-----Original Message----- From: Joost A. Nelwan <[EMAIL PROTECTED]> Date: Friday, April 23, 1999 15:02 Subject: [Kuli Tinta] Hargailah pandangan dan pilihan orang lain. >Salam reformasi, > >Janganlah kita cepat kecewa kalau keinginan kita tidak terikuti. >Masing-masing boleh memiliki pendapat sendiri-sendiri, bukan? Ada yang >memilih bersifat introvert ada yang memilih bersifat extrovert. Marilah kita >belajar menghormati pilihan pendapat masing-masing. >Reaksi masyarakat pada diri kita akan sesuai dengan pandangan dan pilihan >kita. Marilah kita juga belajar menghormati pilihan pendapat umum. Bermain >api hangus, bermain air basah. Ini adalah pilihan masing-masing yang patut >dihormati, asalkan tidak merugikan orang lain secara langsung. > >Marilah kita belajar berhati besar dalam melihat pandangan dan pilihan orang >lain. Hai.. saya setuju dgn bung Joost. Memang di sini justru kelemahan kebanyakan masyarakat Indonesia. Belum dapat menyadari makna demokrasi yang sebenarnya. Anyway, bukan berarti menyalahkan siapa-siapa lho.. :-) Lalu soal debat nih.. saya juga mau ikutan urun pendapat. Saya sependapat dengan bung Drajad, yang menyatakan bhw para calon dari partai-partai bersikap cenderung sombong dan takabur. Memang, mereka yang 'merasa mampu' untuk melakukan debat akan berpikir "debat? sapa takut?" Tapi mbak Megawati dan Sultan HB X yang 'enggan' ikutan debat, justru saya kecewa. Betul kata mbak Beby, seharusnya mbak Mega membuktikan kualitas beliau, tidak hanya mengandalkan 'kharisma' dari bapaknya. Begitu pula dengan Sultan HB X.. Memang debat ini sangat diperlukan untuk menguji calon-calon presiden ini, supaya masyarakat lebih pasti dalam memilih. Saya rasa masyarakat sekarang tidak terlalu peduli dgn nama partai, yang penting pemimpin terpilih dapat membawa Indonesia keluar dari krisis ini dan menciptakan kesejahteraan yang merata yang didambakan oleh semua pihak. Namun satu catatan, debat ini juga tidak dapat dijadikan tolak ukur pasti. Tidak berarti yang jago debat, berarti dia memang berkualitas untuk memimpin bangsa. Saya sendiri punya pengalaman buruk, di organisasi saya, ada pemilihan calon pemimpin, di adakan debat. Hanya satu calon yang memang terlihat unggul, dan akhirnya terpilih jadi pemimpin. Namun ternyata dia hanyalah si busuk yang punya wawasan luas dan pandai bicara!!! Organisasi saya jatuh.. berantakan. Untuk itu, harap diingat bahwa kita pun tidak dapat menggantungkan hanya pada hasil debat yang akan dilakukan nanti oleh para 'calon presiden' tsb. Tapi mari kita sambut acara debat ini... PS. Tapi rasanya untuk fans fanatik calon tsb, apapun hasil debat ini tidak akan berlaku, ya?! wassalam, DEZIG!! ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
