You wrote:
Semoga yang terjadi setelah Pemilu tidak sehitam yang bung Yap khawatirkan.
|Pada keprihatinan yang sama, saya sedang berdoa semoga dalam 20 hari
kedepan datanglah kesadaran para tokoh reformasi untuk menjadi lebih dewasa
dan menyatukan langkah.

Banyak orang menilai pemerintahan yang 'reformis' sekarang ini jelas-jelas
menghalalkan segala cara untuk terus memegang kondisi status quo - Golkar
plus outlet-outlet Golkar lainnya (partai-partai yang notabene setali tiga
uang dengan Golkar) dengan menghalalkan segala cara akan berusaha
menggapainya.
Justru yang sangat disesalkan bahwa tokoh-tokoh reformis yang ada masih
nampak kurang mumpuni - termasuk kurang dewasa - simak saja dalam debat
calon presiden yang berlangsung. Tanyakan pada diri anda sendiri, layakkah
mereka?

You wrote:
|Seharusnya saat itu Soeharto langsung ditahan, supaya tidak dapat
konsolidasi. Lalu Harmoko cs digusur dari Senayan, diganti tokoh reformis,
lalu dipilih Presiden sementara yang membentuk Kabinet transisi dengan tugas
utama menyelenggarakan Pemilu.

Itulah kenyataan yang ada...
Maling teriak maling...
Kabinet reformasi yang ada sekarang ini notabene ya sama aja dengan kabinet
yang lalu...
Jika seorang Presiden mengucapkan janji tidak akan bersedia dipilih menjadi
presiden dalam pemilu yad - terus berubah menjadi jika rakyat menghendaki
(meskipun tidak jelas rakyat yang mana - segelintir orang atau apa - karena
kata 'rakyat' sudah menjadi suatu alasan untuk membenarkan suatu tindakan -
kata rakyat bisa menjadi kata sakti, sama saktinya dengan cap PKI yang
menjadi momok bagi orang banyak) - terus diganti lagi bersedia menjadi
presiden. Belum lagi kesalahan-kesalahan ucap + janji-janji (mungkin) omong
kosong yang seharusnya tidak diucapkan seorang negarawan - apakah layak
memimpin bangsa yang jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa?


You wrote:
|Yang terjadi sama sekali jauh dari itu. Jadi memang terlalu pagi untuk
optimis, tapi juga terlalu cepat untuk patah arang.
|Saya paham sakitnya hati Anda kalau lihat Harmoko masih bisa cengengesan
dilayar TV bersama para pimpinan partai tanpa massa dan tidak sah sama
sekali, macam Budi Hardjono dan Ipar Faisal Tanjung yang jadi Wakil ketua
DPR/MPR itu yang dapat suaranya juga disulap dari Sumut.


Setuju!
Apapun yang terjadi jangan sampai patah arang.
Demokrasi yang sebenarnya mungkin baru akan tercapai tahun 2025...
Soal TV mending ganti Channel lain - matiin - atau ganti buat main Nintendo
aja...
Mudah!

Salam


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke