Karena itu sebagian besar masyarakat yang mengetahui tentang Mega sewaktu
menjadi anggota DPR, meragukan kepemimpinannya. Tapi mungkin nanti kalau
sudah menjadi presiden akan rajin, karena tempat tinggalnya di istana.
> ----------
> From: Hercule Poirot[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Saturday, June 05, 1999 4:00 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Pikir dulu sebelum Pemilu
>
> Saya punya pandangan berbeda tentang Megawati. Sebagai politisi,
> prestasi Megawati jeblok. Saat jadi anggota DPR tidak pernah ada
> suaranya. Malah sering tidak hadir di persidangan.
>
> Saya juga tidak setuju dengan pandangan Megawati tentang Tim-Tim,
> amandement UUD'45, dan "keluguannya" mengatakan perlu paspor kalau
> ke Sumatra bila Indonesia jadi negara federal. Yang terakhir ini
> menunjukkan kalau Megawati memang tidak berpengatahuan. Seorang
> pemimpin, selain bijak, adil, dan sifat-sifat postifi lainnya
> ia hendaknya juga seorang yang berpengetahuan dan cakap.
>
> Well, itu beberapa alasan mengapa saya tidak memberi dukungan
> kepada Megawati [baca: PDI Perjuangan]. Namun demikian saya
> tetap menghormati pilihan teman-teman. Saya juga tidak akan
> mengganggu kalau teman-teman kampanye untuk Megawati.
> Selamat mencoblos.
>
> Hercule_P
> -----------
> >From: Freddy <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >CC: [EMAIL PROTECTED],
> >[EMAIL PROTECTED],[EMAIL PROTECTED],
> >[EMAIL PROTECTED],[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
> >Subject: [Kuli Tinta] Pikir dulu sebelum Pemilu
> >Date: Wed, 28 Apr 1999 14:26:49 +0700
> >
> >Diakui (oleh hampir seluruh lapisan masyarakat) ataupun tidak (oleh
> >sebagian
> >besar islam fundamental, radikal), disadari ataupun tidak Ibu Megawati
> >merupakan pemimpin Indonesia yang paling maju dalam berbagai hal dan
> diakui
> >kepemimpinannya baik dari dalam maupun luar negeri. Simaklah beberapa
> fakta
> >berikut termasuk beberapa lawan politik Megawati :
> >- Mega memperoleh pengakuan dari negara India dengan dianugerahinya diri
> >Megawati sebagai penerima Memorandum of Understanding pada awal tahun
> 1999,
> >penghargaan ini diberikan karena mempunyai kesepahaman dalam perjuangan
> >bagi
> >tegaknya demokrasi di dunia.
> >- Oleh Asiaweek magazine, Megawati juga ditempatkan sebagai tokoh no. 26
> >dari 50 tokoh yang paling berpengaruh di Asia. Di Indonesia Mega
> merupakan
> >orang nomor kedua yang mendapatkan penghargaan setinggi itu dibawah Gus
> Dur
> >(no. 23 di Asia, no. 1 di Indonesia). Gus Dur memperoleh penghargaan ini
> >karena ia dianggap sebagai tokoh PBNU yang berhasil dengan memimpin
> sekitar
> >40 juta warga Nadlatul Ulama di Indonesia, ini didapatkan otomatis
> karena
> >kedudukannya sebagai ketua umum PBNU. Sedangkan bagi Megawati, yang
> >disebut-sebut sebagai simbol perjuangan demokrasi di Indonesia oleh
> majalah
> >tersebut, memerlukan perjuangan yang keras demi tegaknya demokrasi. Di
> era
> >Seoharto, Mega diperlakukan dengan sangat tidak adil dan cenderung amat
> >kejam serta melanggar hak-hak azasi manusia (peristiwa 27 Juli 1996). Hal
> >yang sama terjadi pada era Habibie (presiden tanpa legitimasi), Mega
> tetap
> >dipersulit diantaranya gugatannya terhadap PDI Soerjadi yang tetap
> ditolak.
> >Majalah Asiaweek menempatkan Soeharto pada peringkat ke-29, Habibie
> >peringkat 31, Wiranto peringkat ke-32, sedangkan Amien Rais peringkat
> >ke-35.
> >- Megawati merupakan satu-satunya pemimpin yang kepemimpinannya dapat
> >diterima oleh hampir 27 propinsi (mungkin terkecuali Aceh yang terus
> >bergolak melalui Gerakan Aceh Merdeka dan menuntut referendum).
> >Kepemimpinnya diakui oleh masyarakat di pulau-pulau besar seperti Jawa,
> >Sumatera (minus Aceh), Kalimantan, Sulawesi (minus Ujung Pandang yang
> >tampaknya dipengaruhi oleh Money Politics oleh Habibie dan kroni-kroninya
> >serta issue bahwa Habibie adalah putra daerah Bugis). Belakangan Habibie
> >juga mengaku-ngaku bahwa dalam dirinya juga mengalir darah Jawa karena
> dari
> >nenek moyang garis ibunya yang katanya ada darah Jawa. Issue terakhir ini
> >tampaknya dihembuskan untuk meredam rahasia umum, bahwa penduduk pulau
> Jawa
> >hanya bisa menerima pemimpin yang berasal dari tanah Jawa juga.
> >- Megawati dapat diterima dengan baik dan luas oleh seluruh masyarakat di
> >Maluku. Hal ini terlihat dari kunjungannya yang mendapat sambutan sangat
> >meriah di Ambon baru-baru ini.
> >- Megawati mempunyai hubungan yang amat erat dan baik dengan Uskup Belo
> di
> >Timor-timur.
> >- Megawati merupakan figur yang amat dihormati oleh masyarakat Bali yang
> >mayoritas beragama Hindu. Karena hal ini pula ia sempat mendapat serangan
> >dari AM. Syaifuddin yang menuduh dan meragukan kualitas keislaman Mega.
> >Sekali lagi orang semacam mister AM justru mendapat reaksi hujatan
> >masyarakat, terutama masyarakat Bali, sampai-sampai AM harus minta maaf.
> >- Megawati merupakan figur yang dapat diterima oleh seluruh agama dan
> etnis
> >di Indonesia meliputi Islam, Kristen Protestan, Katolik, Buddha dan Hindu
> >serta aliran kepercayaan kepada Tuhan YME. Baru-baru ini MUI melalui
> ketua
> >umumnya KH. Ali Yafie mengeluarkan semacam fatwa untuk menjegal Mega
> dengan
> >pernyataan bahwa harus memilih partai yang caleg-calegnya islam. MUI
> >sendiri
> >merupakan organisasi yang terus berusaha melegitimasi pemerintahan
> Habibie
> >dan Soeharto dimasa lampau, pro status quo. Padahal faktanya bahwa
> >caleg-caleg PDI Perjuangan merupakan satu-satunya partai terdiri dari
> >berbagai agama. Tokoh kristen yang juga salah satu ketua PDI Perjuangan
> >Theo
> >Syafei merupakan seorang kristen. Sebagian besar etnis Tionghoa yang
> >beragama Budhha juga merupakan simpatisan PDI Perjuangan. Hampir seluruh
> >umat Hindu, terutama masyarakat Bali amat mendukung ibu Mega, hal ini
> dapat
> >dimaklumi bahwa ibu Bung Karno adalah Balinese yang beragama Hindu. Umat
> >Islam sendiri sebagian besar mendukung Megawati karena Mega juga
> bersahabat
> >baik dengan Gus Dur dari PBNU dan pimpinan Partai PKB (Matori Abdul
> Jalil).
> >Islam terbesar di Indonesia adalah NU bukan Muhammadiyah atau islam-islam
> >fundamental lainnya.
> >- Simpatisan PDI Perjuangan terdiri dari semua lapisan masyarakat, mulai
> >dari masyarakat kelas bawah seperti pedagang asongan, pedagang kaki-5,
> >tukang becak, petani, pekerja. Demikian pula masyarakat menengah dan
> kelas
> >atas seperti Arifin Paniogoro, dll. Bahkan tokoh paranormal seperti
> Permadi
> >turut berkampanye untuk PDI Perjuangan.
> >- Amien Rais berusaha menjegal Mega dengan komentar bahwa perempuan tidak
> >boleh jadi presiden. Setelah merebaknya tema kampanye persamaan hak untuk
> >semua orang, termasuk perempuan, tokoh plin-plan ini kemudian kelihatan
> >harus menjilat ludahnya sendiri dengan berkampanye bahwa perempuan juga
> >harus diperjuangkan untuk kesamaan hak baik dengan kampanye langsung
> maupun
> >melalui iklan di TV. Dasar plin-plan dan ironisme seorang tokoh yang
> >mengaku
> >reformative. Please remember, all men are created equal in democracy
> >country. Tokoh ini ternyata lupa dengan ajaran negeri paman Sam yang
> >mengutamakan demokrasi, ironisnya mister Rais adalah lulusan universitas
> >Chicago.
> >- Yusril Izha Mahendra mencoba menjegal Mega dengan issue kultus
> individu.
> >Tokoh Partai Bulan Bintang ini ketakutan karena ia sendiri tidak punya
> >kharisma sama sekali dan kedekatan historisnya dengan mantan presiden
> >Soeharto, karena ia adalah orang yang sering membuat naskah pidato
> presiden
> >Soeharto serta sering nginap di rumah tokoh nomor wahid KKN itu. PBB
> >sendiri
> >diduga didanai cendana dan terdiri dari tokoh-tokoh keras seperti Ahmad
> >Sumargono, tokoh KISDI yang merekrut PAM SWAKARSA pada saat terjadinya
> >tragedi Semanggi beberapa waktu lalu. Terakhir ia juga merekrut keturunan
> >bekas pemberontak seperti pemberontak Daud Beureuh yang dimuat di Kompas
> >beberapa waktu lalu.
> >- Adi Sasono, tokoh calon presiden dari PDR (Partai Daulat Rakyat),
> adalah
> >seorang tokoh oportunis yang memanfaatkan kedekatannya degan Habibie,
> >memanfaatkan dana JPS (konon 6.5 Trilyun, menurut Wardah Hafidz, tokoh
> >Konsorsium Kemiskinan Kota), dan dana KUT untuk kepentingan Money
> Politics.
> >Padahal oleh Toby Mutis (rektor Trisakti) bahwa konsep ekonomi kerakyatan
> >Adi Sasono harus diredefinisi karena cenderung retorika demi rakyat kecil
> >dengan membagi-bagikan duit untuk kepentingan politik praktis semata
> >sementara banyak rakyat lain justru amat menderita karena salah alamatnya
> >JPS. Janji-janji jika PDR atau Golkar menang maka tidak perlu
> dikembalikan
> >kredit-kredit tersebut.
> >- Sri Bintang Pamungkas, tokoh ini sebetulnya hebat, namun sayangnya
> >terlalu
> >idealis sehingga ia telah kehilangan momentumnya. Dulu terkenal bersama
> >Megawati dengan simbol Mega-Bintang yang terus maju melawan kezaliman
> >Soeharto. Tetapi kemudian serasa tenggelam karena kesalahan dalam memilih
> >timing yang tepat dengan harus mendekam dipenjara. Selain itu, ia juga
> >dikenal terlalu menonjolkan diri sendiri dan cenderung tidak mampu
> memanage
> >orang-orang pintar, hal sebaliknya justru Megawati dikelilingi oleh
> >orang-orang pintar yang dikoordinasikan dengan amat baik. Jika Bintang
> >menang, maka presiden tanpa menteri dan cenderung terus terjadi
> re-shuffle
> >kabinet.
> >- Pemerintahan kabinet Habibie-wiranto tidak mau dan tidak mampu
> >menyelesaikan kasus-kasus besar, mulai dari kerusuhan mei 1998,
> penembakan
> >mahasiswa Trisaksi, Semanggi, sampai dengan kasus pemboman mesjid
> Istiqlal.
> >- Dari 3 putaran kampanye terlihat betapa besarnya semangat dan jumlah
> dari
> >massa pendukung PDI Perjuangan. Jika pemilu berlangsung luber, jurdil,
> maka
> >hampir dipastikan bahwa PDI Perjuangan akan menang dan meraih suara
> >mayoritas.
> >
> >Dalam kampanyenya Mega terus mengingatkan pentingnya persatuan, budaya
> >politik tanpa kekerasan, perjuangan nasib kaum perempuan, buruh, serta
> >anak-anak di Indonesia agar jangan sampai terjadi lost generation.
> >
> >Kepada umat Islam juga diharapkan agar tidak terpengaruh oleh isu-isu
> untuk
> >kepentingan agama. Pada dasarnya pemilu adalah pesta demokrasi rakyat
> untuk
> >memilih wakil-wakil rakyat bukan untuk memilih pemimpin agama dan juga
> >bukan
> >untuk menunjukkan existensi agama pada umat.
> >
> >Hindari partai yang menggunakan tema Suku, Agama (ini paling bahaya dan
> >sedang dimanfaatkan/dieksploitasi secara berlebihan), dan Ras Antar
> >golongan
> >dalam berkampanye.
> >
> >Gunakan hak pilih anda dengan berdasarkan suara hati nurani anda dan
> >tetaplah berdoa dan bersembahyang kepada Tuhan YME agar diberikan
> pemimpin
> >yang terbaik untuk membawa Indonesia keluar dari krisis yang amat parah
> dan
> >berkepanjangan, karena tujuan tulisan ini hanya untuk menggugah hati
> nurani
> >anda sekalian.
> >
> >Hidup Ibu Megawati, coblos nomor 11, PDI Perjuangan.
> >
> >
> >Amin Riza wrote:
> >
> > > Sindiran yang sangat sarkastis bung Yap. Jangan patah dulu, permainan
> >masih berlangsung. Semua sedang belajar dari proses. Semoga tidak semua
> >orang berpegang pada : pengalaman adalah guru terbaik. Karena dia selalu
> >datang terlambat. Semoga yang terjadi setelah Pemilu tidak sehitam yang
> >bung Yap khawatirkan.
> > > Pada keprihatinan yang sama, saya sedang berdoa semoga dalam 20 hari
> >kedepan datanglah kesadaran para tokoh reformasi untuk menjadi lebih
> dewasa
> >dan menyatukan langkah.
> > >
> > > Harus diakui tokoh pro reformasi kurang konseptual, dengan membiarkan
> >komposisi DPR/MPR tak tersentuh. Inilah penyakit : best effort. Mereka
> lupa
> >diri dalam euphoria ketika Soeharto dengan seenaknya menyatakan berhenti.
>
> >Mereka lupa bahwa itu pelecehan hukum. Berhenti seenaknya, tanpa
> >pertanggung jawaban. Bahaya sekali bagi suatu negara kalau semua pejabat
> >boleh menyatakan berhenti kapan dia mau. Sama bahayanya kalau pejabat
> nggak
> >mau mundur juga walau sudah jelas salahnya atau tidak legitimate.
> > >
> > > Seharusnya saat itu Soeharto langsung ditahan, supaya tidak dapat
> >konsolidasi. Lalu Harmoko cs digusur dari Senayan, diganti tokoh
> reformis,
> >lalu dipilih Presiden sementara yang membentuk Kabinet transisi dengan
> >tugas utama menyelenggarakan Pemilu.
> > >
> > > Yang terjadi sama sekali jauh dari itu. Jadi memang terlalu pagi untuk
>
> >optimis, tapi juga terlalu cepat untuk patah arang.
> > > Saya paham sakitnya hati Anda kalau lihat Harmoko masih bisa
> cengengesan
> >dilayar TV bersama para pimpinan partai tanpa massa dan tidak sah sama
> >sekali, macam Budi Hardjono dan Ipar Faisal Tanjung yang jadi Wakil ketua
>
> >DPR/MPR itu yang dapat suaranya juga disulap dari Sumut.
> > > Bung Yap, do you still remember option number four : pray. Don't take
> :
> >Forget it, please. Make sense?
> > >
> > > --
> > >
> > > On 10 May 99 10:49:12 EDT Yap C.Young wrote:
> > > >Iyalah bung Iwan, teman-teman di Jakarta juga masih optimis Golkar
> >memenangkan
> > > >Pemilu kali ini, walaupun prosentasenya tidak seoptimis Bomer
> Pasaribu,
> >tetapi
> > > >masih diatas 50% setelah ditambah kursi ABRI dan jatah 200 kursi
> >perwakilan.
> > > >Karena itu benturan antar pendukung partai reformis harus terus
> >digalakkan,
> > > >dan jangan kunjung bersatu. Biarlah tragedi Trisakti dan Semanggi
> >menjadi
> > > >kenangan. Penjarahan Mei menjadi dongeng saja. Teruskan serangan yang
>
> >tajam
> > > >kepada PDIP, PAN dan PKB. Dengan demikian mundurnya Akbar Tanjung
> dari
> >Kabinet
> > > >tidak menjadi pengorbanan yang sia-sia. Jangan khawatir, kalau tidak
> >dapat
> > > >diadu domba, kan masih banyak cara lain yang dapat ditempuh,
> >penculikan,
> > > >penyuapan, penjebakan hukum, sampai cara-cara sederhana lainnya untuk
> > > >menghilangkan tokoh reformis dari daftar manusia. Kalau nggak bisa
> >dirayu ya
> > > >digebuk. Golkar pasti menang, dengan tenang atau dengan perang.
> > > >
> > > >iwans <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > >I was confused. Sungguh !
> > > >
> > > >What's mean do you say ? Saya hanya tulis fakta-faktanya saja kok.
> >Makanya
> > > >berbentuk tanya jawab. Pengantarnya itukan bukan bagian dari fakta.
> Itu
> > > >pendapat saya pribadi. Dan kita boleh adu argumentasi disini. Bagi
> >saya,
> > > >apa yang dikatakan KKG tak ada bedanya bila hal yang sama kita ajukan
>
> >pada
> > > >Akbar Tandjung. Apa bedanya ? Nothing.
> > > >
> > > >Golkar juga bertekad tidak akan mengubah UUD 1945 secuilpun. Begitu
> >juga
> > > >PDIP.
> > > >
> > > >PDIP akan mempertahankan dwifungsi ABRI, sama saja dengan Golkar.
> > > >
> > > >Golkar dan PDIP juga tidak bersedia ikut debat calon Presiden.
> > > >
> > > >Begitu seterusnya. Jadi apa beda Golkar dengan PDIP. Cuma warnakan ?
> > > >
> > > >Bagaimana sih ? Atau di forum kuli-tinta ini dilarang untuk
> > > >menjelek-jelekkan PDIP ? Dilarang menghujat Megawati ? Saya kira itu
> > > >bertentangan dengan sikap demokrasi yang kabarnya diemban oleh partai
>
> >ini
> > > >dan tentu saja seluruh simpatisan serta pengikut partai ini. Dan saya
> > > >justru bingung, apakah posting saya itu sebegitu jeleknya sehingga
> anda
> > > >merasa enggan menjawabnya ? Kenapa tidak saudara ajukan saja
> >argumentasi
> > > >yang bagus untuk membela posisi PDIP andai saudara mendukungnya.
> > > >
> > > >Itu lebih bagus. Dan saya lebih menghargai saudara Citra yang
> > > >terang-terangan punya argumen soal kucing dalam karung yang kena
> >tepung,
> > > >ketimbang orang-orang yang nggak jelas juntrungannya.
> > > >
> > > >Itu saja.
> > > >
> > > >eg wrote:
> > > >
> > > >> Justru itu yang tidak boleh dilakukan wartawan, seharusnya kita
> > > >> memaparkan
> > > >> apa yang sebenarnya terjadi, nggak usah diberi bumbu lain sehingga
> > > >> lebih
> > > >> sedap atau dikurangi kuahnya sehingga menjadi asin.
> > > >>
> > > >> Regards
> > > >> =======================
> > > >>
> > > >> He... he.... , aku ingin tertawa...........
> > > >>
> > > >>
> >______________________________________________________________________
> > > >> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > > >> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > > >>
> > > >> Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> >______________________________________________________________________
> > > >To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > > >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > > >
> > > >Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >____________________________________________________________________
> > > >Get free e-mail and a permanent address at
> >http://www.netaddress.com/?N=1
> > > >
> > >
> >______________________________________________________________________
> > > >To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > > >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > > >
> > > >Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> > > Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
> > > Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com
> > >
> > >
> ------------------------------------------------------------------------
> > > @Backup - The #1 Online Backup Service
> > > Automatic, Safe, Reliable Backup and Restores. FREE for
> > > 30 Days. INSTALL Now and have a chance to win a Palm Pilot V!
> > > http://clickhere.egroups.com/click/218
> > >
> > > eGroup home: http://www.eGroups.com/group/bhinneka
> > > http://www.eGroups.com - Simplifying group communications
> >
> >
> >
> >
> >
> >______________________________________________________________________
> >To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> _______________________________________________________________
> Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!