Bagaimana tanggapan saya terhadap hasil wawancara anda??????
Anda egois..........

Janganlah anda paksakan supaya netter setuju dengan perkataan anda bahwa
Golkar dan PDI Perjuangan adalah setali tiga uang, hanya karena anda
menarik kesimpulan dari hasil wawancara anda dengan teman-teman anda.
Saya sendiri sangat positif dengan apa yang dikatakan oleh Sdr. Kwik Kian
Gie.
Bila di Amerika diadakan debat Capres memang memungkinkan karena apabila
presiden tersebut terpilih dan ternyata bermental bajingan maka kongres
US akan dengan sendirinya memberikan mosi tidak percaya. Contohnya, Bill
Clinton terlibat kasus seksual sudah hampir dijatuhkan dari kursi
kepresidenan. Nah, kalau itu terjadi di Indonesia justru si korban 
kekerasan seksual tersebut yang akan lebih menderita.
Yang saya perhatikan di dalam kehidupan politik Amerika, siapapun  
presidennya tidak perlu dihawatirkan karena sistem kehidupan politiknya
sangat bagus sehingga seorang presiden terpilih tidak seenak udel di
negaranya.
Hal inilah yang membuat saya pribadi kurang setuju dengan debat Capres
sebagai tolak ukur seseorang pantas atau tidak menjadi presiden.
Yang paling penting saat ini adalah kepercayaan masyarakat Indonesia,
seluruh lapisan masyarakat, terhadap hasil pemilu nantinya karena pada
dasarnya negara kita ini dilanda oleh krisis kepercayaan.
Dari debat capres yang diadakan di UI baru-baru ini dan saya saksikan
tayangan ulangnya di SCTV, menurut penpapat saya pribadi tidak ada dari
kandidat yang ditampilkan yang siap untuk menjadi presiden.
Suatu saat saya sedang makan siang di warteg dan bertanya kepada yang
punya warteg mau pilih apa nantinya saat Pemilu.
Jawabannya"...saya mau pilih PDI Perjuangan...", dengan alasannya bahwa
PDI Perjuangan/Megawati tidak banyak omong seperti yang lain-lain yang
taunya ngomong  tapi tidak memperingan beban kehidupan saat ini.
Apakah saya bisa saya simpulkan bahwa si tukang warteg yang benar??
Atau karena anda wartawan anda merasa yang lebih benar karena hasil
wawancara anda dengan Kwik kian Gie tidak memuaskan anda????
Hanya satu hal yang perlu kita ingat bersama-sama dan perlu dicamkan oleh
semua masyarakat Indonesia bahwa pada pemilu nanti suara seorang
pengusaha, penguasa adalah sama harganya dengan suara seorang pemulung,
tukang beca dll.

Hotman Silalahi


On Wed, 5 May 1999, iwans wrote:

> Netters sekalian,
> 
> Apa perbedaan mendasar antara Golkar dengan PDI Perjuangan ? Anda akan
> terheran-heran bilamana saya katakan bahwa perbedaannya : nothing !
> Perbedaannya cuma terletak pada warna partainya saja. Yang satu warna
> kuning, dan yang lain berwarna merah. Soal gagasan, sungguh mengherankan
> sekali bahwa Golkar dan PDI Perjuangan setali tiga uang. Ingin  buktinya
> ?
> Baca saja hasil wawancara saya dan teman-teman wartawan lainnya dengan
> ideolog, arsitek pemikir sekaligus Ketua Balitbang PDI Perjuangan Drs
> Kwik Kian Gie, baru-baru ini :
> 
> **********************
>     Bung Kwik Kian Gie, sekarang ramai diperbincangkan mengenai perlunya
> konstitusi negara yaitu UUD 1945 diubah dan disesuaikan dengan situasi
> negara dan bangsa saat ini. Atau setidaknya mesti ada amandemen terhadap
> pasal-pasal UUD 1945, bagaimana pihak partai memandang gagasan ini ?
> 
>     Saya kira sikap PDI Perjuangan sudah jelas. Kami tidak berniat untuk
> mengamandemen isi atau sebagian isi UUD 1945. Alasan kami, UUD 1945
> sudah sempurna, sehingga tidak ada pasal-pasal yang perlu diperbaiki.
> Kami tidak berbeda dengan fraksi-fraksi lain yang ada di MPR/DPR serta
> beberapa partai lainnya mengenai isu ini. UUD 1945 sudah final. Kami
> tidak melihat kebutuhan sedikit pun untuk mengamandemen Undang-undang
> Dasar 1945.
> 
>     Berarti dalam isu soal UUD 1945, sikap PDI Perjuangan sama dengan
> Golkar dong ?
> 
>     Terserah kalau mau dikatakan sama dengan Golkar. Toh, meskipun
> menyebabkan Indonesia terpuruk tidak semua ide Golkar mesti ditolak dan
> tidak semua pula gagasan dari partai-partai baru mesti diterima. Bagi
> kami dari PDI Perjuangan, UUD 1945 itu sudah final dan sudah sempurna,
> untuk apalagi diubah atau cuma diamandemen sekalipun. Kita hanya perlu
> mengubah UU saja.
> 
>     Apakah sikap itu sikap resmi Partai atau hanya sikap anda pribadi ?
> 
>     Ini sikap resmi PDI Perjuangan. Sikap resmi partai, berarti juga
> sikapnya Mbak Megawati dan sikap saya juga selaku salah satu Ketua DPP.
> Kami kan tunduk kepada partai dan bukannya partai yang tunduk pada
> pendapat kami.
> 
>     Tetapi kan sejumlah pakar mengatakan bahwa kekuasaan otoriter
> Soeharto maupun Soekarno sebelumnya lahir gara-gara kuatnya eksekutif
> seperti yang ada pada pasal-pasal UUD 1945 sehingga UUD tersebut perlu
> disempurnakan ?
> 
>     Itukan cuma pendapat. Kami boleh tidak setuju dong. Ihwal adanya
> kritik isi UUD 1945 membuat kekuasaan presiden menjadi terlampau besar,
> dikarenakan memang sistem kabinet presidensil memang seperti itu.
> Menurut saya, kekuasaan presiden akan mengecil jika sistem kabinet
> diubah menjadi sistem kabinet parlementer. Hanya saja, bagi PDI
> Perjuangan sistem kabinet presidensil lebih baik daripada sistem kabibet
> parlementer.
>     Pasalnya, sistem kabinet presidensil memberikan stabilitas. Soal
> kekuasaan presiden yang yang terlampau besar pada Orde Baru, menurut
> saya, hal itu terjadi bukan karena UUD 1945, tapi karena praktik
> penyelenggaraan pemerintahan yang berbeda dengan jiwa UUD 1945. Hal itu
> terjadi karena sikap Pak Harto yang berbeda, sikap Pak Harto yang
> otoriter. Pak Harto yang membuat dan menyalahgunakan seluruh
> kekuasaannya untuk melanggengkan kekuasaannya.
>     Jadi, bukan karena kesalahan UUD 1945 yang menyebabkan kekuasan
> presiden zaman Orde Baru menjadi besar, tapi karena semua pihak berlaku
> salah. Ketika dia menjalankan hal-hal itu, tidak ada yang berani
> mengoreksi. Jadi ini bukan sepenuhnya kesalahan Pak Harto tetapi
> kesalahan semua elit politik, karena itu PDI Perjuangan tidak merasa
> perlu menghujat Pak Harto dan menimpakan kesalahan ini sepenuhnya pada
> beliau.
> 
>     Kenapa pula PDI Perjuangan menentang penyelenggaraan Debat Calon
> Presiden dan benarkah Mbak Mega takut adu program ?
> 
>     Tidak betul kalau Mbak Mega takut. Soal debat calon presiden itu
> dipandang oleh PDI Perjuangan tidak perlu dilakukan. Pasalnya, yang
> memilih presiden adalah anggota MPR, bukan rakyat secara langsung
> seperti di Amerika Serikat. Budaya kita juga tidak bisa menerima itu.
> Dan kita selama ini kan tidak mengenal hal-hal seperti itu. Karena itu,
> yang penting dilakukan partai sampai 7 Juni nanti adalah mengumpulkan
> suara untuk anggota legislatif. Sedangkan yang memberikan suara agar
> orang terpilih sebagai adalah rakyat. Sehingga fokusnya adalah bagaimana
> meraih suara yang memberi kursi sebanyak mungkin di DPRD.
>     Karena itu juga Mbak Mega lebih baik menggunakan waktu untuk
> menghadiri kegiatan dalam satu forum yang dihadiri oleh ratusan ribu
> orang daripada sekian ribu orang. Namun jika MPR yang meminta Megawati
> menyampaikan pandangan-pandangannya berkaitan dengan pencalonan
> presiden, maka itu soal lain. Megawati akan mempertimbangkannya. Supaya
> anggota MPR mempunyai gambaran memilih presiden yang mana.
> 
>     Jadi sampai kapanpun Megawati tidak akan datang dalam acara debat
> capres ?
> 
>     Berdebat itu selalu mengundang risiko menciptakan ketegangan antara
> yang berdebat. Sedangkan Megawati bukan tipe orang yang ingin
> bertegang-tegangan dengan siapa pun juga, dari kelompok manapun dia
> berasal. Soal ketidakhadiran Megawati pada debat capres di UI, karena
> berbenturan dengan jadwalnya di PDI Perjuangan dan itu jauh lebih
> penting. Harap anda ketahui, sampai dengan pencoblosan, Mbak Mega telah
> menyusun jadwal kegiatannya dan itu sudah pasti.
> 
>     Pandangan PDI Perjuangan kok konservatif banget dan kurang
> progresif?
> 
>     Lho terserah kalau mau dikatakan begitu. Kami ini berusaha
> konstitusional saja sesuai amanat Kongres. Ini sikap partai yang harus
> dipertahankan. Dan kami merasa bahwa massa partai kami tidak akan lari
> hanya karena kami mempertahankan hal-hal yang sudah baik di masa Orde
> Baru. Bagi yang punya gagasan berbeda ya silahkan, mari kita saling adu
> argumentasi nanti di MPR. Mana yang laku !
> 
>     Termasuk dalam hal dwifungsi ABRI ?
> 
>    Ya. PDI Perjuangan menganggap dwifungsi ABRI masih perlu
> dipertahankan. ABRI harus netral dan anggotanya tidak usah
> terkotak-kotak dalam partai-partai yang ada. Karena sangat berbahaya
> sekali sebab mereka pegang senjata. Jadi ya berikan saja mereka jatah
> kursi di Parlemen sebagai pelaksanaan dwifungsi ABRI. Ini demokrasi kita
> dan kitalah yang menentukan bagaimana kita melaksanakan demokrasi di
> Indonesia itu yang sesuai dengan jiwa dan semangat bangsa Indonesia.
> (***).
> 
> Nah, bagaimana pendapat saudara baik simpatisan PDIP maupun yang bukan ?
> 
> 
> 
> 


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke