Saya ingin bertanya dengan Ibu Indarti mengenai
definisi non-violence, apakah menurut ibu penerapan
DOM di Aceh, Tim-Tim, Lampung dan Irja itu
Non-violence ? Apa menurut ibu pembantaian mahasiswa
di Trisakti dan Semanggi itu non-violence, apa darah
para korban petrus, tertuduh (tapi tidak terbukti)
komunis itu adalah lambang kelembutan, sabun Lux kali
ahhh bisa aja si ibu
Edwin
---Sigit Widodo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ibu Indarti yang terhormat,
>
> Saya terus terang "terkesan" dengan posting-posting
Anda. Posting pertama
> Anda mencoba memecah-belah dan melakukan dikotomi
secara kasar antara PTS
> dengan PTN. Dengan tidak mengurangi rasa hormat
saya terhadap rekan-rekan
> yang lain yang tidak saya ketahui 'background'
akademisnya, pernyataan Anda
> telah disanggah oleh dua orang dari pihak-pihak
yang dicoba diadu domba oleh
> Anda. Saya sendiri yang pertama menyanggah posting
Anda, saya adalah
> sarjana 'fresh graduate' dari Universitas Trisakti
dan sanggahan kedua
> berasal dari bung Martin Manurung, seorang aktivis
mahasiswa dari
> Universitas Indonesia.
>
> Saya sebisa mungkin mencoba menghargai
pendapat-pendapat Anda, tapi cobalah
> Anda hargai juga pendapat orang lain, bukankah
penghargaan terhadap pendapat
> orang lain secara dewasa juga merupakan parameter
intelektualitas seseorang.
> Kata-kata "hanya mengandalkan dengkul saja"
sepertinya terlalu sering Anda
> lontarkan tanpa indikasi yang jelas. Kecurigaan
bukan berarti tidak
> berotak. Cara-cara rejim Orde Baru selama tiga
dasawarsa lebih yang masih
> digunakan oleh rejim Habibie-Wiranto boneka
Soeharto, memang mengakibatkan
> timbulnya kecurigaan yang memang saya akui
kadangkala cenderung berlebihan,
> tapi tidak ada salahnya daripada menyesal di
kemudian hari, bukan? Anda
> benar, kecurigaan yang berlebihan dapat menyebabkan
benturan-benturan antar
> pergerakan mahasiswa itu sendiri dan itulah yang
diinginkan oleh pihak
> penguasa.
>
> Walaupun status saya sudah bukan mahasiswa sejak
akhir bulan Oktober yang
> lalu, namun saya masih sering mengikuti aksi-aksi
yang dilakukan oleh
> junior-junior saya. Saya yakin bahwa mereka
bukanlah mahasiswa yang cuma
> bisa bicara saja seperti tuduhan Anda, darimana
Anda membuat asumsi
> se-negatif itu.
>
> Kesebelan Rakyat terhadap aksi mahasiswa? Hmm..
menarik juga untuk
> dibahas. Bahwa aksi-aksi mahasiswa mempunyai
ekses-ekses negatif berupa
> kemacetan jalan, itu benar dan saya himbau juga
agar rekan-rekan mahasiswa
> meminimalisasi hal tersebut dengan menyisakan
sedikitnya setengah badan
> jalan. Pada aksi-aksi terakhir, saya lihat hal ini
juga sudah dilakukan.
> Namun kalau jalanan macet karena diblokir aparat,
jangan salahkan mahasiswa,
> dong. Lagipula saya melihat bahwa masyarakat
tidaklah secengeng itu dan
> mereka kebanyakan masih mendukung aksi mahasiswa.
Terakhir, saya masih
> menyaksikan tidak hanya masyarakat golongan bawah
yang menyambut antusias,
> tapi ada seorang pekerja profesional menggenakan
stelan jas dan mengendarai
> mobil BMW secara spontan melemparkan sebungkus
rokok ke atas bus yang
> digunakan untuk arak-arakan mahasiswa. Yang lebih
menarik, setelah diambil
> beberapa batang, rokok itu diberikan pada sepasukan
Marinir yang berjaga.
> :-) Saya kira aksi-aksi mahasiswa seluruhnya masih
non-violence. Kalau ada
> pengaduan dari intel cengeng yang protes akibat
pemukulan dan diamankan oleh
> mahasiswa, saya kira cukup lucu. Kalau tidak siap
menerima resikonya,
> jangan jadi intel dong!
>
> Satu hal lagi, kalau Anda menggunakan harian
"Republika" sebagai referensi,
> saya bisa menebak paradigma berpikir Anda. :-)
>
> Saya menunggu respon Anda. Semoga Anda mau
menanggapi posting saya,
> walaupun saya hanya seorang Sarjana baru dari
perguruan tinggi swasta yang
> selama ini selalu Anda anggap hanya mengandalkan
dengkul saja. :-)
>
> Salam Reformasi total..
> Salam Revolusi Indonesia..
>
> Hormat saya,
>
>
>
> SIGIT WIDODO
> ===============
> Vox Populi Vox Dei
> ===============
> Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan!
> Hapuskan militerisme di Indonesia!
>
>
>
> Indarti Sudiro wrote:
>
>
> Ini makin menjadi bukti, bahwa mereka seperti yg
menuduh saya memang
> tidak mampu memberikan suatu argumen yg ilmiah.
Malahan saya berani
> bertaruh, mereka sebagai mahasiswa cuma bisa bicara
saja, dan bila
> ditugaskan oleh dosennya utk membuat paper, bisa
dijamin paper mereka
> seperti anak SMA sekarang yg doyannya tawuran. Saya
juga menjadi sangsi,
> bila mereka membaca referensi penuh utk makalah
mereka, sebab mereka
> sendiri nggak ngerti apa itu catatan kaki,
referensi, dll dan apa
> kegunannya.
> Well, anda2 yg sok mau membela rakyat Indonesia,
saya mau lihat apa sih
> yg sudah anda perjuangkan setelah Soeharto jatuh?
Anda justru lebih gila
> daripada Soeharto, karena dgn aksi2 anda rakyat
tidak lebih baik seperti
> yg ingin anda perjuangkan. Malahan yg ada cuma
kesebelan semata akibat
> aksi2 anda itu. Saya sangat yakin, bila anda tidak
menempuh cara lain yg
> efektif dan strategis dengan mengedepankan kekuatan
intelektual dan
> moral sebagai ciri utama kekuatan mahasiswa, maka
lambat laun anda akan
> ditinggalkan. Mungkin anda yg congkak ini tidak
berpikir sejauh yg saya
> kemukakan. Tapi langkah anda justru akan mencoreng
gerak langkah para
> mahasiswa yg rasional dan lebih mengedepankan cara2
non-viollence!!!
> Anyway, kalau anda yakin dan memang cara anda
benar, ya monggo saja.
> Masak iya sich, seorang seperti INDARTI SUDIRO
mampu merusak kekuatan
> mahasiswa. Kalau anda memang menilai INDARTI memang
bisa, wuah..... saya
> sangat menghargai sanjungan anda. Besok saya akan
datang ke Wiranto, dan
> meminta imbalan dari dia, karena saya sudah berjasa
kepada dia.
>
> Salam Reformasi Damai,
> INDARTI SUDIRO
>
> Indarti Sudiro also wrote:
>
> >
> >Setelah mengamati perilaku beberapa oknum aktivis
mahasiswa Forkot,
> >Famred, dll, ternyata saya melihat beberapa
perilakunya tidak berbeda
> >dengan rezim ORBA. Persis seperti pinang dibelah
dua, walaupun berada di
> >pihak yang berlawanan. Jika perilakunya sepe rti
itu, saya khawatir
> >negara
> >Indonesia ini tidak akan pernah berkembang jadi
lebih baik. Berikut
> >fenomena yang saya lihat:
> >Nampaknya mahasiswa Forkot, Famred, dll yang
dimotori oleh mahasiswa
> >Universitas Katolik Atmajaya dan Universitas
Kristen Indonesia meniru
> >perilaku rezim ORBA dalam gerakannya. Saya
bukannya menjelek-jelekkan
> >mahasiswa, tapi memang ada oknum mahasiswa yan g
brengsek seperti tukang
> >nyontek, tukang tawuran, suka mengintimidasi
temannya, dll. Lagi pula
> >bukankah para pejabat pemerintah sekarang dulunya
juga mahasiswa,
> >misalnya
> >Abdul Gafur, Cosmas Batubara, dll yang merupakan
aktivis mahasiswa yang
> >berdemo menu mbangkan rezim Sukarno.
> >Contoh perilaku mereka yang seperti rezim ORBA
adalah mengagung2kan
> >gerakan mereka dan menghina2 gerakan pendahulunya.
Dulu ORBA
> >mengagung2kan
> >ORBA dan menghina ORLA, sekarang Reformasipun
begitu, mereka
> >mengagung2kan
> >Reformasi dan menghina ORBA. Jika ORB A menjuluki
lawan2nya sebagai
> >Komunis, Islam Ekstrim, Fundamentalis, dll, maka
Reformasi menjuluki
> >lawan2nya sebagai anti reformasi, antek ORBA, dll
untuk membungkam
> >perbedaan pendapat.
> >Kemudian jika aparat ORBA menculik aktivis
mahasiswa dan menyiksanya,
> >oknum Mahasiswa Reformasi di Universitas Kristen
Indonesiapun tidak mau
> >kalah. Mereka menculik Serma Suratmo yang sedang
menjalankan tugasnya di
> >bidang inteligen (RCTI dan Republika 28 November
1998), dan menyiksanya
> >di
> >Universitas Kristen Indonesia. Jika baru mahasiswa
sudah begitu,
> >bagaimana
> >kalau sudah berkuasa jadi pemerintah? Rasanya
tingkah laku mereka tak
> >berbeda dengan rezim ORBA.
> >Kalau ada aparat yang menubruk mahasiswa dengan
truknya, ternyata oknum
> >mahasiswa juga tidak kalah dengan menubrukkan
mobil VW-nya ke barisan
> >petugas. Akibatnya beberapa petugas langsung masuk
rumah sakit.
> >Dulu Suharto berkuasa menggantikan pemerintah
Sukarno tanpa Pemilu,
> >sekarang mahasiswa Forkot, dll juga begitu. Mereka
mencoba berkuasa
> >tanpa
> >Pemilu juga.
> >Suharto pernah merombak MPR dan membentuk sendiri
MPRS dengan anggotanya
> >yang dia pilih sendiri tanpa Pemilu. Sekarang
Forkot dan Barisan
> >Nasional
> >juga begitu. Mereka mencoba membentuk MPR
Reformasi dan Komite Rakyat
> >tanpa Pemilu.
> >Rezim ORBA tak segan2 membantai lawannya.
Forkotpun begitu. Paling tidak
> >ada 5 anggota Pam Swakarsa yang dikeroyok
mahasiswa Universitas Katolik
> >Atmajaya, UKI, dan massa hingga kepalanya
terburai, dan matanya
> >dicongkel.
> >Adakah Indonesia akan jadi lebih ba ik diperintah
oleh orang2 yang
> >biadab
> >seperti ini?
> >Rezim ORBA senang melakukan kekerasan thd lawan
politiknya. Oknum
> >mahasiswa juga begitu, contohnya mahasiswa
Universitas Bung Hatta Padang
> >bukannya berdialog seperti seorang intelektual
malah mencoba mengeroyok
> >dan memukul Mentan Prof. Dr. Saleh Sholahudd in.
Apa yang bisa
> >diharapkan
> >dari calon pemimpin seperti itu?
> >Rezim ORBA senang menggunakan senjata untuk
meredam lawannya. Mahasiswa
> >Forkot dan Famredpun begitu. Meski mengaku2
sebagai gerakan damai, tapi
> >di
> >TV jelas terlihat mereka melempari petugas dengan
batu sebesar kepalan
> >tangan, bom molotov (seperti pada kas us
Semanggi), serta menggunakan
> >tiang spanduk untuk menghajar petugas.
> >Kemudian dari tulisan2 yang kurang ajar (kalau
"Suharto Koruptor", dll,
> >saya sih masih setuju) serta tindakan joget
berjingkrak2 nampaknya sudah
> >bukan tindakan orang yang beradab.
> >Terus terang kalau untuk menggulingkan pemerintah
mereka juga
> >berperilaku
> >sama dengan pemerintah yang mereka gulingkan, apa
bedanya pemerintah
> >yang
> >baru dengan yang lama jika perilaku keduanya
setali tiga wang?
> >Selama ini negara Indonesia tidak pernah terdapat
pergantian presiden
> >lewat Pemilu. Sukarno diganti Suharto tanpa
Pemilu, begitu pula Suharto.
> >Apakah kita akan terus begini? Selalu mengambil
jalan pintas tanpa
> >mengindahkan aturan main yang berlaku seperti UUD
45, dll?
> >Tanpa Pemilu, pemerintah manapun yang dibuat tidak
akan mendapat
> >legitimasi rakyat. Forkot dan Famred serta KOBAR
(organisasi buruh
> >Mukhtar
> >Pakpahan) bisa saja membentuk pemerintah baru
tanpa Pemilu, tapi
> >bagaimana
> >kalau golongan lainnya seperti Ormas Isl am
seperti NU, Muhammadiyah,
> >MUI,
> >ICMI, HMI, KAMMI, HAMMAS, dll juga membentuk
Presidium sendiri.
> >Apakah kita harus berperang untuk berkuasa sebagai
pemerintah seperti di
> >Afghanistan hanya karena ketidak-sabaran menunggu
Pemilu yang tinggal 6
> >bulan lagi (Mei 1999)?
> >Sesungguhnya Tap MPR No. 12 sudah cukup baik.
Mungkin kita tak bisa
> >mengharapkan pemerintah Habibie untuk mengadili
Suharto, karena selain
> >mempunyai hutang budi pada Suharto yang telah
menjadi ayah angkatnya,
> >banyak pengikut Suharto yang masih bercokol di
sana. Jadi sulit bagi
> >Habibie untuk menindak Suharto. Meskipun demikian,
Tap MPR yang
> >membatasi
>
=== message truncated ===
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
Indonesia without violence!