Joseph:

Saya mencoba menanggapi tulisan ini dari perspektif yang lain :

Kalau Indorayon ditutup, maka kondisinya kelak akan sama dengan nasib
bangkai pabrik Golden Key-nya Eddy Tansil, akhirnya menjadi besi tua. Siapa
yang rugi?? Yang terutama adalah perbankan yang membiayainya. Bangsa ini
secara tidak langsung juga dirugikan, karena suatu production plant yang
masih productive dibiarkan tidak berproduksi, sementara negara butuh devisa
untuk memperbaiki ekonomi yang amburadul. Pemilik Indorayon sendiri mungkin
tidak terlalu dirugikan dengan penutupan pabrik tersebut karena penutupan
ini akan menjadi "excuse" untuk tidak membayar pinjamannya kepada bank-bank
yang membiayainya baik perbankan dalam negeri maupun perbankan luar negeri.
Saya tidak mempunyai data sama sekali mengenai hal ini, tetapi melihat pola
usaha konglomerat Indonesia, dugaan saya Indorayon juga melakukan pola
investasi yang sama : highly leverage (kalau perlu dengan mark-up), sehingga
praktis project financingnya bersumber dari bank.


Martin:
Pabrik IIU mungkin akan jadi besi tua. Itu lebih baik!! Daripada rakyat yang
jadi besi tua? Anda sudah pernah ke Porsea? Sudah lihat keadaan di sana?
Sudah lihat penderitaan rakyat? Sudah lihat ternak2 yang mati? Sudah lihat
generasi muda yang sakit-sakitan? Sudah lihat rumah yang keropos karena
teroksidasi oleh chlorine? Sudah lihat ikan-ikan yang mati karena buangan
Indorayon? Sudah lihat semuanya itu? Sudah lihat??? Kalau belum, sebaiknya
anda lihat! Bila manusia, rakyat yang kita cintai itu menjadi korban, kok
anda masih sayang sama besi tua?


Joseph:
Tentunya penutupan Indorayon akan berdampak pada semakin takutnya Kreditur
dan "investor asing" mengucurkan uangnya ke Indonesia. Kepastian berusaha di
Indonesia semakin dipertanyakan, sementara kepastian hukum memang telah lama
tidak ada. Agar fair terhadap Indorayon, pilihan penutupan pabrik secara
permanen harus diikuti dengan penutupan sekian banyak pabrik termasuk
Freeport yang dalam derajat yang hampir sama melakukan pencemaran dan
kerusakan lingkungan. Apakah kita siap? Tentu saja kita tidak mengharapkan
akumulasi dari satu persatu kejadian menyebabkan pada akhirnya Indonesia
semakin terisolasi dan terpuruk. Marilah kita cari alternatif lain.


Martin:
Tidak, investor tidak akan takut. Karena seperti yang saya katakan, bangun
agro-industri, yang lebih familiar dengan lingkungan, dan lebih
memberdayakan rakyat. Apakah siap bila pabrik2 pencemar ditutup? Ya siap
dong! Seperti yang saya bilang, mengapa harus sayang sama besi tua, dan
bukan sama manusia.

Joseph:
Lantas, kalau tidak ditutup apa solusinya?
Kalau dilumbung padi ada tikus, sebaiknya tikusnya yang ditangkap, tidak
sekalian lumbung padinya dibakar! Hal yang sama dengan kasus Indorayon,
kiranya beberapa tindakan berikut dapat menjadi alternatif solusi yang baik
bagi semua pihak (win-win solution) :


Martin:
Berarti anda tidak membaca tulisan saya semuanya ya? Saya katakan solusinya
adalah di tangan rakyat. Mereka selama satu dasawarsa lebih dibunuh
perlahan2 oleh Indorayon. Suara mereka tidak pernah di dengar. Bila mereka
protes, yang ditangkap malah rakyat, yang dibunuh juga rakyat. Bangun
agro-industri sebagai alternatif. Dan pasti agro-industri lebih
menguntungkan bagi bangsa dan negara ini.


Joseph:
1. Pertama, masalah pencemarannya sendiri, secara teknis, diupayakan agar
diminimalisasi sebisa mungkin. Disini perlu melibatkan ahli lingkungan yang
"independent" dan "tidak dapat dibeli" untuk memformulasikan langkah-langkah
perbaikan yang perlu dilakukan oleh Indorayon dan disepakati oleh perusahaan
dan wakil dari masyarakat setempat. Agar rencana ini workable, maka usulan
perbaikan dan pencegahan kerusakan lingkungan harus realistis, dalam
batas-batas yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Disini diharapkan
sikap moral yang baik dari para pejabat yang selama ini "diajak
berkonsultasi" oleh Indorayon, agar memihak pada yang benar...


Martin:
APakah anda mengikuti kasus Indorayon? Tampaknya tidak. Sebab, ahli-ahli
lingkungan dari LN dan dari LSM-LSM telah menelitinya (sejak lama) dan
memang Indorayon itu tidak layak ada di Porsea. Di LN, pabrik spt Indorayon
itu berada jauh dari pemukiman. Sedangkan Indorayon hanya 3-5 km dari
pemukiman! DI LN, pabrik spt Indorayon itu berada di hilir sungai. Sedangkan
Indorayon berada di HULU sungai Asahan!! Dll. Jadi, tak ada pilihan lain, ia
memang harus ditutup dan dipindahkan ke tempat yang lebih layak.

Joseph:
Marilah kita hindarkan semakin banyak besi-besi tua terkapar dan
tersia-siakan, agar ekonomi bangsa ini tidak terpuruk lebih jauh lagi.

Martin:
Kalau saya, marilah kita doakan: "AGAR RAKYAT TIDAK TERUS MENERUS MENJADI
KORBAN KEBIADABAN DAN KERAKUSAN PENGUASA". Ini doa saya. Besi tua Indorayon
terkapar, tidak menjadi masalah. Lagi pula, tahukah anda the fundamental of
the fundamentals of economy itu bukan besi-besi pabrik, tetapi MANUSIA!
Pernah mendengar istilah, "Human Capital"? Human capital lah yang selalu
dilupakan untuk dibangun di Indonesia. Kita selalu lebih concern terhadap
"besi tua" (spt yang anda bilang) daripada manusia itu sendiri. Makanya,
kita mengalami krisis yang paling parah, karena Human Capital kita tidak
dibangun. Saatnya kita membangun human capital dan jangan silau oleh
pembangunanisme. Pembangunan dengan human capital yang baik, walaupun lebih
perlahan pertumbuhannya, tetapi akan mencapai sustainable development dan
perekonomian yang kokoh.

Martin Manurung
Mahasiswa FE-UI






______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke