In a message dated 5/29/99 3:06:13 AM !!!First Boot!!!, [EMAIL PROTECTED] 
writes:

<< From: Martin Manurung <[EMAIL PROTECTED]>
 Date: Saturday, May 29, 1999 3:16
 Subject: Re: [Kuli Tinta] [Fwd: Fw: [PAN] Tak tahan kritik !]
 
 
 >Soal marah-marah.., memang banyak pemimpin politik kita yang tidak bisa
 >menahan emosi. Yusril Ihza Mahendra langsung sewot ketika diserang masalah
 >rokok, mukanya memerah. Begitu juga Amien Rais yang langsung menohok bahasa
 >Inggris Yusril yang belepotan, padahal "bahasa Inggris" itu sudah out of
 >topic. Mungkin yang relatif calm adalah Sri Bintang Pamungkas. Dan jangan
 >lupa, di cerita yang anda forward itu, yang "marah-marah" bukan Megawati
 >lho...
 >
 >Saya kira, semua tokoh politik kita memang masih dalam proses pembelajaran
 >pratis tentang demokrasi.. it's okay.., as long as the don't promote the
 >status-quo..
 
 Yak.. saya sependapat dengan anda, bung Martin.. memang banyak pemimpin
 politik kita yang belum bisa menahan emosi. Lebih jeleknya dalam forum
 politik justru menyinggung masalah pribadi yang diwarnai sentimen pribadi
 pula.
 Kalau mbak Mega memang tidak pernah marah kan?! Beliau memang jarang bicara.
 Tapi mungkin itu akan lebih baik daripada banyak omong yang menimbulkan
 kesan arogan. :-)
 
 Saya juga mendukung partai-partai anti-status-quo, namun seyogyanya..
 pemimpin-pemimpin seperti pak Amien Rais dan mbah Gus Dur, jangan terlalu
 sombong, menganggap dirinya lebih dari yang lain. Yang menganggap orang lain
 itu berada di bawah dirinya. Karena arogansi pemimpin-pemimpin tersebut
 ditiru oleh simpatisannya, apalagi yang fanatik!
 
 Contohnya, seperti sebuah keluarga tetangga saya, sang kepala keluarga
 berkata dengan sombongnya begini, "Di rumah saya, yang tidak milih PAN itu
 cuma binatang!!!". Lha kalo pembantu atau supirnya mau milih PDI-Perjuangan,
 apa dia ini binatang? Tentu bukan!
 Juga banyaknya simpatisan suatu parpol menganggap rendah orang lain yang
 tidak memilih parpol yang sama dengan dirinya, karena omongan pimpinan
 parpol atau jurkamnya. Menurut saya ini sama sekali tidak mendewasakan cara
 berpikir politik yang demokratis.
 
 Oke bung Martin.. silahkan dilanjutkan! :-)
 Semoga perjuangan dan harapan kita semua ini tidak sia-sia.
 
 DEZIG! >>
Baca lagi, renungi lagi,  dan jangan malu untuk mawas diri.

# # #
> Diambil dari Majalah Hidayatullah
>
> Eep Saefulloh Fatah: "Disemprot" Promeg
> Beginilah repotnya berdiskusi dengan orang yang tak terbiasa dikritik.
> Pengalaman ini dialami Eep, pengamat politik yang dikenal jernih dan tajam
> itu, saat tampil bersama Andrianus, fungsionaris PDI Perjuangan Jawa
Timur,
> di Surabaya beberapa waktu lalu.
> Kata Eep, ia jadi heran sekarang banyak pemuda memakai kaos bergambar
> Megawati berlatar belakang Soekarno, Presiden RI pertama itu. Jika membuka
> lembaran sejarah Indonesia, kata pengamat politik dari UI itu, Soekarnolah
> bapak otoriterianisme, yang kemudian dilanjutkan Soeharto. "Lha saya jadi
> tidak mengerti maksudnya anak-anak muda itu, apa ingin membangun
> ototiterianisme lagi?" katanya pada acara bedah buku Membangun Opisisi
itu.
> Dijawab oleh Andrianus, "Yang diomongkan Suep (maksudnya Eep) itu kan
> jeleknya. Banyak kebaikan Soekarno yang tidak pernah dibicarakan."
Tangkisan
> yang cukup lumayan.
> Kata Eep, di antara tokoh-tokoh politik yang mencuat sekarang, ada yang
cuma
> menjadi penumpang gratis kereta reformasi. Coba buka kembali kliping koran
> atau majalah, nanti ketahuan siapa penumpang gratis itu. "Megawati
misalnya,
> dulu kan diam saja saat mahasiswa menuntut Soeharto mundur," papar bapak
> satu anak itu.
> Agaknya, Andrianus tak tahan dikritik begitu. Hatinya panas. "Sebelum
> mahasiswa bergerak, Megawati sudah melawan Soeharto. Justru saya bertanya,
> dulu Anda di mana?" katanya balik menuding. Andrianus ternyata belum mampu
> mendinginkan hatinya. Keluarlah umpatan "Mestinya yang perlu direformasi
itu
> raimu!" Kontan hadirin pun menyambut hu..hu...Ada yang nyeletuk, "Belum
lagi
> berkuasa sudah suka marah-marah, apalagi nanti berkuasa."
> Eep sendiri cuma nyengir. Maklum pria kelahiran Cibarusah, Bekasi ini, tak
> paham bahasa Jawa.
>
> Best Regards,
>
>
> Joko Riswadi
> (E-mail : [EMAIL PROTECTED] )
> PT SATELIT PALAPA INDONESIA
> Jl. Daan Mogot Km 11 Jakarta Barat
> Telp. +62 21 5438 7719
> Hp.   +62 816 803 674

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!




Kirim email ke