Bung Prama,

Bagaimana tanggapan Galib terhadap Buku Putih Kejahatan Perbangkan
Indonesia jilid I itu?

Mungkin Bung Prama benar mengenai kasus Amin dan GJA yang tidak mau
datang ke KA, namun bukankah buku GJA itu telah memuat data yang bisa
menjadi penelusuran lebih lanjut tanpa mereka harus datang?

Kasus Arifin langsung mencuat tanpa ada indikasi sebelumnya yang
sampai di publik namun Galib langsung menuduh Arifin dengan geram
sehabis sholat Jumat pada saat itu ketika diwawancarai oleh pers.
Artinya, mereka bisa bekerja sendiri dan mencari data sendiri. Kini
trilyunan (baca:bukan milyardan) menjadi bancakan dan para bankir
bahkan "terkesan" mendapat perlindungan dengan ucapan Galib yang
terakhir mengenai orang-orang yang ingin memeras para bankir itu.
Namun, mengapa Galib seandainya melihat itu sebagai pemerasan padahal
pelapornya ada tidak segera menindak namun justru memberi jawaban yang
tidak jelas arahnya ketika didesak oleh para wartawan? (ucapan, mata
dan raut muka akan menjelaskan apakah sebenarnya seseorang serius atau
tidak) Padahal kita sekarang mengetahui bahwa pesangon untuk para
karyawan yang kena program pahe akan dibayar oleh pemerintah (artinya
rakyat yang harus menanggung) sedang para bankir itu bisa berleha-leha
dengan kekayaannya bahkan dengan bebas keluar masuk Indonesia karena
masalah DOT dan kal-mencekal mereka juga masih menjadi perdebatan rame
antara Muladi denghan Bambang.

Saya percaya Bung mengetahui lebih banyak kebobrokan sistemik di
pusat. Ketidak hadiran Amin dan GJA ke KA tidak akan menjamin bahwa
penyelesaiannya akan menjadi lebih baik. Kalau Bung Prama bisa
mengatakan bahwa Tommy akan bebas murni maka apakah Amin dan GJA tidak
boleh berpendapat "apa gunanya saya bukak-bukakan kalau penyelesaian
akhirnya sudah bisa diduga sebelumnya" Seandainya SCTV berminat maka
saya amat sangat yakin kalau Galib pasti tidak akan diijinkan.  Itu
sama saja membuka apa yang seharusnya tidak dibuka. Lawannya adalah
Amin dan GJA, he... he... yang secara informasi dan kadar intelektual
kayaknya sih tidak dibawah Galib. Disamping itu. Amin dan GJA sudah
terbiasa mencari kebenaran dengan format yang berbeda dengan Galib.

Soal Yunus saya sependapat dengan Bung. Perdebatan dan kritik terhadap
Yunus di TVRI secara langsung memang menunjukkan bahwa bagaimanapun
juga ia masih menggunakan nalar didalam menanggapi kritik-kritik yang
tajam dan terbuka dari pers dan masyarakat.

Mengenai pernyataan bahwa Soleh Salahudin sebagai orang Golkar seperti
halnya Muladi mohon di jernihkan lagi. Dalam sejarah perkembangan
politik di Indonesia, siapa saja teknokrat yang masuk ke pemerintahan
akan "dianggap" sebagai bagian dari Golkar seperti halnya Golkar
,enganggap bahwa pembangumnan ini adalah hasil Golkar. Bahkan di
Perguruan Tinggi baik swasta dan negeri, pengGolkaran itu bersifat
"harus" karena mereka menjadi Korpri yang menyalurkan aspirasi
politiknya ke Golkar. Soeharto hebat ya....  Silahkan saja menelusuri
latar belakang pendidikan politik Muladi, Soleh, atau bahkan Bambang
Yudhoyono, apakah Golkar? Apakah Habibie benar mengerti mengenai
Golkar? Jadi, di jaman reformasi ini dimana kekuasaan bukan lagi di
satu tangan maka stigma itu perlu diluruskan lagi. Kalau mau melihat
Golkar lihatlah Harmoko, Akbar, Gafur, dll. Setelah sang bos Golkar
lengser maka orang-orang itu kan harus mencari identitas sendiri.

Namun demikian, Bung Prama harus ingat bahwa bagi elite Golkar bukan
tidak mustahil bahwa orang macam yang Bung sebut tadi akan dianggap
sebagai duri dalam daging yang akan mengancam kelanggenagan budaya
organisasi Golkar yang tertutup agar KKN bisa berjalan untuk
melanggengkan kekuasaannya. Belum tentu mereka itu nantinya akan
digunakan lagi seandainya Golkar menang. Ini harus dicatat. Masih
ingat kasus Warih bukan? Inga... inga...

Kalau Bung Prama percaya pada beberapa polling itu termasuk lab fisip
UI maka sebentar lagi kita akan melihat. Kalau nanti ternyata polling
fisip UI itu meleset secara signifikan maka itu harus menjadi catatan
sejarah akademik di Indonesia dan mereka para akademisi yang terlibat
didalam pooling itu hendaknya tahu diri. He... he... bagaimana kabar
Din Samsudin dan Amir Santosa setelah perubahan konstelasi politik
nasional? Apakah mereka masih berkibar? Emas memang bisa dibedakan
dari tembaga Bung!

Bung Prama seorang pengusaha besar bukan, nah dikenal analisis pareto
untuk problem solving and decision making. Apakah masalah pokok bangsa
ini ? Apa penyebab utamanya? Apa yang harius dilakukan oleh bangsa
ini? Gradual kontinyu atau radikal diskontinyu?


-----Original Message-----
From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>

Tetapi Andi Galib juga benar dengan fakta bahwa GJA dan Dr. Amien Rais
memang tidak (berani) datang ke Kejagung untuk buka-bukaan. Sebaliknya
Galib mestinya tahu bahwa dia berhak memanggil keduanya atas
statementnya tentang korupsi. Juga sinyalemen Kejagung tentang
pemerasan kepada Bankir nakal.

Alangkah indahnya kalau SCTV atau lainnya mampu mengkonfrontir Andi
Galib dan Dr Amien Rais dalam talk show yang dimoderatori Wilmar
Witular. Apalagi dengan GJA.

--








______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke