Aduh...., saya bukan profesor Mas... Saya hanya orang biasa yang
memperoleh rahmat Allah sehingga memungkinkan untuk berkomunikasi
lewat media semacam ini.
Mengenai analisis pareto, orang sering menggunakannya untuk
mengidentifikasi masalah terbesar yang harus segera diatasi agar tidak
menjadi masalah yang lebih besar lagi. Ah..., jangan pura-pura naik
perahu mas...
Kalau Arifin saya angkat sebagai contoh justru untuk menunjukkan
bagaimana kita semakin bisa menilai posisi Galib. Bandingkan pula
dengan kasus Bankir dan CBC yang kini menjadi agenda Galib dengan
memanggil AR dan direktur CBC nya.
Mengenai "Tapi sebagai bangsa yang mewarisi budaya Asia, rasanya semua
mesti berjalan santun, tanpa ada yang kehilangan muka" tampaknya kita
perlu berhati-hati. Justru mereka yang menjaga nilai-nilai itu de
facto semakin tersisih karena yang dihadapi adalah mereka yang
menepis nilai-nilai itu dengan muka beton dan hati kedondong. Untuk
mereka yang seperti itu memang mukanya harus dihilangkan agar menjadi
pelajaran mengenai nilai tenggang rasa dan tidak menyakiti orang lain.
Pernah ke Solo Baru Mas? Hati saya teriris ketika melihat petani
menyiangi padi di lahan kosong di samping rumah-rumah beton yang
mewah. Para petani yang dulu memiliki tanah yang subur itu harus
tersisih oleh sistem yang mengagungkan nilai kekuasaan dan
materialisme.
Yang lain, I am just on the same side.
Gudeg Yu Jum adalah generasi kedua dan merupakan tipe gudeg di Yogya
yang mulai berkembang sejak 1980an dimana gudeg harus tahan lebih dari
1 hari tidak basi kalau dibawa untuk oleh-oleh. Gudeg Yogya yang
terasa manis menunjukkan bahwa orang Yogya memang suka yang mantab dan
jelas bukan yang seakan-akan... he... he.... Tipe yang tradisional
sebenarnya masih banyak. Just let me know if you want to get down to
Yogya. Profit sharing untuk ternak hewan di Yogya masih mungkin
digarap lho mas....
salam.
-----Original Message-----
From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, May 06, 1999 9:14 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Galib vs Muladi
Professor, terima kasih tanggapannya.
Tanggapan Galib tentang Buku Putih dan peluncurannya sudah mencuat
dengan memanggil Prof Amien Rais dan Dedi ke Kejagung. Semoga bukan di
Anwarkan.
Tentang Arifin, saya lihat nggak salah dia. Barangkali malah Jasindo
yang kena.
Tentang Prof Amien dan GJA, reasoningnya simple saja, bahasa lisan
memperkaya bahasa tulisan.
Kalau mereka datang dan diliput media, secara moral akan terangkat.
Tentang pemerasan, perlu political will dan komitmen yang kuat untuk
menegakkan hukum secara independent. Kita lihatlah serial lanjutan
dari Gedung Bundar ini.
Prof.Muladi dan Prof Soleh pernah tampil dengan jas kuning, bahkan
mungkin masuk struktur pengurus pusat Golkar. Tapi mungkin saja saya
salah. Maaf.
Maksud saya, bagaimana agar kita tetap obyektif melihat "putera
terbaik bangsa" untuk dipadu dalam team perbaikan nasib bangsa.
Tentang nama Golkar lain yang Professor sebut, maaf saya hanya
bermohon semoga Allah mengampuni dosanya dan mendapat petunjuk kejalan
yang benar.
Tentang polling, ya respondennya masih terbatas dan mungkin terarah,
tetapi bagaimanapun segala indikasi kita perhatikan, supaya nggak
terkejut.
Tentang saya, saya bukan pengusaha besar. Saya hanya teman banyak
orang, yang kerjanya rekreasi dan ngobrol, atas jasa dan kerja keras
teman-teman itu.
Penyebabnya?? Trickle down effect memang mengandung bahaya besar
karena menyamakan manusia dengan tempayan. Sehingga tidak cukup dengan
Pareto approach penyelesaiannya. Butuh Strategic decision making
models yang lebih multi dimensi dan nggak perlu ada satu orangpun
yang berpretensi bisa menyelesaikan segalanya. Apalagi saya. Butuh
banyak paradigm-shift untuk mendorong kita kembali menjadi manusia
normal setelah di up side down habis-habisan oleh Raja Soeharto.
Lalu kita mungkin dapat meng-encourage pemerintah yang kredibel kelak
untuk memanajemeni semaksimal mungkin hasil sumber daya alam kita
untuk memperkuat keuangan Negara, sehingga mampu memberi jaminan
sosial bagi seluruh warga negara, agar merasakan hidup sebenarnya
dialam yang begini kaya.
Sejalan dengan tumbuh dan menguatnya National Self Confidence, kita
massalkan pencetakan world class quality human resources, atas biaya
negara. Setelah itu kalau mau liberal penuhpun tak apa.
Sementara ini, perlu dicetak juga, namun kita harus realistis pada
keterbatasan keuangan yang tertimpa prahara.
Kita sudah sangat ketinggalan jadwal, karena itu segalanya harus
cepat. Jadwal yang disepakati untuk membuka pintu AFTA dan APEC kan
belum pernah ditunda. Jadi 2003 dan 2020 tetap jadi komitmen dunia.
Tentang "Gradual kontinyu atau radikal diskontinyu",bisa "neither",
bisa "it depends", Professor. Tapi sebagai bangsa yang mewarisi budaya
Asia, rasanya semua mesti berjalan santun, tanpa ada yang kehilangan
muka.
.... tetapi semua diam, tetapi semua bisu, tinggallah kusendiri,
terpaku menatap langiiiiit...
PS :
Hari Minggu yang lalu saya diajak teman ke Yu Djum, Professor.
Melintasi jalanan kampus biru yang damai.
Gudegnya terlalu manisss.
--
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!