Senin, 23 Nopember 1998 Surat Y.B. Mangunwijaya Kepada (Rudy) Habibie Mas Rudy, sahabat yang kesatria, Anda sungguh kesatria dengan menyatakan secara resmi, bahwa Andalah yang menginstruksikan (tentulah sebagai Panglima Tertinggi ABRI), kepada Menhankam/Panglima ABRI ''untuk segera mengambil tindakan tegas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku'' terhadap para demonstran yang oleh pemerintah Anda dianggap ingin menggagalkan Sidang Istimewa MPR-DPR November ini. Demikianlah jelas kedudukan pertanggungjawaban atas meninggalnya antara 10 dan 20 orang mahasiswa, remaja rakyat serta anak yang tak bersalah serta ratusan warganegara lain terluka. Tentara memang berprinsip Befehl ist Befehl, taat kepada perintah, benar atau salah. Kita tahu, itu inheren pada sistem, walaupun terlalu sering keliru dianut mutlak dalam kadaverdiziplin dengan mengabaikan segi-segi dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Maka saya bahagia dan sungguh amat menghargai sikap Anda yang langsung mengambil pikulan tanggung jawab pembantaian tersebut, dan tidak menggeserkannya kepada bawahan, seperti yang lazimnya salah kaprah terjadi di Indonesia ini. Maka tulus saya menyapa Anda dengan salam: Mas Rudy, sahabat yang kesatria. Memang tidak hanya Mas Rudy yang bertanggung jawab atas tragedi itu, karena objektif banyak sekali kaum elite politik negara maupun masyarakat kita ikut bersalah juga. Namun Anda de facto adalah pemegang kekuasaan nomor satu dalam Republik kita. Maka sebagai sahabat dan warganegara biasa, bukan sebagai politikus, saya sekali lagi meminta perhatian pada hal-hal berikut. Anda tahu bahwa legitimasi segala kekuasaan negara bersumber pada kedaulatan rakyat. Yang praktis bermata-air pada pemilu yang jujur, adil, langsung, umum, bebas dan rahasia. Tetapi kita semua tahu bahwa minimum pemilu yang terakhir jauh dari pemenuhan syarat-syarat tersebut, penuh tipuan, rekayasa, korupsi, paksaan dan teror. Jelaslah pemilu semacam itu tidak pernah dapat legitim atas dasar kebenaran, moralitas, kedaulatan rakyat serta kemanusiaan yang adil dan beradab, walaupun dinyatakan legal atas dasar kekuasaan. Kemenangan Partai Nazi Hitler pun dalam Pemilu 1933 di Jerman berstatus legal, biarpun serba kotor, paksaan dan teror. Stalin dipilih legal secara aklamasi. Juga Hindia Belanda menurut orang Belanda amat legal, dan pendudukan Jepang menurut ''hukum yang diberlakukan'' oleh Jepang legal juga. Sebaliknya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dalam pandangan Hukum Internasional pada waktu itu jelas tidak legal. Tetapi legitim berdasarkan moralitas, kebenaran dan hak asasi manusia. Oleh karena itu tidak cukuplah pemilu hanya dilegalkan oleh ''hukum yang berlaku'' (yang dipaksakan oleh Orde Baru), akan tetapi harus juga legitim diakui jujur, adil, langsung, umum bebas serta rahasia secara sejati oleh rakyat. Tidak ada orang sehat satu pun, juga para anggota Golkar yang jujur, melegitimasi pemilu yang lalu. Demikianlah pemilu yang tidak legitim menelorkan MPR-DPR yang tentu saja tidak legitim juga meskipun dilegalkan. Maka segala apa yang diperbuat MPR-DPR semacam itu tidak mungkin dapat legitim biarpun legal ''menurut hukum yang berlaku''. Justru inilah yang ingin diekspresikan eksplisit-implisit oleh para mahasiswa dan para muda. Maka tidaklah mengena argumentasi seolah-olah usaha para tunas bangsa kita itu disebut ''melawan hukum dan konstitusi'' atau ''memaksakan kehendak''. Yang melempar batu bukan mahasiswa atau yang ditembak. Meski tidak dibenarkan, tetapi bagaimana pun pelemparan batu itu suatu tanda perasaan rakyat muda biasa. Atau pancingan kaum provokator bayaran. Memang bisa dipahami apabila dari pihak Anda demo yang tidak disukai para penguasa itu harus dibubarkan. Akan tetapi seperti di negara-negara yang berkemanusiaan adil dan beradab di mana-mana, kan cukup dengan semburan air atau gas air mata yang tidak membunuh. Mengapa harus membunuh? Mengapa tidak membeli seratus mobil penyemprot air berkualitas internasional daripada mengerahkan 50.000 senapan berpeluru? Apakah segala-galanya, termasuk pembunuhan, menjadi halal demi pencapaian sasaran politik? Jika Sidang Istimewa yang disebut MPR-DPR itu pun sudah begitu menyedihkan proses dan hasilnya, apa gerangan yang nanti terjadi jika pemilu yang akan datang dijalankan? Saya tidak dapat membayangkan. Apakah akan ada ratusan generasi muda, remaja dan anak-anak yang akan dibantai lagi, sedangkan para anggota MPR-DPR dingin tertawa-tawa? Atau akan berjalan ''damai'' tetapi semu, hasil teror lagi penuh kebohongan, tipuan, korupsi dan manipulasi media massa seperti yang sudah-sudah? Yang akan menghasilkan MPR-DPR hasil pemilu yang dipaksakan legal tetapi lagi dan lagi tidak legitim dan tidak dipercaya oleh rakyat? Saya memahami kedudukan dan keyakinan Anda sebagai orang perdana suatu pemerintah yang merasa diri sah atau konstitusional. Akan tetapi rakyat serta para muda telah mencatat dan tidak khilaf tentang siapa dan siapa menjadi penopang, pendukung dan pembantu gigih setia Presiden Soeharto dulu, termasuk MPR-DPR di bawah pimpinan Harmoko dan para kroninya yang tidak pernah mereka akui legitim sebagai wakil rakyat. Mereka telah belajar tentang ulah Hindia Belanda dan Jepang dulu serta mengalami sendiri praktik Orde Baru. Legalitas masih memerlukan legitimitas. Legitimitas perlu dikokohkan oleh legalitas. Inilah Mas Rudy, inti persoalan nasion kita. Maka saya pikir, semestinya dan sewajarnya selekas mungkin Anda dengan teratur dan legal menyerahkan kekuasaan Anda kepada siapa pun entah, sebaiknya suatu tim eksekutif transisi, yang benar-benar legitim dipercaya oleh rakyat umumnya dan generasi muda, khususnya para mahasiswa. Yang cakap tetapi tidak berkolaborasi, berkorupsi, berkolusi dan bernepotisme dengan Orde Baru, atau minimum yang relatif masih agak bersihlah, karena calon pejabat tinggi yang putih seperti salju tentulah sulit dicari. Hanya untuk mengatur, menyelenggarakan dan mengawasi suatu pemilu yang benar-benar jurdil dan luber serta hal-hal lain demi penyelamatan negara. Pertama jangan sampai ada vakum kepercayaan dan kewibawaan seperti sekarang ini yang mudah menyulut anarki, namun juga agar banyak orang merasa ''aman menempuh jalan legal'' yang mereka rasakan sebagai konstitusional. Itu semua, Mas Rudy, baru gagasan. Saya tidak menuntut atau meminta Anda turun dari jabatan kepresidenan de facto. Untuk itu saya tidak kompeten; itu tugas para politisi, para pemimpin bangsa dan wakil rakyat. Tetapi feeling saya, begitulah semestinya dan sebaiknya jika keselamatan nasional kita utamakan. Kenyataannya sekarang, Mas Rudy, tidak ada satu orang pun yang masih punya hatinurani di dalam negeri maupun di dunia internasional yang tidak terluka hati melihat pembantaian Jakarta 12-13 November 1998 yang menyedihkan itu; dan yang pasti dicatat dan dikenang dalam sejarah RI dan history of human civilization pada lembaran-lembaran hitam. Tidak ada raison d'etat atau alasan ''konsitusional'' satu pun akan membenarkan pembunuhan dingin yang disaksikan oleh jutaan orang langsung di layar televisi; padahal pembubaran demonstrasi dapat dilakukan dengan cara-cara lain yang tidak membunuh. Mas Rudy, Bukan hanya undang-undang, peraturan serta instruksi tegas yang diperlukan bangsa dan negara kita yang relatif masih muda ini, apalagi yang sedang menderita dalam multi-krisis, akan tetapi juga dan terutama kepekaan membaca tanda-tanda zaman dan kejernihan feeling terhadap realitas yang hidup, yang bergetar dalam hati rakyat masyarakat banyak dan terutama generasi muda. Bukan hanya colour-pictures melainkan juga dan terutama foto-foto Roentgen yang diperlukan. Bukan hanya mendengarkan apa yang berbunyi saja, melainkan juga dan terutama melihat yang hanya dapat tertangkap oleh radar. Saya tahu, jika gagasan transfer kekuasaan Anda itu betul terjadi, belum juga ada jaminan, bahwa negara dan nasion kita segera kan sehat dan pulih lagi sebagai negara hukum dan ber-Pancasila sejati. Akan tetapi paling tidak suatu episode historis penuh penyalahgunaan kekuasaan yang bernama Orde Baru itu, dan yang sampai sekarang masih saja diteruskan, dapat ditutup formal, dan bangsa kita dapat masuk ke dalam suasana serba baru menuju Indonesia serba baru pula. Not least, nama baik Anda masih dapat terjaga. Mas Rudy, salam persahabatan saya. Juga untuk Mbak Ainun yang amat saya hargai saya doakan kekuatan dan ketabahan pendampingan. Wassalam, Hormat, Sahabat lama, Y.B. Mangunwijaya --------------------------------------------------- This message was created and sent using the Cyberdog Mail System --------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com Indonesia without violence!
