Sindiran yang sangat sarkastis bung Yap. Jangan patah dulu, permainan masih
berlangsung. Semua sedang belajar dari proses. Semoga tidak semua orang berpegang pada
: pengalaman adalah guru terbaik. Karena dia selalu datang terlambat. Semoga yang
terjadi setelah Pemilu tidak sehitam yang bung Yap khawatirkan.
Pada keprihatinan yang sama, saya sedang berdoa semoga dalam 20 hari kedepan datanglah
kesadaran para tokoh reformasi untuk menjadi lebih dewasa dan menyatukan langkah.
Harus diakui tokoh pro reformasi kurang konseptual, dengan membiarkan komposisi
DPR/MPR tak tersentuh. Inilah penyakit : best effort. Mereka lupa diri dalam euphoria
ketika Soeharto dengan seenaknya menyatakan berhenti. Mereka lupa bahwa itu pelecehan
hukum. Berhenti seenaknya, tanpa pertanggung jawaban. Bahaya sekali bagi suatu negara
kalau semua pejabat boleh menyatakan berhenti kapan dia mau. Sama bahayanya kalau
pejabat nggak mau mundur juga walau sudah jelas salahnya atau tidak legitimate.
Seharusnya saat itu Soeharto langsung ditahan, supaya tidak dapat konsolidasi. Lalu
Harmoko cs digusur dari Senayan, diganti tokoh reformis, lalu dipilih Presiden
sementara yang membentuk Kabinet transisi dengan tugas utama menyelenggarakan Pemilu.
Yang terjadi sama sekali jauh dari itu. Jadi memang terlalu pagi untuk optimis, tapi
juga terlalu cepat untuk patah arang.
Saya paham sakitnya hati Anda kalau lihat Harmoko masih bisa cengengesan dilayar TV
bersama para pimpinan partai tanpa massa dan tidak sah sama sekali, macam Budi
Hardjono dan Ipar Faisal Tanjung yang jadi Wakil ketua DPR/MPR itu yang dapat suaranya
juga disulap dari Sumut.
Bung Yap, do you still remember option number four : pray. Don't take : Forget it,
please. Make sense?
--
On 10 May 99 10:49:12 EDT Yap C.Young wrote:
>Iyalah bung Iwan, teman-teman di Jakarta juga masih optimis Golkar memenangkan
>Pemilu kali ini, walaupun prosentasenya tidak seoptimis Bomer Pasaribu, tetapi
>masih diatas 50% setelah ditambah kursi ABRI dan jatah 200 kursi perwakilan.
>Karena itu benturan antar pendukung partai reformis harus terus digalakkan,
>dan jangan kunjung bersatu. Biarlah tragedi Trisakti dan Semanggi menjadi
>kenangan. Penjarahan Mei menjadi dongeng saja. Teruskan serangan yang tajam
>kepada PDIP, PAN dan PKB. Dengan demikian mundurnya Akbar Tanjung dari Kabinet
>tidak menjadi pengorbanan yang sia-sia. Jangan khawatir, kalau tidak dapat
>diadu domba, kan masih banyak cara lain yang dapat ditempuh, penculikan,
>penyuapan, penjebakan hukum, sampai cara-cara sederhana lainnya untuk
>menghilangkan tokoh reformis dari daftar manusia. Kalau nggak bisa dirayu ya
>digebuk. Golkar pasti menang, dengan tenang atau dengan perang.
>
>iwans <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>I was confused. Sungguh !
>
>What's mean do you say ? Saya hanya tulis fakta-faktanya saja kok. Makanya
>berbentuk tanya jawab. Pengantarnya itukan bukan bagian dari fakta. Itu
>pendapat saya pribadi. Dan kita boleh adu argumentasi disini. Bagi saya,
>apa yang dikatakan KKG tak ada bedanya bila hal yang sama kita ajukan pada
>Akbar Tandjung. Apa bedanya ? Nothing.
>
>Golkar juga bertekad tidak akan mengubah UUD 1945 secuilpun. Begitu juga
>PDIP.
>
>PDIP akan mempertahankan dwifungsi ABRI, sama saja dengan Golkar.
>
>Golkar dan PDIP juga tidak bersedia ikut debat calon Presiden.
>
>Begitu seterusnya. Jadi apa beda Golkar dengan PDIP. Cuma warnakan ?
>
>Bagaimana sih ? Atau di forum kuli-tinta ini dilarang untuk
>menjelek-jelekkan PDIP ? Dilarang menghujat Megawati ? Saya kira itu
>bertentangan dengan sikap demokrasi yang kabarnya diemban oleh partai ini
>dan tentu saja seluruh simpatisan serta pengikut partai ini. Dan saya
>justru bingung, apakah posting saya itu sebegitu jeleknya sehingga anda
>merasa enggan menjawabnya ? Kenapa tidak saudara ajukan saja argumentasi
>yang bagus untuk membela posisi PDIP andai saudara mendukungnya.
>
>Itu lebih bagus. Dan saya lebih menghargai saudara Citra yang
>terang-terangan punya argumen soal kucing dalam karung yang kena tepung,
>ketimbang orang-orang yang nggak jelas juntrungannya.
>
>Itu saja.
>
>eg wrote:
>
>> Justru itu yang tidak boleh dilakukan wartawan, seharusnya kita
>> memaparkan
>> apa yang sebenarnya terjadi, nggak usah diberi bumbu lain sehingga
>> lebih
>> sedap atau dikurangi kuahnya sehingga menjadi asin.
>>
>> Regards
>> =======================
>>
>> He... he.... , aku ingin tertawa...........
>>
>> ______________________________________________________________________
>> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>
>> Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>
>____________________________________________________________________
>Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>
Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!