**Sambodo Wrote :
Nah inilah contoh yang disenangi bahkan membanggakan  kumkum. Jadi berhubung
"1. Fraksi Islam-PAN-PKB(?) : 169 Kursi"  sudah kehilangan akal untuk
memenangkan pemilu (menurut otak para  skeptik-wan pemilu 99 adalah "end of
the world=Dooms Day" jadi dengan cara apapun mereka harus menang,
seolah-olah kalau mereka kalah saat ini mereka akan mati seterusnya = what a
pathetic ones, pesimis sekali manusia ini) akhirnya mereka menemukan cara
baru (kelihatannya cukup jitu) yaitu mengeroyok beramai-ramai 1 perempuan
Indonesia (kalau yang dikeroyok itu pendekar atau yang mengeroyok itu para
banci mungkin ndak apalah bisa diterima, tapi  mereka yang mengeroyok ini
adalah para pendekar favorit kumkum (saya lebih suka VOLTUS V ataw Mushashi
yang punya jiwa ksatria katimbang para pecundang ini) dan mereka itu
"mengira" bahwa dengan cara mengingkari pilihan rakyat, keroyokan rame-rame
maka mereka ini akan sangat huebat sekali pandangannya (walau dalam tata
cara berpolitik hal ini sah-sah saja). Rupanya jiwa ksatria masih
jauuuuuuuuuuuuuh sekali dari benak mereka. Gue lebih senang mengakui partai
gue kalah katimbang mesti keroyokan dengan alasan koalisi cuma untuk
memuluskan maksud yang dangkal begitu. Lagian gue pikir masih ada pemilu
yang laen, so next time must be better than sekarang. 

##Raja Komkom Siregar Write:
Rupanya Pak Bodo ini senewen banget sama partae-partae dan pendekarnya
yang nggak suka Megawati naek jadi RI-1. Pak Bodo, Saya kira seperti
posting dari para Netters sebelumnya, pak Bodo juga bisa baca  bahwa
pertarungan belum Selesai, malah baru START.

COBA pak Bodo bayangkan(meminjam ide bodoeR nih), Masak partai-partai yang
memperoleh suara sedikit masak harus diam aja, BODOH apa???, kalau mereka
diam saja, berarti mereka juga mengingkari suara rakyat, suara rakyat
pemilihnya, dan seperti pengumpamaan sebelumnya, Ibarat Lomba Balapan F-1,
Start nya Megawati di depan, tapi si start buncit kan nggak mesti bengong
aja dan membiarkan si Pemimpin Start melaju dengan mulus.
  
Pak Bodo, Kemenangan PDIP yang 32% itu yang melegitimasi siapa sih???

Yang kasih stempel kan MPR, jadi kalau PDIP mau berkuasa ya cari kawan
buat koalisi dong. Orang-orang partai lain, misalnya PPP-PBB, dsb kan
nggak memiliki kepentingan untuk memenangkan PDIP(apalagi Golkar ya...!)

Kayaknya cocok juga tuh PDIP koalisi sama Golkar, sama-sama Non Reformis.

Anda boleh saja mengatakan bahwa kemenangan PDIP itu mesti dihargai dan
mereka sebaiknya diberi kesempatan untuk pegang pemerintahan, Pendapat pak
Bodo itu nggak salah sama sekali dan sayapun setuju, tapi masalahnya
terletak pada Konstitusi kita, Rakyat memberi mandat melaui MPR.
Jadi Pak Bodo silahkan cari jawaban, yang salah sebenarnya yang mana?

**Sambodo Wrote :
 
Sayang saya dan keluarga saya tidak memilih PDI-P kemaren seharusnya kita
pilih PDI-P supaya suaranya bisa nambah lagi, dan supaya mata para pendekar
favorit kumkum bisa tambah mekar + lebar mengakui kesaktian suara rakyat. 
Saya yang bodo ini ndak ngerti apa salah Megawati sehingga suka dikaitkan
dengan bapaknya (memang sih dia anak bapaknya) tapi bukankah anak Si Karno
bukan cuman satu, malah ada yang laki-laki lagi .....!  mengapa bukan mereka
yang didukung oleh massa PDI-P/ kebanyakan rakyat Indonesia .....?
bukankah salah satu anaknya juga ikut-ikut mendukung salah satu partai lain
..........?                jawabnya ya kumkum .....!  biar mata-MU agak
melek, ..... 
KARENA MEGAWATI PUNYA KHARISMA TERSENDIRI DAN KEMAMPUAN YANG SETARA DENGAN
BAPAKNYA DALAM MENGERTI KEHENDAK RAKYAT .......!        

##Raja Komkom Siregar write:
Saya juga rakyat pak Bodo, tapi saya merasa bahwa Megawati sebagian besar
tidak memenuhi KEHENDAK saya terhadap seorang pemimpin.
Saya punya kualifikasi sendiri terhadap seorang pemimpin, saya bersukur
tidak asal sekedar milih.

**Sembodo Wrote :
memang Megawati lebih pendiam dari bapaknya, TAPI ITU JAUH LEBIH BAIK
ketimbang ngomong sana-sini tapi ujung-ujungnya cuma mbohongin rakyat, mbual
sana-sini, obral janji sana-sini (kayak mister Amien, mulai dari janji orang
cina bakal boleh jadi ABRI/pegawe negri, upgrade UUD, adili si Harto, no
negara Agama, etcetera..... etcetera ....etc) tapi belom temtu dia bakal
ngelaksana'in, lha wong sekarang saja sudah kelihatan mencla-mencle, ndak
ada pendirian babar blass, apalagi nanti setelah dia bakal kena tekanan
macem-macem. Mending kayak Megawati yang ngomong "gue sih nggak bisa ngomong
lebih banyak dari pada yang gue bisa kasih elu-elu pade"

##Raja Komkom Siregar Write:
Jadi ceritanya Megawati ini lagi memadukan dua "sikap" sebelumnya :
Sukarno : Banyak Omong dan Sangat "Kharismatis"
Suharto : Nggak banyak Omong tapi mengerti keinginan "rakyat"

jadi, Megawati = Sukarno + Suharto

Pak Bodo, Coba perhatiin cara berpolitik dari MR. SHT.... Nggak banyak
Omong tapi Sekali Ngomong langsung Kena...hehehe...lawannya kena penjara.
Pak Harto itu mana pernah ngomong-ngomong banyak, Dia itu orangnya pendiam
dan nggak suka banyak cingcong, maaf saya rasa mirip dengan cara bersikap
Megawati.

Pak Bodo, visi saya : Seorang pemimpin itu harus banyak omong, harus
transparan, tidak tertutup. Kalau cara memerintahnya masih kayak yang
dulu-dulu, N O N S E N S - lah.......
Seorang pemimpin mesti bisa mensosialisasikan kebijakannya kepada rakyat
kecil atau pun rakyat besar. Terbuka dan terbiasa dikritik. 

Untuk saat ini : pilih Megawati= pilih karung....nggak tahu ada kucingnya
nggak di dalem.

**Sembodo Wrote :
Yah begitulah, mungkin karena mau Millenium Rollover, jadi banyak yang
bilang "gue musti kuasa, biar rakyat kagak mmilih gue, .... gak pathe' En,
no rakyat,..... no ethics ......cuek, tak usah malu lah yau"   nah inilah
salah satu ciri kalau benak mereka sudah terinfeksi Y2K bug. Tentu kumkum
tau cara menanggulangi Y2K bug, yaitu dengan menset benak mereka 200 tahun
mundur supaya nanti 200 thn mendatang setelah mereka bisa lebih memahami
bahwa kalau mereka beragama mereka tentu akan mengerti bahwa "VOX POPULI =
VOX DEI"  kehendak rakyat terbanyaklah yang harus mereka junjung tinggi.
Mungkin sekarang PDI-P banyak dipilih rakyat, tapi siapa tau besok-besok
partainya kumkum yang dipilih atau partai saya (mungkin nggak ya ....?), ya
saat itu kita musti berlapang dada menerima hasilnya. 

#Raja Komkom Siregar Write:
Pak Bodo, sebaiknya baca lagi deh posting Pak Abdullah Hasan tentang
Statistika Politik.

Satu lagi pak Bodo, Saya ingin tahu apakah pak Bodo masih menghormati MPR
sebagai kedaulatan tertinggi di negara ini. Kalau pertimbangan anda
bahwa suara PDIP itu kehendak rakyat terbanyak, saya berani bilang
secara kuantitas Suara terbanyak PDIP berasal dari Pulau Jawa,So
kenapa nggak diangkat aja Megawati jadi Presidennya Pulau Jawa, Sorry
deh...pendapat ini bagi saya bisa dilaksanakan kalau kita sudah tidak
menghormati lagi MPR, sampai kapan MPR kita itu baru bisa jadi Super-Power
di Negara ini kalau memang cara berpolitik kita saling paksa memaksa dan
intimidasi.Marilah sama-sama kita hormati putusan MPR sebagai kedaulatan
rakyat tertinggi.
Yang melegitimasi Megawati jadi presidenpun kan harus MPR?


> 
> *****cut kepanjangen******************
> 
> 
> > At 07:30 AM 7/6/99 +0700, Raja Komkom Siregar wrote:
> > > Muncul Pesaing Serius :
> > > Fraksi Islam-PAN-PKB(?)
> > >
> > > Perincian :
> > > 1. Fraksi Islam-PAN-PKB(?) : 169 Kursi
> > > 2. PDI-P             : 151 Kursi
> > > 3. P. Golkar                 : 125 kursi
> > >
> > > Akankah kutub baru ini akan menjungkalkan semua perhitungan selama ini
> > > yang menjagokan Megawati dan Habibie....
> > > Hehehe.....
> > > Kita tunggu sama-sama, Makin rame aja.
> > 
>       ************** del *************************
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke