Apapun alasan anda mengunggulkan Megawati jadi presiden masih saya ragukan.
Anda hanya melihat banyak posko dan warna merah saat kampanye. Tapi anda
tidak melihat usaha pihak lain yang menghalanginya. Yang saya takutkan nanti
kalau PDI-P MENANG dalam pemilu, pengikutnya mengira Megawati otomatis akan
jadi presiden, padahal belum tentu. Kemungkinan pendukungnya nekad untuk
melakukan kerusuhan ( mudah-mudahan ini tidak terjadi ) karena bantengnya
sudah siap menyeruduk apa saja yang menghalanginya.
> ----------
> From: Martin Manurung[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, May 28, 1999 9:43 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Re: ANTARA MEGAWATI DAN AMIEN RAIS
>
> Amin Riza.., I could see from your point of view: It's not a hard way, to
> think objective..
>
> Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
> ____________________________________________
> Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
> Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
> Kunjungi http://come.to/forma-kub E-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>
> -----Original Message-----
> From: Amin Riza <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
> [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: 28 Mei 1999 2:23
> Subject: [Kuli Tinta] Re: ANTARA MEGAWATI DAN AMIEN RAIS
>
>
> Masak sih kualitas Megawati jauh dibawah Amien Rais?
>
> 1. Tentang Pemimpin Wanita dalam Islam.
> Memang untuk jadi imam, selama masih ada laki-laki, tidak boleh seorang
> perempuan menjadi imam. Tetapi apa memang harus digeneralisir dalam semua
> aspek kehidupan (Bukan dalam imam sholat saja)?
> Sebagai orang yang jarang tinggal dirumah, saya sering meninggalkan
> anak-anak saya dalam bimbingan ibunya. Memang benar ketika sholat, anak
> laki-laki saya yang jadi imam, tetapi dalam masalah kehidupan lainnya,
> ibunyalah yang jadi pemimpin. Apa ini salah menurut Islam? Apakah
> seharusnya
> isteri saya tunduk kepada anak saya dalam setiap masalah kehidupan kepada
> anak saya bila saya tak dirumah?
> Atau kepada anggota keluarga yang lain yang kebetulan laki-laki?
>
> 2. Tentang "kebisuan"
> Apakah seorang calon Presiden harus talkative, responsive dan harus sering
> mendemonstrasikan kepiawaian bicara dan berpikirnya agar bisa dianggap
> valid?
> AR memang memenuhi syarat untuk itu. Dia mampu menggalang tokoh Masyumi
> dan
> Muhammadiyah dalam PAN, dan secara agitative membangkitkan semangat anak
> muda terpelajar dikota.
> Tetapi apakah AR seorang yang bijak, teduh, mampu mengkonsolidasi beragam
> unsur dalam satu kapal sebesar PDI?
> Kalau Professor sekelas Dimyati Hartono dan Jenderal sekelas Theo Syafei
> menerima dengan ikhlas kepemimpinan Megawati, tentu ada sesuatu yang
> istimewa, yang mungkin tidak diketahui masyarakat luas pada diri Megawati.
> Jauh lebih berbahaya orang yang tidak pandai mendengar daripada yang tidak
> pandai bicara.
>
> 3. Tentang Anak Bung Karno.
> Saya pikir AR justru lebih mirip Bung Karno, yang selalu mengaku dekat
> rakyat (dengan mengangkat issue populis dan menciptakan shadow enemy) dan
> sangat agitative, dan tentu punya kecenderungan sangat besar menjadi
> diktator, karena merasa paling pinter sejagat.
> Mega cenderung lebih banyak mendengar, lalu membuat analisis dan melakukan
> sesuatu pada konteksnya. Mega adalah person of action, bukan person of
> talk
> seperti politisi pemula lainnya.Mega juga selalu bekerja dalam tim, tidak
> show up sendirian.
>
> 4. Tentang Kabinet.
> Selama Orba, dengan "Kabinet" seadanya, Mega mampu menang dari tekanan
> Orba
> yang super kuat. Malah datang simpati dari ratusan pengacara yang
> bergabung
> dalam TPDI dan masih tetap membela sampai sekarang.
> Mega telah memenangkan perjuangannya melawan Orba, begitu mutlaknya,
> sehingga situasi euphoria yang selama pemilu-pemilu yang lalu menjadi
> milik
> Golkar, kini mutlak menjadi milik PDIP. Ini fakta.
> Padahal semua mengira AR-lah lokomotip reformasi ini. Mengapa polling
> tetap
> menempatkan PAN dibawah PDIP dan AR dibawah Megawati? Bahkan Asiaweek
> menempatkan AR juga hampir 10 peringkat dibawah Megawati?
> Seandainya kampanye tidak dijadwal model Orba, saya kira setiap hari
> seluruh
> Indonesia berwarna merah menyala. Dan seandainya Presiden dipilih langsung
> oleh rakyat, pasti Megawati pilihan utamanya.
>
> Pada saatnya kita akan melihat susunan kabinet yang lagi-lagi tidak
> sedangkal yang banyak diperkirakan orang. Belum pernah ada pengurus PDIP
> (bagaimanapun hebatnya) yang berani bilang bahwa Megawati hanya nurut
> mereka. Ini juga fakta.
>
> 5. Tentang Feodalistik.
> Yang tahu kehidupan pribadi Megawati tidak pernah mengatakan begitu. Mega
> memang tidak bergaya causal, tetapi menjalani hidup dengan disiplin tinggi
> dan terencana. Bahkan banyak yang bilang Sri Sultan pun tidak berjiwa
> feodalistik, tetapi tahu menempatkan diri sesuai situasinya. Apakah Amien
> yang terpaksa pinjam Cherokee untuk menunjang penampilannya itu tidak
> lebih
> feodalistik? Merasa kurang PD tampil dengan hanya Charade tua?
>
> 6. Tentang menolak debat Capres dan issue aktual.
> Situasi panas di Indonesia perlu kesejukan dan pendinginan. Kalau semua
> ngomong, memanaskan suasana, tanpa legitimasi yang jelas, hasilnya adalah
> kekacauan. Dan lawakan. Mega hanya bicara atau bertindak, kalau memang
> perlu
> dan tidak ada orang lain yang melakukannya. Dan itu telah dibuktikan sejak
> tampil dipentas politik, jauh sebelum nama AR dan "capres" lainnya masuk
> kancah politik Nasional.
>
> 7. Tentang mempertahankan Negara Kesatuan dan UUD '45.
> Ini issue yang tidak populer, tetapi harus ditempuh karena bernilai
> strategis. Itulah risiko menjadi nakoda kapal besar. Mengurangi musuh dan
> masalah, karena ada prioritas masalah yang lebih penting.
> Sumber Daya Nasional setelah Pemilu harus lebih diarahkan pada mengatasi
> keterpurukan bangsa, bukan terus-terusan memanjakan politisi berpentas-ria
> dikancah Nasional atas biaya rakyat.
> Semua tahu bahwa sistem di Indonesia itu sudah bagus, tetapi moral dan
> mental pelaksananyalah yang jeblok.
> Jadi dengan sistem yang sama, tetapi dengan oposisi sekaliber AR, Yusril,
> Wimar, Adnan Buyung dsb. yang berarti memperkuat pengawasan effektip,
> niscaya arogansi Pemerintahan akan terkikis secara gradual tetapi pasti.
> Dengan begitu National resources dapat optimally dedicated to address the
> main National problem.
>
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!