rakyat lewat Pemilu
>terbentuk, baru pengadilan Suharto dapat dilakukan, kalau perlu dia
>dihukum mati. Di situ kita juga bisa mengadili para preman yang
>mengotori
>kursi MPR seperti Yapto dan Yorrys.
>Berikut berita dari Republika tentang kronologis versi Hankam (kalau
>versi
>TV Swasta dan Media Massa-kan sudah sering kita lihat):
>Wiranto Beberkan Kronologi Insiden versi ABRI JAKARTA -- Dalam rapat
>kerja
>Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto dengan komisi I DPR RI, kemarin,
>diputar sebuah video rekaman beberapa peristiwa seputar Peristiwa
>Semanggi. ''Hal ini, dilakukan untuk membawa anggota dewan ke suasana
>saat
>itu, yang memb uat aparat keamanan melakukan tindakan tegas,'' ujar
>Wiranto memberi alasan. Dalam video tersebut jelas tergambar bagaimana
>brutalnya massa --mengenakan jas almamater -- melempar aparat dengan
>berbagai benda termasuk bom molotov. Juga tampak seorang pemuda
>melemparkan batu sebesar buah kelapa ke kepala seorang anggota
>Pamswakarsa
>yang sudah terkulai tak berdaya. ''Kalau saudara-saudara sudah merasa
>ngeri dengan gambar tadi, itu belum seberapa. Masih ada yang lebih ngeri
>lagi dan tidak mungkin kami tayangkan di ruangan ini. Misalnya saja
>bagaimana massa mencukil mata korbannya,'' ujar Wiranto. Meski dalam
>video
>tersebut tidak ditayangkan bagaimana aparat keamanan bertindak, tayangan
>tersebut cukup memberi informasi pengimbang bagi anggota dewan. Anggota
>DPR umumnya lebih sering melihat tayangan di media massa tentang
>kekejaman
>aparat saat mengh alau massa. Pada kesempatan itu Wiranto juga
>membeberkan
>kronologi Peristiwa Semanggi versi ABRI: 1. 10 November 1998. Massa yang
>terpusat di UKI Jl Diponegoro, UI Salemba dan YAI Jl Diponegoro bergerak
>menuju Tugu Proklamasi untuk menduduki dan melakukan orasi sehingga
>terjadi bentrokan fisik dengan kelompok pro-Sidang Istmewa (SI) MPR yang
>telah leb ih dulu menduduki tempat tersebut. Pada saat mahasiswa
>bergerak,
>ikut bergabung massa masyarakat yang jumlahnya semakin membesar. Melihat
>keadaan tersebut aparat keamanan dengan cepat bertindak melerai kedua
>kelompok dan mengevakuasi kelompok pro-SO dari Tugu Proklamasi. 2. 11
>November 1998. Berlangsung orasi dan unjuk rasa gabungan mahasiswa di
>tugu
>Proklamasi yang akan menuju Gedung DPR/MPR diikuti sekitar 3.000
>mahasiswa
>dan masyarakat. Gerakan tersebut dihambat petugas di Jl Imam Bonjol.
>Pada
>saat itu terjadi insiden ditabraknya aparat keamanan oleh oknum
>mahasiswa
>dengan menggunakan mobil VW Safari yang dikendarai Anas Allamuddin (FH
>UI)
>didampingi Amrirul bin Bakar yang mengakibatkan sembilan aparat keamanan
>luka berat. Sebagai ekses kasus tabrak lari tersebut terja di kontak
>fisik
>yang mengakibatkan tga mahasiswa dan empat wartawan luka. 3. 12 November
>1998. Massa mahasiswa dan massa lain yang berasal dari kampus
>Universitas
>Kristen Indonesia, Yayasan Administrasi Indonesia dan Universitas
>Indonesia Salemba berada di Tugu Proklamasi bergerak ke Matraman, Senen
>dan Jatinegara untuk menarik massa menuju DPR/MPR. Gerakan tersebut
>terhenti di depan Musium Satria Mandala dengan jumlah sekitar 10.000
>orang. Massa dapat dibubarkan aparat keamanan pada pukul 17.10 WIB.
>Gerakan menerobos barikade aparat keamanan tersebut telah mengakibatkan
>korban 17 mahasiswa dan masyarakat termasuk aparat luka-luka. Dari arah
>Grogol gabungan massa mahasiswa Universitas Trisakti, Institut Teknologi
>Indonesia dan KOBAR berhasil dihentikan aparat keamanan di depan gedung
>Manggala Wanabhakti. Kegiatan yang dilakukan dengan orasi telah menarik
>massa semakin bertambah menc apai sekitar 5.000 orang. Aksi massa
>semakin
>brutal, di antaranya terdapat kelompok yang memprovokasi massa untuk
>menerobos barikade aparat keamanan tetapi dapat ditindak dan dibubarkan.
>Dalam insiden tersebut jatuh korban satu orang anggota Brimob Polda
>Metro
>Jaya meninggal dan tiga anggota Kodam Jaya terluka. Sedang massa 30
>orang
>terluka. 4. 13 November 1998. Meletus insiden Semanggi. Secara
>bergelombang massa pengunjuk rasa bergerak mengepung DPR/MPR dari
>berbagai
>penjuru. Gerakan massa dilakukan dengan pola berlapis-lapis, lapis
>pertama
>terdiri dari mahasiswa murni, kedua kelompok provok asi, ketiga kembali
>mahasiswa murni dan keempat 'massa cair'. Pada saat aparat keamanan
>melakukan negosiasi dengan lapis pertama, kelompok provokasi dari lapis
>kedua maju berhadapan dengan aparat keamanan, mencaci maki, melempari
>aparat keamanan dengan batu, bom molotov dan kotoran, serta berusaha
>merebut senjata ag ar aparat terpancing dan marah. Kelompok provokasi
>bergerak membuka jalan ke kiri dan ke kanan agar mahasiswa murni dan
>massa
>cair maju ke depan berhadapan dengan aparat keamanan. Provokator terus
>memberi dorongan agar massa lebih agresif melawan petugas. Untuk
>menghadapi gerakan massa yang semakin brutal, maka diberikan tembakan
>peringatan dengan peluru hampa. Tetapi massa tidak mundur sehingga
>aparat
>memberikan semprotan air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Pada
>saat posisi aparat keamanan telah terancam dan sebagai tindakan membela
>diri, aparat terpaksa mengeluarkan tembakan dengan peluru karet.
>Kejadian
>bentrok antara massa pengunjuk rasa dengan aparat keamanan ini banyak
>menimbulkan korban. 5. 14 November 1998. Terjadi aksi unjuk rasa oleh
>kelompok mahasiswa dari berbagai universitas dan kelompok massa lain
>yang
>tidak terkendali melakukan kerusuhan, penjarahan bahkan melakukan
>penyerangan terhadap aparat keamanan yang terbagi dalam dua gerak an: a.
>Gerakan massa, provokator dan massa. b. Gerakan kelompok penjarah.
>Keadaan segera dapat dikendalikan dan diredam sehingga tidak berkembang
>ke
>daerah lain. Dalam keseluruhan peristiwa bentrokan selama SI MPR
>tercatat
>korban: mahasiswa (4 meninggal, 29 rawat inap dan 201 rawat jalan),
>masyarakat (8 meninggal, 38 rawat inap, 206 rawat jalan dan anggota ABRI
>(1 meninggal, 22 rawat inap dan 20 rawat jalan)
>
>
>SALAM REFORMASI,
>INDARTI SUDIRO


---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Indonesia without violence!

Kirim email ke