Saya setuju, metode pemilihan sampling dari sample sendiri itu tidak valid
untuk melihat keadaan populasi yang sesungguhnya. Karena itu polling Tempo
pun saya kurang menganggapnya sebagai hasil yang memenuhi syarat untuk
dijadikan patokan.
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub E-mail: [EMAIL PROTECTED]
-----Original Message-----
From: M Gunadi Henoch <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 18 Mei 1999 0:59
Subject: RE: [Kuli Tinta] Debat live Amien-Ghalib Jumat malam
>From: "Tedy The Kion" <[EMAIL PROTECTED]>
>JAWA POS melakukan scoring dengan penerima score tertinggi (pemenangnya)
>adalah GHALIEB. Jadi, apakah dalam hal ini JAWA POS sedang
>berprasangka/bersubjektif, atau memang berdasarkan poling yang objektif?
Boleh tahu Jawapos menggunakan istilah apa? Kalau ia pakai istilah polling
maka mesti ada persyaratan minimal jumlah orang, kecakapan metodologi dan
tidak adanya prinsip self-selection (orang memilih dirinya sendiri menjadi
responden, misalnya dengan diperilakan menelpon nomor sekian-sekian]. Kalau
benar begitu, berarti polling-pollingan dan hasilnya tidak valid.
Salam, MGH
****************
Take a look on my news website http://www.mandiri.com
compare it to our competitor http://www.detik.com
and send your comments to [EMAIL PROTECTED]
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!