Rekan - rekan, saya coba meluruskan pemberitaan pak pendeta.

Kerusuhan Poso tidaklah  menyebabkan adanya pembakaran rumah2 ibadah.Jadi
pemberitaan Pak Pendeta kali ini tidak berhubungan dengan kejadian Poso yang
memberitakan seakan - akan hanya jemaat saja yang mengungsi seperti email
sebelumnya.

Pembakaran yang terjadi di Palu yaitu Gereja Oikumene Iradat Puri tidaklah
berhubungan dengan kerusuhan di Poso. Pembakaran Gereja yang terjadi di Palu
bukanlah masalah sara, tapi adalah masalah tanah. Tanah penduduk yang diserobot
pemerintah untuk pembangunan gereja, namun tidak ada  penggantian atas tanah
yang digunakan tersebut. Tuntutan rakyat agar tanah tersebut mendapat "nilai"
yang layak tidak mendapat perhatian yang layak, sehingga rakyat marah dan
membakar bangunan yang berdiri di atas tanah tersebut.

Apapun yang telah terjadi, hati saya mengutuk apa yang telah terjadi (baik
penyerobotan tanah rakyat, gereja yang dibakar, dan rakyat yang kalap karena
tidak mendapat haknya), dan berdoa agar semua pihak diberi ketenangan hati dan
pikiran yang jernih untuk menyelesaikan masalah ini.

Bagi kita yang "berpikir", kita hanya bisa  prihatin atas semakin lemahnya hukum
di negeri ini, sehingga setiap orang dapat berteriak atas nama rakyat, atas nama
suatu agama untuk menghalalkan segala perbuatannya. Padahal rakyat kita saat ini
sedang lapar, gampang diprovokasi atas masalah apapun. Ya masalah sara, buruh,
tanah, dukun santet, dll, dimana kelambanan hukum dijadikan alasan untuk
memecahkan masalah dengan jalan pintas.

Saya kurang sreg dengan hitung-hitungan pak Pendeta tentang jumlah gereja yang
dibakar, sama dengan kurang sregnya hati saya jika ada orang yang menghitung
jumlah masjid yang dibakar, atau orang I dan K yang mati selama pemerintahan
seseorang.
Begitu pula jika ada gubernur yang berhitung2 jumlah rakyatnya yang mati selama
pemerintahan seseorang dan menyimpulkan lebih baik tinggal pada zaman majapahit
karena saat tersebut adalah zaman keemasan di negeri ini.

Bagi saya, hitung-hitungan itu bukan merupakan konklusi yang eksak seperti
matematika, tapi itu hanya merupakan gambaran kondisi sosial yang saat ini telah
dan sedang terjadi. Pemecahannya adalah intropeksi dan pengendalian diri bukan
hanya pada pemerintah, tapi juga pada para pendeta, ulama, pemuka adat dan
kepala keluarga di dalam keluarganya.

Demikian saya ingin meluruskan seluruh pemberitaan pak pendeta agar menjadi
jelas adanya.

Met tahun baru, semoga kenangan pahit di tahun 98 dapat berubah menjadi
kegembiraan di tahun  yang baru.

Dadang Darmawan
Sulawesi area



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **

Indonesia without violence!

Kirim email ke