Amin Riza.., I could see from your point of view: It's not a hard way, to
think objective..

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub  E-mail: [EMAIL PROTECTED]


-----Original Message-----
From: Amin Riza <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 28 Mei 1999 2:23
Subject: [Kuli Tinta] Re: ANTARA MEGAWATI DAN AMIEN RAIS


Masak sih kualitas Megawati jauh dibawah Amien Rais?

1. Tentang Pemimpin Wanita dalam Islam.
Memang untuk jadi imam, selama masih ada laki-laki, tidak boleh seorang
perempuan menjadi imam. Tetapi apa memang harus digeneralisir dalam semua
aspek kehidupan (Bukan dalam imam sholat saja)?
Sebagai orang yang jarang tinggal dirumah, saya sering meninggalkan
anak-anak saya dalam bimbingan ibunya. Memang benar ketika sholat, anak
laki-laki saya yang jadi imam, tetapi dalam masalah kehidupan lainnya,
ibunyalah yang jadi pemimpin. Apa ini salah menurut Islam? Apakah seharusnya
isteri saya tunduk kepada anak saya dalam setiap masalah kehidupan kepada
anak saya bila saya tak dirumah?
Atau kepada anggota keluarga yang lain yang kebetulan laki-laki?

2. Tentang "kebisuan"
Apakah seorang calon Presiden harus talkative, responsive dan harus sering
mendemonstrasikan kepiawaian bicara dan berpikirnya agar bisa dianggap
valid?
AR memang memenuhi syarat untuk itu. Dia mampu menggalang tokoh Masyumi dan
Muhammadiyah dalam PAN, dan secara agitative membangkitkan semangat anak
muda terpelajar dikota.
Tetapi apakah AR seorang yang bijak, teduh, mampu mengkonsolidasi beragam
unsur dalam satu kapal sebesar PDI?
Kalau Professor sekelas Dimyati Hartono dan Jenderal sekelas Theo Syafei
menerima dengan ikhlas kepemimpinan Megawati, tentu ada sesuatu yang
istimewa, yang mungkin tidak diketahui masyarakat luas pada diri Megawati.
Jauh lebih berbahaya orang yang tidak pandai mendengar daripada yang tidak
pandai bicara.

3. Tentang Anak Bung Karno.
Saya pikir AR justru lebih mirip Bung Karno, yang selalu mengaku dekat
rakyat (dengan mengangkat issue populis dan menciptakan shadow enemy) dan
sangat agitative, dan tentu punya kecenderungan sangat besar menjadi
diktator, karena merasa paling pinter sejagat.
Mega cenderung lebih banyak mendengar, lalu membuat analisis dan melakukan
sesuatu pada konteksnya. Mega adalah person of action, bukan person of talk
seperti politisi pemula lainnya.Mega juga selalu bekerja dalam tim, tidak
show up sendirian.

4. Tentang Kabinet.
Selama Orba, dengan "Kabinet" seadanya, Mega mampu menang dari tekanan Orba
yang super kuat. Malah datang simpati dari ratusan pengacara yang bergabung
dalam TPDI dan masih tetap membela sampai sekarang.
Mega telah memenangkan perjuangannya melawan Orba, begitu mutlaknya,
sehingga situasi euphoria yang selama pemilu-pemilu yang lalu menjadi milik
Golkar, kini mutlak menjadi milik PDIP. Ini fakta.
Padahal semua mengira AR-lah lokomotip reformasi ini. Mengapa polling tetap
menempatkan PAN dibawah PDIP dan AR dibawah Megawati? Bahkan Asiaweek
menempatkan AR juga hampir 10 peringkat dibawah Megawati?
Seandainya kampanye tidak dijadwal model Orba, saya kira setiap hari seluruh
Indonesia berwarna merah menyala. Dan seandainya Presiden dipilih langsung
oleh rakyat, pasti Megawati pilihan utamanya.

Pada saatnya kita akan melihat susunan kabinet yang lagi-lagi tidak
sedangkal yang banyak diperkirakan orang. Belum pernah ada pengurus PDIP
(bagaimanapun hebatnya) yang berani bilang bahwa Megawati hanya nurut
mereka. Ini juga fakta.

5. Tentang Feodalistik.
Yang tahu kehidupan pribadi Megawati tidak pernah mengatakan begitu. Mega
memang tidak bergaya causal, tetapi menjalani hidup dengan disiplin tinggi
dan terencana. Bahkan banyak yang bilang Sri Sultan pun tidak berjiwa
feodalistik, tetapi tahu menempatkan diri sesuai situasinya. Apakah Amien
yang terpaksa pinjam Cherokee untuk menunjang penampilannya itu tidak lebih
feodalistik? Merasa kurang PD tampil dengan hanya Charade tua?

6. Tentang menolak debat Capres dan issue aktual.
Situasi panas di Indonesia perlu kesejukan dan pendinginan. Kalau semua
ngomong, memanaskan suasana, tanpa legitimasi yang jelas, hasilnya adalah
kekacauan. Dan lawakan. Mega hanya bicara atau bertindak, kalau memang perlu
dan tidak ada orang lain yang melakukannya. Dan itu telah dibuktikan sejak
tampil dipentas politik, jauh sebelum nama AR dan "capres" lainnya masuk
kancah politik Nasional.

7. Tentang mempertahankan Negara Kesatuan dan UUD '45.
Ini issue yang tidak populer, tetapi harus ditempuh karena bernilai
strategis. Itulah risiko menjadi nakoda kapal besar. Mengurangi musuh dan
masalah, karena ada prioritas masalah yang lebih penting.
Sumber Daya Nasional setelah Pemilu harus lebih diarahkan pada mengatasi
keterpurukan bangsa, bukan terus-terusan memanjakan politisi berpentas-ria
dikancah Nasional atas biaya rakyat.
Semua tahu bahwa sistem di Indonesia itu sudah bagus, tetapi moral dan
mental pelaksananyalah yang jeblok.
Jadi dengan sistem yang sama, tetapi dengan oposisi sekaliber AR, Yusril,
Wimar, Adnan Buyung dsb. yang berarti memperkuat pengawasan effektip,
niscaya arogansi Pemerintahan akan terkikis secara gradual tetapi pasti.
Dengan begitu National resources dapat optimally dedicated to address the
main National problem.


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke