Professor, terima kasih tanggapannya.
Tanggapan Galib tentang Buku Putih dan peluncurannya sudah mencuat dengan memanggil 
Prof Amien Rais dan Dedi ke Kejagung. Semoga bukan di Anwarkan.
Tentang Arifin, saya lihat nggak salah dia. Barangkali malah Jasindo yang kena.
Tentang Prof Amien dan GJA, reasoningnya simple saja, bahasa lisan memperkaya bahasa 
tulisan.
Kalau mereka datang dan diliput media, secara moral akan terangkat.
Tentang pemerasan, perlu political will dan komitmen yang kuat untuk menegakkan hukum 
secara independent. Kita lihatlah serial lanjutan dari Gedung Bundar ini.
Prof.Muladi dan Prof Soleh pernah tampil dengan jas kuning, bahkan mungkin masuk 
struktur pengurus pusat Golkar. Tapi mungkin saja saya salah. Maaf.
Maksud saya, bagaimana agar kita tetap obyektif melihat "putera terbaik bangsa" untuk 
dipadu dalam team perbaikan nasib bangsa. Tentang nama Golkar lain yang Professor 
sebut, maaf saya hanya bermohon semoga Allah mengampuni dosanya dan mendapat petunjuk 
kejalan yang benar.

Tentang polling, ya respondennya masih terbatas dan mungkin terarah, tetapi 
bagaimanapun segala indikasi kita perhatikan, supaya nggak terkejut.
Tentang saya, saya bukan pengusaha besar. Saya hanya teman banyak orang, yang kerjanya 
rekreasi dan ngobrol, atas jasa dan kerja keras teman-teman itu.
Penyebabnya?? Trickle down effect memang mengandung bahaya besar karena menyamakan 
manusia dengan tempayan. Sehingga tidak cukup dengan Pareto approach penyelesaiannya. 
Butuh Strategic decision making models yang lebih multi dimensi dan nggak perlu ada  
satu orangpun yang berpretensi bisa menyelesaikan segalanya. Apalagi saya. Butuh 
banyak paradigm-shift untuk mendorong kita kembali menjadi manusia normal setelah di 
up side down habis-habisan oleh Raja Soeharto.
Lalu kita mungkin dapat meng-encourage pemerintah yang kredibel kelak untuk 
memanajemeni semaksimal mungkin hasil sumber daya alam kita untuk memperkuat keuangan 
Negara, sehingga mampu memberi jaminan sosial bagi seluruh warga negara, agar 
merasakan hidup sebenarnya dialam yang begini kaya.
Sejalan dengan tumbuh dan menguatnya  National Self Confidence, kita massalkan 
pencetakan world class quality human resources, atas biaya negara. Setelah itu kalau 
mau liberal penuhpun tak apa.
Sementara ini, perlu dicetak juga, namun kita harus realistis pada keterbatasan 
keuangan yang tertimpa prahara.
Kita sudah sangat ketinggalan jadwal, karena itu segalanya harus cepat. Jadwal yang 
disepakati untuk membuka pintu AFTA dan APEC kan belum pernah ditunda. Jadi 2003 dan 
2020 tetap jadi komitmen dunia.
Tentang "Gradual kontinyu atau radikal diskontinyu",bisa "neither", bisa "it depends", 
Professor. Tapi sebagai bangsa yang mewarisi budaya Asia, rasanya semua mesti berjalan 
santun, tanpa ada yang kehilangan muka. 

.... tetapi semua diam, tetapi semua bisu, tinggallah kusendiri, terpaku menatap 
langiiiiit...

PS :
Hari Minggu yang lalu saya diajak teman ke Yu Djum, Professor. Melintasi jalanan 
kampus biru yang damai.
Gudegnya terlalu manisss.
--

On Wed, 5 May 1999 08:31:33    eg wrote:
>Bung Prama,
>
>Bagaimana tanggapan Galib terhadap Buku Putih Kejahatan Perbangkan
>Indonesia jilid I itu?
>
>Mungkin Bung Prama benar mengenai kasus Amin dan GJA yang tidak mau
>datang ke KA, namun bukankah buku GJA itu telah memuat data yang bisa
>menjadi penelusuran lebih lanjut tanpa mereka harus datang?
> (deleted, to save space)
>Saya percaya Bung mengetahui lebih banyak kebobrokan sistemik di
>pusat. Ketidak hadiran Amin dan GJA ke KA tidak akan menjamin bahwa
>penyelesaiannya akan menjadi lebih baik. Kalau Bung Prama bisa
>mengatakan bahwa Tommy akan bebas murni maka apakah Amin dan GJA tidak
>boleh berpendapat "apa gunanya saya bukak-bukakan kalau penyelesaian
>akhirnya sudah bisa diduga sebelumnya" 
>
>Soal Yunus saya sependapat dengan Bung. Perdebatan dan kritik terhadap
>Yunus di TVRI secara langsung memang menunjukkan bahwa bagaimanapun
>juga ia masih menggunakan nalar didalam menanggapi kritik-kritik yang
>tajam dan terbuka dari pers dan masyarakat.
>
>Mengenai pernyataan bahwa Soleh Salahudin sebagai orang Golkar seperti
>halnya Muladi mohon di jernihkan lagi. 
(deleted, sorry)
>"harus" karena mereka menjadi Korpri yang menyalurkan aspirasi
>politiknya ke Golkar. Soeharto hebat ya....  
(deleted, sorry)
>Belum tentu mereka itu nantinya akan
>digunakan lagi seandainya Golkar menang. Ini harus dicatat. Masih
>ingat kasus Warih bukan? Inga... inga...
>
>Kalau Bung Prama percaya pada beberapa polling itu termasuk lab fisip UI ......
>(deleted, too)
>Bung Prama seorang pengusaha besar bukan, nah dikenal analisis pareto
>untuk problem solving and decision making. Apakah masalah pokok bangsa
>ini ? Apa penyebab utamanya? Apa yang harius dilakukan oleh bangsa
>ini? Gradual kontinyu atau radikal diskontinyu?
>
>
>-----Original Message-----
>From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>
>
>Tetapi Andi Galib juga benar dengan fakta bahwa GJA dan Dr. Amien Rais
>memang tidak (berani) datang ke Kejagung untuk buka-bukaan. Sebaliknya
>Galib mestinya tahu bahwa dia berhak memanggil keduanya atas
>statementnya tentang korupsi. Juga sinyalemen Kejagung tentang
>pemerasan kepada Bankir nakal.
>
>Alangkah indahnya kalau SCTV atau lainnya mampu mengkonfrontir Andi
>Galib dan Dr Amien Rais dalam talk show yang dimoderatori Wilmar
>Witular. Apalagi dengan GJA.
>
>--
>
>
>
>
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>


Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke