Bung Joseph,

Saya juga ingin memberi pendapat dari perspektif yang lain pula.

Mengenai kecenderungan perilaku para konglomerat Indonesia dalam hal
berbisnis saya sangat setuju dengan pendapat Bung Joseph.

Dalam kasus industri pulp, tampaknya masalah integrasi input dengan
kapasitas produksi kurang mendapat perhatian. Ketika pabrik dengan
kapasitas tertentu harus dioperasikan untuk mengejar target produksi
tertentu agar secara finansial investasi itu menguntungkan maka
tingkat input tertentu harus tersedia. Bila tidak maka pabrik akan
bekerja pada tingkat dis-economic of scale dimana.

Di sisi yang lain, turn over kayu sebagai input cukup lama agar
optimal yaitu sekitar 5-6 tahun. Oleh karena itu, sebuah pabrik harus
memiliki lahan (HPH) yang sangat luas sedemikian rupa sehingga
pengambilan input kayu dari area pertama hingga area terakhir memiliki
interval waktu antara 5-6 tahun. Hal ini memungkinkan area yang
pertama diambil telah siap diambil lagi dan rutinitas supply input
dari HPH yang dikuasai pemilik pabrik bisa terjamin.

Apakah keadaannya demikian? Masih ingat bukan ketika ada pengusaha
yang mencuri kayu untuk memenuhi supply input pabriknya? Dalam kasus
IIR, dulu Soedomo sebagai Pangkopkamtib paling getol membungkam dan
berbicara seperti ketika dia membela bak humasnya Golden Key.....

Nah, persoalannya memang mereka telah cacad sejak lahir. Perencanaan
pendirian prabrik yang membutuhkan supply input agrobisnis itu tidak
memperhitungkan integrasi subsistem yang terkait dalam manajemennya.
Mestinya perencanaan kapasitas pabrik disesuaikan dengan kapasitas
inputnya. Dengan kata lain, subsistem-subsistem itu harus dikelola
secara terpadu. Kehancuran pabrik gula di Jawa adalah contoh yang
lain. Industri agrobisnis berbeda dengan industri manufaktur.

Dalam kasus IIR, mengurangi kapasitas produksi agar sesuai dengan
kapasitas inputnya jelas secara ekonomi tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Namun demikian, kalau mereka harus bekerja pada
kapasitas optimalnya maka apakah kontinuitas supply input given luas
HPH yang dimiliki bisa dijaga. Juga kerusakan lingkungan itu secara
ekonomi juga harus diperhitungkan sebagai biaya

Nah ibarat buah simalakama. Membiarkan IIR terus masyarakat
disekitarnya dalam jangka panjang akan lebih menderita, namun
membiarkan IIR mati maka suplly industri akan berkurang.

Apakah IIR sekarang sudah berada pada shut down point? Bila jawabannya
positip maka tampaknya memang harus di tutup karena dalam jangka
panjang jelas lingkungan itu akan semakin rusak dimana biaya untuk
mengembalikannya akan dibutuhkan biaya yang jauh lebih besar.

Bung Joseph, IIR hanya satu dari sekian banyak contoh artifak
manajemen Soeharto.

-----Original Message-----
From: Joseph Marzuki <[EMAIL PROTECTED]>

Marilah kita hindarkan semakin banyak besi-besi tua terkapar dan
tersia-siakan, agar ekonomi bangsa ini tidak terpuruk lebih jauh lagi.
----------------------------------------





______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke