Informasi ini luar biasa valid dan independen. Salut.

Saya ingin tetap obyektip dengan tidak mengesampingkan bahwa fakta yang
diungkapkan non Eva dan beberapa netters lain tentang kebrutalan sebagian
kecil massa PDI yang mabok dan menyerang jilbab. Ini loop hole yang tidak
boleh diabaikan.

Kesimpulan saya : PDIP badly need help, untuk memperbaiki ide dasarnya dan
mengurangi dampak konsekuensi sejarah memaksa tampilannya tidak terlepas dari
"anak jalanan" yang terus terang kurang diterima masyarakat berbudaya.

PDIP membutuhkan Lembaga Pengkajian, yang terdiri dari manusia berwawasan dan
tanpa pamrih, sehingga mampu memperbaiki citranya secara gradual.

Ide dasar yang bernama platform atau apapun, dari PDIP, PAN dan PKB masih
sangat state oriented, dengan konsepsi PAN lebih liberal. Maksudnya,
kemenangan mereka akan menghantarkan kekuasaan negara yang masih lebih besar
dari porsi yang sepantasnya untuk era globalisasi. Detailnya dapat disimak
pada hasil kuestioner majalah Warta Ekonomi. Seharusnya peran negara tidak
perlu sebesar itu.

Dari sisi massa, kandungan "kelompok tertindas" didalam PDIP terlalu besar,
sehingga perlu dinetralisir dengan "kelompok berpendidikan" atau kelompok yang
lebih berbudaya, sehingga perbaikan kualitas hidup "kelompok tertindas" sama
sekali tidak boleh mengesankan sifat balas dendam terhadap kelompok yang lebih
diuntungkan dimasa lalu.

Satu keprihatinan, bahwa akhirnya PDIP, PAN dan PKB "hanya" mampu menyajikan
DCS macam itu, yang sangat kurang kualitasnya untuk keperluan reformasi total
dan pembenahan segera, dan barangkali juga masih rentan terhadap serangan
money politics, karena keterbatasan waktu dan keterbatasan stock SDM yang
secara terbuka mengambil posisi di parpol.

Kaum cendekiawan dan budayawan menengah kita cenderung untuk "wait and see",
sehingga Parpol besar benar-benar kekurangan stock SDM berkualitas. Akibatnya
memilih the best possible.

Dengan situasi ini, nampaknya kita belum bisa berharap banyak dari era 5 tahun
kedepan, sekalipun pemilu berjalan aman damai dengan kemenangan reformis.
Kecuali kita mau menerima kenyataan lama, DPR/MPR dikomando Pemerintah dan
hanya sekedar jadi tukang stempel, karena kalau orang yang kurang kompeten itu
terlalu sadar haknya, keadaan bisa lebih runyam.

Pemilu belum lagi mulai, indikasi kemenangan kelompok reformis makin nyata,
tetapi jangan optimis dulu. Kita masih perlu satu dua pemilu lagi sebelum
mengandangkan putra/i terbaik Indonesia ke Senayan. 

"��" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
-----Original Message-----
From: iwans <[EMAIL PROTECTED]>
Kritik harus dialamatkan pada tujuh partai ini, terlebih lagi
Golkar dan PDI Perjuangan, karena kedua kelompok inilah yang punya
dosa sejarah
yang cukup panjang selama 54 tahun usia Republik di khatulistiwa ini.
Yang satu
punya tokoh simbolik yang tersingkir, Soeharto dan yang satu lagi
dengan tokoh
simbolik yang sudah almarhum, Soekarno.
===============================

Tanggapan untuk Bung Iwan,

Bung pernah melakukan investigasi untuk menguak latar belakang
primodialisme simpatisan PDIP?

Beberapa generasi masa lalu yang kini sudah berkepala 4 keatas
seandainya terikat secara psikologis dengan Soekarno mestinya lebih
mauk akal kalau memilih berbagai partai Nasionalis yang berlandaskan
ajaran Soekarno, seperti PNI Supeni, PNI Masa Marhaen, Partai
Nasionalis Demokrat, dll. Bukankah Soekarno yang mendirikan PNI di
tahun 1926 dimana mars PNI diakhiri dengan kata-kata "...........
bersatulah segera Marhaen Indonesia!"  Beberapa pengurus partai-partai
nasionalis tersebut adalah mereka orang lama atau paling sedikit anak
dari orang tua yang orang tuanya aktif dalam kepengurusan partai
nasionalis itu di masa lalu.

Bahkan tokoh-tokoh ormas kemahasiswaan yang dulu merupakan derivatif
dari PNI seperti GMNI dan GSNI juga bukan merupakan tokoh-tokoh
dibelakang PDIP. Kita bisa melihat Mokoginta, Siswono yang tetap tegar
dengan GMNI nya, atau Hodori Yunus yang diwawancarai di RCTI karena
kebakaran jenggot dengan peringatan Habibie mengenai Marhaenisme.

Bung Iwan,  anak-anak muda para pendukung dan simpatisan PDIP sebagian
besar lahir dan di didik dalam format pendidikan Orba dengan P4 nya
yang sarat dengan pengeliminasian nuansa politik Soekarno. Bahkan buku
sejarah Noegroho yang jelas memutarbalikkan sejarah untuk
mengeliminasi peran Soekarno digunakan di pendidikan SD dan SMP
(meskipun akhirnya dicabut lagi setelah Noegroho meninggal). Nah, dari
mana anak-anak muda itu belajar kebesaran Soekarno. Masih ingat bukan
bagaimana berapa puluh tahun Soekarno dan Hatta tidak disebut namanya
pada saat pembacaa teks proklamasi pafda setiap[ peringatan hari
kemerdekaan? Bagi anak-anak muda itu Soeharto adalah pahlawan
pembangunan dan Soekarno dengan Orlanya telah menyengsarakan rakyat
Indonesia. Silahkan bertanya saja pada anak-anak itu yang kini lagi
frustasi berat mengenai kebenaran sejarah. Apakah mereka termasuk yang
memiliki ikatan primordial dengan PDIP karena Soekarno?

Ada tiga tonggak sejarah yang mengangkat citra Mega. Pertama kongres
Surabaya, kongres Medan, dan peristiwa 27 Juli.

Bung Iwan benar bahwa ada masa dimana sentimen terhadap Soekarno itu
dimanfaatkan oleh Soeryadi dengan menggaet Mega dan Guruh sehingga
pada saat itu pemilih PDI meningkat. Namun demikian, dalam periode
selanjutnya Megawati tidak dikehendaki untuk menjadi ketua umum PDI
dimana penjegalan yang melibatkan aparat pemerintah dan money politics
dalam kongres di Surabaya sangat kasat mata. Berkat pemberitaan
kongres PDI di Surabayayang ricuh itu oplag Jawa Pos dan Detik pada
saat itu meningkat secara luar biasa (Bung Iwan pasti belum di Jawa
Pos). Nah, dari kongres PDI di Surabaya itu citra Mega sebagai
pemimpin kelompok yang dinistakan oleh kekuasaan pemerimntah mulai
terbentuk melalui pers yang bersikap kritis terhadap pemerintah. Mega,
dalam hal ini beruntung karena berita yang memuat ketidakadilan dan
arogansi kekuasaan itu, dan itu berarti berpihak kepada Mega, sangat
diminati masyarakat.

Beruntung bagi Mega dalam perjuangannya untuk menegakkan kepengurusan
organisasi. Konstelasi kekuasaan di Jakarta pada saat itu, yaitu Agum
Gumelar, Hendro Priyono, dan Wismoyo Arismunandar berpihak kepadanya
untuk menyelesaikan masalah PDI sehingga Mega dikukuhkan sebagai Ketua
Umum PDI.  Namun goyangan itu terus berlanjut karena elit politik
merasa risih dengan peningkatan popularitas Mega yang semakin mendapat
dukungan dari mereka yang tidak puas dengan Orba. Penculikan dan
penyekapan Alex Litay tidak membuat Mega surut namun justru semakin
membuka rekayasa elit politik pemerintah seperti halnya usahja untuk
menyingkirkan Amin Rais. Tentu saja semakin banyak orang yang tidak
menyukai tindakan pemerintah semakin bersimpatiu kepada Mega.
Akhirnya, pemerintah melalui penjegalan yang kasat mata dengan
melibatkan ABRI dan aparat pemerintah dalam negeri berhasil
menyingkirkan Mega dari kursi ketua umum PDI. Bahkan aparat Korem dan
Kodim Yogya mewakili DPC dalam kongresm tersebut. Penjegalan Mega
melalui kongres Medan itu juga semakin menambah kebencian terhadap
pemerintah dan simpati kepada perjuangan Mega. Penjegalan itu menjadi
tonggak awal perjuangan PDI untuk menegakkan kebenaran.

Gagal di kongres Medan Mega dengan kelompoknya tetap bergerak di jalur
hukum dan tetap bersikap tidak kompromi dengan pemerintah melalui
demonstrasi-demonstrasi. Salah satunya adalah peristiwa Gambir yang
melahirkan mimbar bebas di kantor PDI di Jl Diponegoro. Sikap kritis
melalui mimbar bebas itu semakin menggelisahkan aparat keamanan yang
akhirnya menyudahi gerakan itu dengan melibasnya. Peristiwa 27 Juli
yang kemudian mengkambinghitamkan PRD sebagai biang kerusuhan di
Jakarta, Kita masih ingat bagaimana Budiman Sujatmiko dan
teman-temannya hampir saja dialmarhumkan. Bahkan dokumen kejam yang
mengatakan ayah Budiman sebagai bekas anggota PKI juga dibuat.
Fakta-fakta tersebut akhirnya semakin membuka mata rakyat tentang
rekayasa politik kekuasaan Orba untuk melanggengkan kekuasaannya.
Dalam hal ini, Mega diuntungkan karena dianggap sebagai musuh
pemerintah Orba.

Jadi, PDIP memperoleh simpati terutama bukan karena orang tuanya namun
karena dia mewakili kaum yang diperlakukan secara tidak adil oleh
pemerintahan dan kekuasaan Orba dan mewakili kaum yang menentang
pemerintahan Orba yang absolut. Bahkan ketika muncul partai-partai
yang berkaitan dengan ayahnya, Mega dengan lantang meminta agar para
kader dan pendukungnya melepas gambarnya dan gambar ayahnya. Oleh
karena itu, salahkan Orba bila Mega memperoleh simpati dari rakyat.



Saya adalah simpatisan mereka yang ingin membangun Indonesia dengan
segala keragamannya tanpa kekerasan.
.-


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!




____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke