Para Internaut Yang Terhormat, Senang sekali saya mengikuti diskusi yang begitu bernas antara Bung Ben PD, Bung Hari Kurniawan, dan Bung Ruci Dewandaru. Model diskusi penuh argumentatif seperti itulah yang ingin kita kembangkan di milis ini. Dengan begitu menambah wawasan para pelanggan milis ini dan tentu saja memberikan sumbangan yang meski sangat kecil, sangat bermanfaat bagi pengembangan demokrasi sesama orang Indonesia (terpelajar) di masa mendatang. Sekarang mari kita teruskan spektrum diskusi tersebut pada persoalan yang dihadapi calon Presiden kita. Susah memang menjadi calon Presiden di Indonesia. Sekarang ini memang banyak dilakukan debat publik antara capres dengan mahasiswa. Sebetulnya, saya sangat setuju dengan hal ini. Tapi, setelah diperhatikan kok ya gitu jadinya. Sepertinya para capres kok menjadi serba salah ya. Misalnya saja dalam debat capres di UI, sewaktu pak Sri Bintang Pamungkas ngomong "Kalau nanti saya jadi presiden.. ", lantas disambut teriakan "huuuuuuuuuuuuuu" dari para penonton. Terus ada pertanyaan konyol pada Pak Yusril tentang merokok, yang membuat pak Yusril emosional. Trus, kalau udah emosional malah disorakin rame-rame. Dalam acara Partai-Partai di TPI yang menampilkan Gus Dur, para penonton juga cenderung memancing Gus Dur agar emosi, terus mereka sorak-sorak. Kalau ada capres yang diam, disalahkan. Katanya tidak berani debat, tidak punya program, tidak punya bakat memimpin, seperti kucing dalam karung -- ya kalau betul kucing, kalau kambing gimana -- dan lain-lain. Model Megawati itulah. Kasihan juga capres PDI Perjuangan yang satu ini. Tapi, kalau ada capres yang vokal, disalahkan juga. Katanya terlalu ambisius-lah, arogan-lah dan sebagainya. Kalau ada capres yang bicaranya berubah-ubah (mungkin karena saking vokalnya) eh disalahkan juga. Katanya plin-plan, tidak konsisten. Kalau ada capres yang merokok.. ya tetap disalahkan juga.. hehehehe. Kalau tidak merokok juga disalahkan. Jadi, sepertinya kok serba salah ya? Terus.. maunya yang bagimana sih ? Memang yang menentukan calon presiden itu benar-benar jadi Presiden memang bukan rakyat tetapi wakil-wakilnya yang di MPR. Entah nanti kalau usulan Pak Habibie (atas rekomendasi tak langsung dari Pak Ben, hehehe) terwujud di tahun 2004 nanti. Tentu dengan mengadakan amandemen terhadap UUD 1945. Jadi, kalaupun rakyat menghendaki tokoh A atau tokoh B menjadi seorang Presiden sepanjang sistem pemilihan presidennya masih kayak dulu...ya...susah lah... kecuali kalau dipilih langsung oleh rakyat, kayak dinegara maju. Ya seperti usulannya Pak Habibie itulah. Jadi, realistislah menghadapi keadaan sekarang. Jangan berkhayal. Artinya, dengan semata-mata mengandalkan dukungan PDI Perjuangan maka Megawati tidak akan mungkin menjadi presiden RI ke 4. Kecuali Megawati atau pengikutnya mampu melakukan lobi yang cerdas dengan kekuatan politik lain. Celakanya, kekuatan politik Islam -- kecuali kelompok Islam-nya Gus Dur -- cenderung memusuhi dia. Megawati dianggap sebagai wakil dari kekuatan Neo Orde Lama (Soekarno) sekaligus Neo Orde Baru (banyaknya begundal Soeharto yang masuk dalam jajaran PDIP). Dan karena itu ini jelas menyulitkan langkah Megawati. Memang sih semuanya ya.. serba mungkin dalam alam demokrasi. Megawati, Amien Rais, Gus Dur, Yusril, Sri Bintang, Didin, Habiebie.. ya mungkin-mungkin saja untuk menjadi Presiden. Dan seorang presiden tidak harus diterima oleh SELURUH elemen masyarakat, tetapi MAYORITAS masyarakat, yang minoritas jadi oposisi. Ini namanya demokrasi. Kalau harus seluruh elemen masyarakat mah.. bakal nggak ada presiden. Tentang presiden dipilih oleh MPR, itu memang benar. Tapi kalau dalam pemilu nanti, partainya memperoleh mayoritas di Pemilu dan mendapat dukungan mayoritas juga di MPR, berarti capres yang dicalonkan oleh partai tersebut KEMUNGKINAN BESAR (bukan PASTI lho) menjadi presiden. Jadi.. ya.. mungkin-mungkin saja.. sederhana toh. Mungkin saja Megawati jadi Presiden, tetapi dengan performance dia yang sangat keras untuk bergerak sendiri dengan mengandalkan PDI Perjuangan saja itu tentu karang dan halangan yang dihadapinya akan sangat besar. Maka dari itu, cepat-cepatlah Front Persatuan Nasional (PAN, PDIP dan PKB) segera memperkuat konsolidasi agar tidak mudah diadu-domba oleh kekuatan Golkar dan konco-konconya. Itu kalau Front Persatuan Nasional mau jadi pemerintah yang solid dan bertanggung jawab. Lain soalnya kalau Front ternyata hanya ingin meng-gol-kan kepentingan kelompok mereka masing-masing ....... Anggota Front juga jangan saling mengecam. Perbesar rasa toleransi. Termasuk dengan langkah Amien Rais yang merangkul PPP dan PK membentuk Forum Islam Reformis. Jangan terlalu mencurigai langkah Amien, karena kita semua punya musuh bersama yaitu Golkar dan kawan-kawan. Selesai.
______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
