nahhh.. ini komentar dari bung iwan ini yang sebenarnya ingin saya peroleh
dari mail saya kemarin.
bahwa sistem pemilihan presiden di indonesia masih dipercayakan kepada
majelis (perwakilan) rakyat.
ya nanti biar saja acara debat itu diadakan oleh fraksi-fraksi mpr yang
mencalonkan "jago"nya masing-masing.
selainnya itu saya tetap belum mendengar (eh... membaca ding) program
capres-capres itu yang langsung benar-benar menyatakan "demi kesejahteraan
rakyat indonesia".
ok-lah ada yang mau memberantas kkn.... tapi kalau kesejahteraan rakyat
timpang dengan berbagai kekejaman sosial (misalnya bermobil mewah di kawasan
kumuh... ato pengusaha untung milyaran rupiah per tahun tapi mengupah
pekerja dengan umr 150 ribu saja)... apa bisa berhasil?
atau dakik-dakik memperbaiki sistem pemerintahan, kedaulatan hukum,
legislatif, mengubah uud lagi... sementara pengubahan-pengubahan itupun
masih menjadi hak dan kewajiban majelis, bagaimana mau mewujudkan?
terakhir... toh acaranya bukan debat ya? masing-masing masih cenderung
pidato monolog atau menjawab pertanyaan. jadi yaa kampanye lah.  lucunya
lagi toh ujung-ujungnya banyak ungkapan: "kalau memang partai dia (si a si
b) berhasil memenangi pemilu.. dengan ikhlas saya persilakan dia jadi
presiden" hahaha.. berarti belum yakin akan kekuatan partai masing-masing
kan?

terimakasih, maaf ngrepotin..

wassalam,

drajad
--------------
----- Original Message -----
From: iwans <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, April 24, 1999 11:44 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] demokrasi + debat.. :-)


>Kesimpulannya begini, alasan tokoh-tokoh politik kita menjadi Presiden
karena :
>
>Megawati adalah puteri kandung Bung Karno, Presiden pertama Republik
Indonesia
>(1945 - 1967) dan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan.
>
>Sri Sultan Hamengkubuwono X adalah putera kandung Sri Sultan Hamengkubuwono
X,
>Wakil Presiden RI (1973 - 1978) dan Gubernur DI Yogyakarta seumur hidup.
Sri
>Sultan juga mantan Ketua DPD Golkar DI Yogyakarta.
>
>Abdurrahman Wahid adalah putera kandung KH Wahid Hasyim, Ketua Umum PB NU
dan
>mantan Menteri Agama RI pertama sekaligus cucu tertua pendiri Organisasi
Islam
>tradisional Nahdlatul Ulama. Gus Dur juga Ketua Umum PB NU.
>
>Prof Dr M Amien Rais adalah mantan Ketua PP Muhammadiyah yang menjelang
>reformasi memimpin Majelis Amanat Rakyat yang menjelma menjadi Partai
Amanat
>Nasional.
>
>--------------------------------------
>
>Mestinya kita senang dong punya calon Presiden sekian banyak. Belum
termasuk
>calon-calon lainnya seperti Nurcholish Madjid (PMB), Try Sutrisno (PKP),
Wiranto
>(TNI), BJ Habibie dan Akbar Tandjung (Golkar), Guntur Soekarnoputera (PND),
>Deliar Noer (PUI), Hamzah Haz (PPP) dan Yusril Ihza Mahendra (PBB).
>
>Memilihnya bingung ? Lho, kita memilih partai kok bukan orang. Yang memilih
kan
>MPR nanti. Tinggal nanti saling tawar-menawar di MPR, siapa menjadi apa ?
>
>Gitu aja,
>
>
>Iwans
>
>DEZIG! wrote:
>
>> -----Original Message-----
>> From: Joost A. Nelwan <[EMAIL PROTECTED]>
>> Date: Friday, April 23, 1999 15:02
>> Subject: [Kuli Tinta] Hargailah pandangan dan pilihan orang lain.
>>
>> >Salam reformasi,
>> >
>> >Janganlah kita cepat kecewa kalau keinginan kita tidak terikuti.
>> >Masing-masing boleh memiliki pendapat sendiri-sendiri, bukan? Ada yang
>> >memilih bersifat introvert ada yang memilih bersifat extrovert. Marilah
>> kita
>> >belajar menghormati pilihan pendapat masing-masing.
>> >Reaksi masyarakat pada diri kita akan sesuai dengan pandangan dan
pilihan
>> >kita. Marilah kita juga belajar menghormati pilihan pendapat umum.
Bermain
>> >api hangus, bermain air basah. Ini adalah pilihan masing-masing yang
patut
>> >dihormati, asalkan tidak merugikan orang lain secara langsung.
>> >
>> >Marilah kita belajar berhati besar dalam melihat pandangan dan pilihan
>> orang
>> >lain.
>>
>> Hai.. saya setuju dgn bung Joost.
>> Memang di sini justru kelemahan kebanyakan masyarakat Indonesia. Belum
dapat
>> menyadari makna demokrasi yang sebenarnya.
>> Anyway, bukan berarti menyalahkan siapa-siapa lho.. :-)
>>
>> Lalu soal debat nih.. saya juga mau ikutan urun pendapat.
>> Saya sependapat dengan bung Drajad, yang menyatakan bhw para calon dari
>> partai-partai bersikap cenderung sombong dan takabur. Memang, mereka yang
>> 'merasa mampu' untuk melakukan debat akan berpikir "debat? sapa takut?"
>> Tapi mbak Megawati dan Sultan HB X yang 'enggan' ikutan debat, justru
saya
>> kecewa. Betul kata mbak Beby, seharusnya mbak Mega membuktikan kualitas
>> beliau, tidak hanya mengandalkan 'kharisma' dari bapaknya. Begitu pula
>> dengan Sultan HB X..
>>
>> Memang debat ini sangat diperlukan untuk menguji calon-calon presiden
ini,
>> supaya masyarakat lebih pasti dalam memilih. Saya rasa masyarakat
sekarang
>> tidak terlalu peduli dgn nama partai, yang penting pemimpin terpilih
dapat
>> membawa Indonesia keluar dari krisis ini dan menciptakan kesejahteraan
yang
>> merata yang didambakan oleh semua pihak.
>>
>> Namun satu catatan, debat ini juga tidak dapat dijadikan tolak ukur
pasti.
>> Tidak berarti yang jago debat, berarti dia memang berkualitas untuk
memimpin
>> bangsa.
>> Saya sendiri punya pengalaman buruk, di organisasi saya, ada pemilihan
calon
>> pemimpin, di adakan debat. Hanya satu calon yang memang terlihat unggul,
dan
>> akhirnya terpilih jadi pemimpin. Namun ternyata dia hanyalah si busuk
yang
>> punya wawasan luas dan pandai bicara!!! Organisasi saya jatuh..
berantakan.
>>
>> Untuk itu, harap diingat bahwa kita pun tidak dapat menggantungkan hanya
>> pada hasil debat yang akan dilakukan nanti oleh para 'calon presiden'
tsb.
>> Tapi mari kita sambut acara debat ini...
>>
>> PS.
>> Tapi rasanya untuk fans fanatik calon tsb, apapun hasil debat ini tidak
akan
>> berlaku, ya?!
>>
>> wassalam,
>> DEZIG!!
>>
>> ______________________________________________________________________
>> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>
>> Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke