Saya jadi heran, kenapa agama malah sering dianggap
sebagai masalah dalam politik Indonesia. Sejak jaman
dahulu padahal agama-agama telah hidup sehat di
Indonesia. Sebenarnya ketika kita saat ini bicara
soal sektarianisme dan segala macam varian dan
derivatnya, kita berarti mungkin masih terjebak dalam
logika ORBA karena istilah itu (terlepas dari siapa
yang mengatakan) muncul di jaman ORBA. Saya sendiri
menganggap masalah partai berbasis agama sah-sah saja
mau Islam,Katholik, Kristen, Hindu, Budha, dan
agama-agama lainnya. Kalaupun ada tuduhan upaya
Islamisasi, Kristenisasi, Hinduisasi dan macam-macam
isasi lainnya ya sah-sah saja, namanya orang beragama
ya punya misi dakwah, masalahnya kan tinggal
bagaimana kita bikin aturan main yang fair dalam
pembagian roti kekuasaan di negeri ini, dan kemudian
masalah pengetahuan seseorang terhadap agama lain
yang amat dangkal yah maklum aja namanya juga bukan
agamanya masalah salah atau benar ya nggak jadi
kewajiban dituruti toh kalau mau diluruskan ya bisa
lewat hak jawab (sebuah mekanisme yang telah
disediakan demokrasi) dengan damai. Saya sendiri baru
saja menemukan kemuliaan agama-agama yang tumbuh di
Indonesia. Dan saya mestinya bersyukur karena ketika
semua agama ternyata jalan keselamatan bahagianya
warga Indonesia tidak harus bersesakan di satu jalan
keselamatan saja. Mungkin saya bukan intelektual,
sehingga tidak tepat untuk membahas masalah ini, tapi
saya pernah membaca 2 buah buku yang baik untuk
membahasnya:
1. Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial
   (Paramadina, 1996)
2. Tiga Agama Satu Tuhan
   (Mizan, 1998)
Semoga kita semua senantiasa jadi orang-orang yang
terselamatkan.....
Edwin 
 
---Martin Manurung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya setuju bahwa bisa-bisa saja Partai berazaskan
agama, selama agamanya
> tidak melarang.
> 
> Tetapi, alasan bahwa mayoritas rakyat Indonesia
beragama Islam, lalu yang
> tidak setuju azas Islam maka keluar saja, itu sama
sekali tidak demokratis.
> 
> Juga perkataan Hbb yang mengomentari agama lain,
saya rasa tidak pada
> tempatnya. Apalagi, komentarnya itu tidak tepat dan
bias. Saya rasa Hbb
> harus lebih banyak belajar menjadi negarawan
ketimbang badut politik.
> 
> --------------------Martin
Manurung---------------------------
> E-mail: [EMAIL PROTECTED] & [EMAIL PROTECTED]
> Homepage: http://www.cabi.net.id/users/martin
> _________________________________________
>                 "If anyone wants to be first,
>   he must be the very last, and the servant of all"
> -----Original Message-----
> From: Rafly-Hatari's Students <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>
> Date: 09 Desember 1998 8:06
> Subject: RE: [Kuli Tinta] Acara Partai2 7 Des.
> 
> 
> > -----Original Message-----
> > From: kj [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> >
> > Saya bisa memahami kedongkolan teman kita ini,
sayangnya saya tidak sempet
> > nonton acara ini.
> >
> saya malah tidak bisa mengerti/memahami apanya yang
mesti
> di"dongkol"kan.
> apa salahnya kalau ada partai berazaskan lain
selain Pancasila ?
> That's democracy, kan ? Kecuali kalau yang diikuti
adalah pahamnya Soeharto
> bahwa semua ormas & orpol mesti mengikuti azas
tunggal (asas Islam
> sekalipun).  Kecuali kalau kita mau pura-pura lupa
ama sejarah penetapan
> Pancasila sebagai astung.
> 
> As for kutipan terhadap Nur Muhammad (partai
Keadilan), ada distorsi
> (moga moga nggak sengaja) disitu.  kurang lebih
yang diucapkannya adalah
> bahwa dia menganjurkan partai-partai untuk kembali
ke azas agama yang
> sesuai, bukan cuma Islam.  Umpamanya, PPP, PK, PUI,
dll. kembali ke asas
> Islam, partai
Katolik/Protestan/Hidu/Budha/Konghucu/Shinto dll.
kembali ke
> asas agama masing-masing.
> Kita bisa nggak setuju dengan motivasi dan latar
belakang pendapat
> seperti ini, but at least have the decency untuk
menampilkan satu kutipan
> yang sesuai dengan sumber aslinya, ya kan ?
> 
> Soal teologinya BJH, aku gak ada komentar. 
kebetulan sumber aslinya
> belum dapat, jadi belum tau mesti kasih komentar
apa-apa, jangan-jangan
> kutipannya terdistorsi lagi.
> 
> salam,
> 
> rahmadd
> via rafly hatari
> 
> > >From: Anton Sudarisman <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Subject: [Pnet] Kalau tidak setuju dengan azaz
Islam
> > >
> > >Acara  "Partai-partai" TPI tadi malam
menampilkan PPP. Ketika menanggapi
> > >kembalinya PPP ke asaz Islam, seorang penanya
dari Bekasi lewat telpun
> > >berkomentar, azaz Islam merupakan hal yang wajar
bagi Indonesia, karena
> > >mayoritas adalah Islam. "Kalau tidak setuju
dengan azas Islam silakan
> > keluar
> > >dari Indonesia" (yang disambut huuu dari para
mahasiswa yang hadir di
> > TPI).
> > >Dari bicaranya penelpun tadi terkesan orang
terpelajar, yang membuat saya
> > >terperanjat dan tak habis pikir. "Bagaimana sih
orang ini dididik?"
> > >
> > >Di ubun-ubun saya lalu muncul wajah-wajah
beberapa tokoh sektarian, yang
> > >kini merajalela di kancah politik Indonesia.
"Begitu malangkah bangsaku
> > >ini?" pikirku. Lalu aku ingat Nur Muhammad,
ketua Partai Keadilan yg
> > konon
> > >deket dengan faksi Habibie itu beberapa hari
lalu bilang, "Sebaiknya
> > semua
> > >partai berazaskan Islam."  Lalu aku ingat
Habibie yang saat diwawancarai
> > >sebuah koran luar negeri menyatakan, kurang
lebih, "Semua agama baik, dan
> > >saya mengenal Kristen dan Yahudi. Perbedaan
Islam dan Kristen adalah,
> > kalau
> > >Islam tuhannya satu, Kristen Tuhannya memiliki
anak." Begitu dangkalkah
> > para
> > >pemimpin bangsaku ini?
> > >
> > >Untunglah, selagi saya nggerem, saya mendengar
suara Gus Dur, yang sedang
> > >diwawancarai CNBC soal masalah yang dihadapi
Indonesia. "Kita perlu
> > bicara
> > >bersama untuk mengatasi masalah negeri ini,"
katanya. Dan ketika ditanya
> > "Do
> > >you have the answer to the problem for your
country?" Kiai "Semar" itu
> > >menjawab, "Oh yes, between me and Megawati and
other  leaders, we have
> > the
> > >solution for the problem of Indonesia."  Dari
penerimaannya terhadap
> > >pluralisme bangsa ini,  Gus Dur yang tak terlalu
saya kenal itu ternyata
> > >bisa mengendorkan suhu di ubun-ubun saya.
> > >
> > >Di hati kecil saya bertanya, ada saatnya jalan
kita akan terguncang
> > keras.
> > >Keberadaan kita diembat sana-sini. Tempat kita
berpijak diobok-obok.
> > Tetapi
> > >selalu ada cahaya di tengah-tengah kita.
> > >
> > >Anton S
> > >
> > >
> >
> >
> >
> > [EMAIL PROTECTED]
> > ICQ UIN 23276722
> >
> >
---------------------------------------------------------------------
> > To subscribe, email:
[EMAIL PROTECTED]
> > To unsubscribe, e-mail:
[EMAIL PROTECTED]
> > HI-Reliability low cost web hosting service -
http://www.IndoGlobal.com
> >
> > Indonesia without violence!
> 
> 
> 
>
---------------------------------------------------------------------
> To subscribe, email:
[EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail:
[EMAIL PROTECTED]
> HI-Reliability low cost web hosting service -
http://www.IndoGlobal.com 
> 
> Indonesia without violence!
> 
> 

_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Current subscriber count: 246

Kirim email ke