Kabar dari PIJAR


From: alcpamor
Sent: Jumat, 18 Desember 1998 1:22


Referensi untuk kawan Rakyat Indonesia dalam mengantisipasi pembentukan
laskar rakyat terlatih.

Oleh : Mariano Sabino Lopez*

Pembentukan laskar rakyat terlatih merupakan issu baru yang disengaja oleh
pemerintahan Habibie untuk mengelabui rakyat dan mahasiswa dengan
mengalihkan perhatian mereka terhadap diadilinya Soeharto, karena Soeharto
baru diperiksa dan didakwa seputar perbuatan korupsinya belum perbuatan
lain misalnya Soeharto mengatasnamakan rakyat dan bangsa Indonesia dalam
menginvasi bangsa Timor-Leste dan telah melahirkan sepuluh resolusi PBB
yang memfonis Indonesia sebagai penjajah, belum lagi pembantaian terhadap
rakyatnya sendiri (Tanjungperiok, Aceh, rakyat papua,Lampung dll). Namun
demikian issu yang disengaja ini harus tetap disikapi dengan serius sambil
tidak menomorduakan  pentingnya Soeharto diadili atas penjelmaan dirinya
sebagai DRAKULA PENGHISAP DARAH RAKYAT TIMOR-LESTE DAN RAKYAT INDONESIA,
untuk itu kami akan memberi pengalaman rakyat dilatih untuk bersama-sama
ABRI dalam menindas sesama rakyat selama penjajahan regim Soeharto di
Timor-leste.

Sebelum melakukan Invasi formal melalui operasi seroja (sebelumnya sudah
operasi komodo yang bertujuan membuat kekacauan dan memecah belah rakyat di
Timor-Leste sebagai prakondisi dalam melancarkan invasi formal) 7 Desember
1975 terlebih dahulu mempersiapkan rakyat di perbatasan (Nusa Tenggara
Timur) yang belakangan membantu mempertinggi kekacauan di Timor-Leste dan
rakyat yang mengungsi keperbatasan dilatih dan dipersenjatai serta dipaksa
untuk membuat sebuah deklarasi Integrasi yang dikenal dengan deklarasi
Balibo yang konsepnya dibuat di Hotel Bali.

Sesudah Invasi, rakyat Timor-Leste bersama pasukan FALINTIL melakukan
perlawanan di beberapa daerah yang mempersulit ABRI menguasai Timor-Leste
maka ABRI melatih lagi rakyat yang sudah menyerah maupun tertangkap untuk
memperlancar operasi, kelompok tersebut antara lain:

1. Partisan : kelompok kelas menengah (mereka yang pernah aktif di partai
dan pegawai portu) kelompok ini cukup besar, kelompok ini digaji dan diberi
beras setiap bulan.

2. Tonsus : kelompok ini adalah mantan tropas(bekas pasukan portugis),
mereka ini wilayah operasinya di Los palos di pimpin oleh Joao Branco
(anggotanya sekitar 500 orang ; belakangan kelompok ini  dibantai oleh
Pasukan Baret merah didaerah Baucau karena diduga membantu pasukan
FALINTIL, walaupun kelompok ini sudah tahu akan dibunuh sebelum mereka
digiring ke Baucau namun mereka pasrah karena mereka diancam seluruh rakyat
disetiap desa anggota Tonsus akan dibantai bersih bila Tonsus berontak
akhirnya mereka  berpisah dengan keluarga mereka dalam perpisahan ini
tercipta salah lagu yang syairnya "jiwa dan raga kami tetap untukmu negeri
dan anak bangsa Timor-Leste, apa yang kami lakukan dalam sebuah
keterpaksaan dan dibawah bayang-bayang ancaman pembantaian keluarga yang
juga pemilik bangsa Timor-leste" dalam kondisi tersebut mereka tetap
membantu FALINTIL, mereka dicurigai setelah ketahuaan dalam peperangan ada
dua orang yang mati dalam posisi berjabat tangan satunya anggota FALINTIL
satunya anggota Tonsus.

3. Hansip dan Ratih : mereka ini direkrut dari rakyat yang mengangur.
Kelompok ini tidak digaji melainkan hanya diberi beras tiap bulan, kelompok
ini memiliki anggota ribuan berada di setiap kecamatan dan desa,
lebih-lebih dalam kondisi kelaparan. Biasanya mereka akan dikasih uang dan
beras satu karung bila mereka bisa membunuh anggota gerilya dengan membawa
kepalanya sebagai bukti. Anggota kelompok ini sering dimanfaatkan untuk
mencari dan membunuh anggota keluarganya yang masih gerliya dengan ancaman
akan membantai keluarga yang lain bila tidak berhasil.

4. KAMRA, kelompok ini membantu polisi dengan tugas yang tidak berbeda
dengan kelompok terdahulu cuman kelompok ini dibawah naungan kepolisian.

Sesudah tahun 1982 kelompok partisan dan kelompok tonsus direkrut jadi
pegawai negeri dan digantikan kelompok lain yang lebih agresif dengan gaji
yang lebih tinggi, pekejaan kelompok ini antara lain mencuri ternak dan
pertanian rakyat, meneror, melakukan SARA, mengintimidasi, memperkosa atau
sebagai perantara anggota ABRI dalam memperkosa gadis-gadis, membunuh,
membantu ABRI dalam menyiksa anggota perlawanan yang tertangkap untuk
mengunkapkan persembunyian anggota FALINTIL, melakukan demonstrasi
tandingan dll. Kelompok ini terdiri dari: MAKIKIT, HALILINTAR, ALFHA, SAKA,
RAJAWALI, GARUDA HITAM, GARUDA PENCULIK, GARDAPAKSI, SGI dll.
Kelompok ini memiliki hak-hak istimewa seperti numpang bis tidak dipungut
biaya dan kelompok ini diorganisir langsung dibawah kopasus.

Dalam perjalananya kelompok ini dilatih dengan menguasai berbagai teknik
penyiksaan dan teknik mengadu domba yang sangat lincah dan sistimatis yang
beroperasi sampai sekarang. Menurut penulis sinyalemen pembentukan ratih
(rakyat terlatih) di Indonesia akan mengunakan metode dan teknik yang tidak
jauh berbeda dengan apa yang terjadi di wilayah jajahan Indonesia, karena
segala cara dalam memecah belah rakyat Indonesia sebelumnya telah
dipraktekan terlebih dahulu di Timor-Leste. Semoga pengalaman ini menjadi
salah satu referensi bagi rakyat Indonesia dalam menolak LASKAR RAKYAT
TERLATIH (RATIH).


* Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa/Pelajar Timor Timur (IMPETTU)
se-Indonesia.



_______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com

Indonesia without violence!

Kirim email ke