Masak sih kualitas Megawati jauh dibawah Amien Rais?

1. Tentang Pemimpin Wanita dalam Islam.
Memang untuk jadi imam, selama masih ada laki-laki, tidak boleh seorang perempuan 
menjadi imam. Tetapi apa memang harus digeneralisir dalam semua aspek kehidupan (Bukan 
dalam imam sholat saja)?
Sebagai orang yang jarang tinggal dirumah, saya sering meninggalkan anak-anak saya 
dalam bimbingan ibunya. Memang benar ketika sholat, anak laki-laki saya yang jadi 
imam, tetapi dalam masalah kehidupan lainnya, ibunyalah yang jadi pemimpin. Apa ini 
salah menurut Islam? Apakah seharusnya isteri saya tunduk kepada anak saya dalam 
setiap masalah kehidupan kepada anak saya bila saya tak dirumah?
Atau kepada anggota keluarga yang lain yang kebetulan laki-laki?

2. Tentang "kebisuan"
Apakah seorang calon Presiden harus talkative, responsive dan harus sering 
mendemonstrasikan kepiawaian bicara dan berpikirnya agar bisa dianggap valid?
AR memang memenuhi syarat untuk itu. Dia mampu menggalang tokoh Masyumi dan 
Muhammadiyah dalam PAN, dan secara agitative membangkitkan semangat anak muda 
terpelajar dikota. 
Tetapi apakah AR seorang yang bijak, teduh, mampu mengkonsolidasi beragam unsur dalam 
satu kapal sebesar PDI?
Kalau Professor sekelas Dimyati Hartono dan Jenderal sekelas Theo Syafei menerima 
dengan ikhlas kepemimpinan Megawati, tentu ada sesuatu yang istimewa, yang mungkin 
tidak diketahui masyarakat luas pada diri Megawati.
Jauh lebih berbahaya orang yang tidak pandai mendengar daripada yang tidak pandai 
bicara.

3. Tentang Anak Bung Karno.
Saya pikir AR justru lebih mirip Bung Karno, yang selalu mengaku dekat rakyat (dengan 
mengangkat issue populis dan menciptakan shadow enemy) dan sangat agitative, dan tentu 
punya kecenderungan sangat besar menjadi diktator, karena merasa paling pinter sejagat.
Mega cenderung lebih banyak mendengar, lalu membuat analisis dan melakukan sesuatu 
pada konteksnya. Mega adalah person of action, bukan person of talk seperti politisi 
pemula lainnya.Mega juga selalu bekerja dalam tim, tidak show up sendirian.

4. Tentang Kabinet.
Selama Orba, dengan "Kabinet" seadanya, Mega mampu menang dari tekanan Orba yang super 
kuat. Malah datang simpati dari ratusan pengacara yang bergabung dalam TPDI dan masih 
tetap membela sampai sekarang.
Mega telah memenangkan perjuangannya melawan Orba, begitu mutlaknya, sehingga situasi 
euphoria yang selama pemilu-pemilu yang lalu menjadi milik Golkar, kini mutlak menjadi 
milik PDIP. Ini fakta.
Padahal semua mengira AR-lah lokomotip reformasi ini. Mengapa polling tetap 
menempatkan PAN dibawah PDIP dan AR dibawah Megawati? Bahkan Asiaweek menempatkan AR 
juga hampir 10 peringkat dibawah Megawati?
Seandainya kampanye tidak dijadwal model Orba, saya kira setiap hari seluruh Indonesia 
berwarna merah menyala. Dan seandainya Presiden dipilih langsung oleh rakyat, pasti 
Megawati pilihan utamanya.

Pada saatnya kita akan melihat susunan kabinet yang lagi-lagi tidak sedangkal yang 
banyak diperkirakan orang. Belum pernah ada pengurus PDIP (bagaimanapun hebatnya) yang 
berani bilang bahwa Megawati hanya nurut mereka. Ini juga fakta.

5. Tentang Feodalistik.
Yang tahu kehidupan pribadi Megawati tidak pernah mengatakan begitu. Mega memang tidak 
bergaya causal, tetapi menjalani hidup dengan disiplin tinggi dan terencana. Bahkan 
banyak yang bilang Sri Sultan pun tidak berjiwa feodalistik, tetapi tahu menempatkan 
diri sesuai situasinya. Apakah Amien yang terpaksa pinjam Cherokee untuk menunjang 
penampilannya itu tidak lebih feodalistik? Merasa kurang PD tampil dengan hanya 
Charade tua?

6. Tentang menolak debat Capres dan issue aktual.
Situasi panas di Indonesia perlu kesejukan dan pendinginan. Kalau semua ngomong, 
memanaskan suasana, tanpa legitimasi yang jelas, hasilnya adalah kekacauan. Dan 
lawakan. Mega hanya bicara atau bertindak, kalau memang perlu dan tidak ada orang lain 
yang melakukannya. Dan itu telah dibuktikan sejak tampil dipentas politik, jauh 
sebelum nama AR dan "capres" lainnya masuk kancah politik Nasional.

7. Tentang mempertahankan Negara Kesatuan dan UUD '45. 
Ini issue yang tidak populer, tetapi harus ditempuh karena bernilai strategis. Itulah 
risiko menjadi nakoda kapal besar. Mengurangi musuh dan masalah, karena ada prioritas 
masalah yang lebih penting.
Sumber Daya Nasional setelah Pemilu harus lebih diarahkan pada mengatasi keterpurukan 
bangsa, bukan terus-terusan memanjakan politisi berpentas-ria dikancah Nasional atas 
biaya rakyat.
Semua tahu bahwa sistem di Indonesia itu sudah bagus, tetapi moral dan mental 
pelaksananyalah yang jeblok.
Jadi dengan sistem yang sama, tetapi dengan oposisi sekaliber AR, Yusril, Wimar, Adnan 
Buyung dsb. yang berarti memperkuat pengawasan effektip, niscaya arogansi Pemerintahan 
akan terkikis secara gradual tetapi pasti. Dengan begitu National resources dapat 
optimally dedicated to address the main National problem.


--

On Thu, 27 May 1999 05:23:04   M Gunadi Henoch wrote:
>>From: iwans <[EMAIL PROTECTED]>
>>Saya mau lihat apakah>Menteri-menteri yang diangkat olehnya mampu dalam 
>>enam bulan menyelesaikan krisis>ekonomi sebagaimana yang dijanjikan semua 
>>juru kampanye PDI Perjuangan dalam >setiap kampanyenya ? Saya mau lihat 
>>apakah MPR yang kini bersidang sedikitnya satu >tahun sekali itu bisa 
>>bertahan untuk tidak melakukan impeachment terhadap Kepala >Negara ?
>
>
>Mari kita bahas kabinet Megawati. Saya asumsikan Kwik masuk kabinet. Sejauh 
>mana kapasitas Kwik? Bagus, sangat bagus, biasa, atau memiliki kelemahan 
>juga? Ini menjadi relevan karena Mega bukanlah seseorang yang memiliki 
>kapasitas berpikir ekonomi sehingga ia akan dengan mudah dikendalikan atau 
>nurut saja kepada kebijakan kabinet/menterinya.
>
>Ada teman dari UI yang berhasil menunjukkan kepada saya kelemahan-kelemahan 
>cara berpikir Kwik. Ketika saya tantang ia untuk memperlihatkan pikirannya 
>di depan Kwik langsung, ia mengatakan, sudah pernah dan Kwik selalu punya 
>cara untuk melarikan diri. Lagipula, katanya, masalahnya tidak akan selesai 
>dengan setiap kali membantah tulisan Kwik di Kompas setiap Senin.
>
>Masyarakat sudah terlanjur menelan setiap informasi Kwik sebagai kebenaran. 
>Kok bisa begitu? Padahal, apakah setiap infonya bersih dari bias politik 
>partainya? ITu satu, dan yang kedua, bagaimana dengan kapasitasnya? Adakan 
>rekan netters yang lebih paham ekonomi yang bisa ikut membantu menemukan 
>sosok pemikiran Kwik sesungguhnya?
>
>Salam, MGH
>
>****************
>To keep the latest headlines,
>please reload http://www.mandiri.com every hour.
>
>
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>
>
>
>


Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke