Artikel yang di-fwd diambil dari Republika, bukan Kompas. Dengan demikian kekeliruan telah diperbaiki. HP_ >From: "Hercule Poirot" <[EMAIL PROTECTED]> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED] >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: [Kuli Tinta] Ketika Perempan Menilai Perempuan..... >Date: Wed, 02 Jun 1999 14:01:56 PDT > >Pengantar: > >Perempan menilai Capres Perempuan. >Bagaimana menurut para perempuan yang lain? > >HP_ > >Koalisi Perempuan Indonesia tak Dukung Mega sebagai Capres > >SURABAYA -- Organisasi Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) >ternyata tak otomatis mendukung calon presiden dari kaum >perempuan. Pernyataan ini disampaikan oleh Sekjen KPI, >Nursyahbani Katjasungkana, ketika menghadiri seminar >'Pendidikan Politik dan Kesetaraan Jender bagi Wanita' yang >diselenggarakan Koperasi Wanita Jatim di Surabaya, Selasa >(1/6) petang. > >''Kami tidak akan memberikan dukungan pada Megawati >sebagai capres,'' tutur Nursyahbani. Ia menilai, selama ini Mega >yang dicalonkan oleh PDI Perjuangan sangat kurang dalam >menyuarakan aspirasi perempuan. > >Jangankan tindakan nyata, selama ini Nursayahbani menganggap >tak ada pernyataan politik Mega yang jelas-jelas memihak pada >perjuangan kaum perempuan. ''Belum lagi bila dilihat pada >kenyataan, bahwa ada beberapa kebijakan politik PDI-P yang >amat bertentangan dengan garis perjuangan KPI.'' > >Mantan direktur LBH Jakarta itu memberi contoh tentang >persoalan dwifungsi ABRI (TNI). ''KPI tak sependapat >pelaksanaan dwifungsi TNI. Bahkan kami minta sekarang juga >dicabut. Tapi, PDI-P justru mendukung dwifungsi,'' urainya. >Demikian juga soal referendum di wilayah Timtim. KPI amat >mendukung adanya referendum di provinsi termuda itu. >Sedangkan, setahu Nursyahbani, PDI-P beranggapan persoalan >status Timtim telah selesai dan provinsi ini dianggap tetap >menjadi bagian sah dari pemerintah Indonesia. > >''Sikap itu jelas-jelas bertolak belakang dengan kami,'' papar >Nursyahbani. Dengan kenyataan seperti itu, sambung wanita >keturunan Madura tersebut, maka tak ada keharusan bagi KPI >untuk mendukung calon presiden wanita dari PDI-P. > >Persoalan lain yang disayangkan oleh Nursyahbani adalah >minimnya jalinan komunikasi politik bagi Megawati sebagai salah >satu kandidat kuat capres periode mendatang. >Dikemukakannya, jalinan politik ini amat perlu sehingga citra diri >dan partaianya yang kurang baik kemungkinan bisa tertutupi >sehingga tak merugikan perjuangan partai. > >''Masak diajak debat capres malah menolak dengan dalih yang >tak bisa diterima, yakni tak sesuai dengan budaya timur. Padahal >semua tahu, debat itu 'kan salah satu bentuk momunikasi politik >dengan masyarakat luas. Hal itu seharusnya menjadi perhatian >Mega dan kelompoknya,'' kata Nursyahbani. > >Pada bagian lain, Nursyahbani percaya kondisi Mega dan >partainya justru akan lebih baik bila saluran komunikasi publik >dimanfaatkan sebaik-baiknya. ''Karena itu, dia menyarankan >agar peluang berkomunikasi dengan publik lewat seminar, >diskusi, atau debat dimanfaatkan.'' > >Walau begitu, dia tak mau menghalangi niat Mega dan >kelompoknya untuk maju terus dalam pemilihan presiden >mendatang. ''Secara pribadi --dan sebagai perempuan-- kalau >dia menjadi presiden, saya sih senang saja,'' ujarnya. > >Ungkapan senada disampaikan Prof Dr Toety Herati Noerhadi, >caleg PAN dari wilayah Surabaya untuk DPR Pusat. Ketika >mengadakan kampanye khusus dengan kaum wanita di Gedung >Wanita, Surabaya kemarin, guru besar Fakultas Sastra UI itu >minta agar jangan mempersoalkan Megawati dari sosok >perempuannya. > >''Jangan kita membeda-bedakan hal itu. Jangan membuat kriteria >atas dasar pria-perempuan, nama besar, atau kharismanya. Tapi >lihatlah atas dasar kemampuannya,'' tegas Toety. > >''Bila memang dinilai tak memiliki kemampuan, maka sah-sah >saja capres wanita ditolak. Wanita dan pria punya hak sama >untuk ikut mengatur persoalan kenegaraan,'' kata Toety lagi. >n yon [Kompas] > > > > >_______________________________________________________________ >Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com > >______________________________________________________________________ >To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] > >TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999! > > > > > _______________________________________________________________ Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
