At 01:06 PM 6/1/1999 -0700, you wrote:
>Memangnya kenapa? Apa nggak boleh? Mereka adalah suami istri yang sah.
Suami
>Wardah adalah Mas Wiladi yang dulunya memang pernah jadi orang
seminari.
>Wardah sendiri dibesarkan dalam keluarga yang memiliki tradisi
pesantren.

SMP dan SMA Wardah di Muhammadyah. Tapi Wardah berasal dari
keluarga Masyumi, namun karena tinggal di Jombang (Wardah lahir
di Jombang), mereka juga dekat dengan tradisi NU.

Bung Hasan, sebaiknya Anda tabayyun dulu sebelum menuduh sesuatu.
Karena saya lihat dalam posting Anda, Anda sangat mudah menuduh
orang-orang PKB, NU hanya semata-mata karena sentimen saja. Gus Dur
itu bukan antek Yahudi. Dengan menggandeng kaum minoritas di bawah
payung Islam Universal, beliau berusaha membentengi bangsa kita dari
gempuran neokolonialisme baru (persaingan antara kapitalis raksasa Cina
dan Yahudi). Itulah sebabnya jauh-jauh hari beliau membina hubungan
dengan tokoh-tokoh Israel. Jika saja kita tahu ada apa di balik
Kerusuhan
Mei 98 dan kerusuhan-kerusuhan lanjutan pasca Mei (salah satu tujuannya
adalah rebutan kekayaan alam Indonesia yg melimpah ruah. You know,
siapa menguasai migas, dia menguasai dunia), niscaya kita akan bersyukur

bahwa kita punya ahli strategi politik kelas dunia seperti Gus Dur.
Dengan
cantik Gus Dur bermain di tengah, bukan untuk kepentingannya
sendiri, tapi semata-mata karena kecintaannya pada bangsa ini.
Gogon, Eggy, Adi dg Kisdi dan PBBnya hanya ditunggangi oleh
Lobby Moslem yg sesungguhnya ditunggangi lagi oleh Lobby Yahudi.
Karena tidak mengerti petanya, mereka menjadi korban, orang-orang
yang diiming-imingi lalu dikorbankan, kasihan. Itu pula sebabnya kenapa
Wiranto cs sangat hormat pada Gus Dur. Bahkan Syarwan Hamid yg
jelas-jelas musuhnya Mega, juga respek padanya. Para wartawan pasti
tahu, Wiranto berkali-kali menemui Gus Dur tanpa publikasi. Gus Dur
sudah membiarkan dirinya dihujat banyak orang demi kepentingan umat.
Ingat sewaktu dia menggandeng Tutut? Pembantaian umat Islam langsung
berhenti begitu Tutut digandeng Gus Dur. Cobalah wartawan mencoba
melihat fenomena yang ada lalu mencoba menganalisanya. Saya pernah
tanya Gus Dur kenapa beliau hanya bicara sedikit pada wartawan, beliau
bilang, jika semua diberitahu, wartawan jadi goblok dan tidak belajar
berpikir.

Salam,



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!




Kirim email ke