Bapak Abdullah Hasan, terima kasih atas comment-nya.

Saya melihatnya agak berbeda.
Memberi kesempatan itulah kata kuncinya.
Juga saya kurang sependapat dengan kata KOALISI bagi Kabinet Presidentil.
Terlepas dari siapa yang arogan, saya kurang senang menggunakan kata itu, 
karena berkonotasi menyerang. Juga saya akan menghindari kata kata keras : 
pura pura bodoh, bisa mawut dsb. supaya kita dapat tetap fokus pada pokok 
bahasan.

Konsep memberi kesempatan ini, tentunya hanya dapat dipergunakan 
sebaik-baiknya kalau pihak yang diberi kesempatan, dalam menyusun 
kabinetnya, merangkul kekuatan politik lain yang pada akhirnya menjamin 
dukungan mayoritas di Parlemen. Dibanyak Negara prakteknya begitu, karena 
itu akan menjamin stabilitas Pemerintahan.

Karena itu kalau pihak yang diberi kesempatan tidak mampu merangkul kekuatan 
politik yang menghasilkan dukungan mayoritas di Parlemen, lalu menyatakan 
tidak sanggup, atau dinyatakan gagal.

Agak berbeda dengan aturan main di Indonesia, dimana Pemilu hanya dianggap 
babak kualifikasi, sedangkan finalnya ditentukan di MPR.

Kalau komposisi anggota yang tidak dipilih rakyat di MPR porsinya 5-10% 
saja, itu tidak begitu berpengaruh. Tetapi dengan komposisi hampir 40% tidak 
melalui pilihan rakyat, maka potensi bias sangat besar sekali. Artinya suara 
rakyat tidak begitu dominan dalam proses demokrasi di Indonesia.

Itulah mengapa banyak pengamat luar negeri yang kebingungan.

Mungkin lebih baik jangan istilah demokrasi dan Pemilu yang dipakai, 
sehingga tidak membuat rancu.

Dengan sistem yang ada, saya memberi acungan jempol kepada mas Amien yang 
berkeras mengajukan Gus Dur menjadi Capres, untuk suatu alasan yang 
sementara saya keep dulu sampai selesainya SU MPR.

Saya juga tidak lagi mencela banyaknya inkonsistensi mas Amien dalam banyak 
hal, termasuk pengingkaran dia yang katanya menolak Capres alternatif non 
partisan. Yang jelas saya merasa dapat menangkap jalan pikirannya, dan 
mendukungnya. Pemunculan Capres alternatif melalui poros tengah yang begitu 
gencar dimotori mas Amien sungguh saya dukung sepenuhnya. Juga kalau 
misalnya Gus Dur keberatan dan akhirnya Mas Amien sendiri yang maju. Itu 
benar-benar harapan yang perlu disemangati kelanjutannya.

Semoga yang terbaik yang terjadi pada Indonesia.

Yap.

PS : untuk 7 hari kedepan saya off dulu, sehingga kalau ada comment 
lanjutan, mungkin agak tertunda replynya. Stomach can not wait, right?
See you again after couple days.


>From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: "Millis Kuli-Tinta" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Pendapat Rakyat Ingusan u/Yap
>Date: Thu, 5 Aug 1999 04:23:30 +0700
>
>Sepengetahuan saya, arti memberi kesempatan adalah membentuk pemerintahan
>mayoritas. Itu didapat dari mencari koalisi gabungan dengan partai lain.
>Sebagai contoh PDIP yang baru 30 %, mencari dan berunding mencari partai
>lain sehingga totalnya bisa mencapai minimal 51%. Di Indonesia kini , siapa
>yang melarang atau menghalangfi PDIP melakukan hal tersebut? Banyak orang,
>seperti saya, malahan bingung bertanya-tanya. Pendekatan apa yang sudah
>dibuat PDIP ?  Apa PDIP tanpa inisiatip cuma mau menunggu saja kedatangan
>yang lain ? Hampir2 tidak ada tanda pendekatan yang memadai dari pidato
>Mega. Amin Rais-pun yang banyak diinginkan  menjadi sekutu Mega
>sampai-sampai melakukan penilaian keras : PDIP arogan.  Apakah yang hasil
>pilihan rakyat itu cuma suara PDIP ? Kalau begitu perasaan 
>PDIP/pendukungnya
>, Amin Rais benar: arogan !. Apakah PDIP dan banyak diantara kita ini
>terlalu bodoh memahami tata-cara pemilihan presiden/ pembentukan
>pemerintahan yang kita punyai ? Atau cuma pura-pura bodoh untuk mencari
>posisi tawar-menawar yang tinggi ? Taruhannya kan kekerasan. Apakah itupun
>disadari dan diantisipasi oleh PDIP yang berusaha menghidupkan kembali
>POSKO2 nya ?.  Bisa
>mawut negeri ini....
>
>Wassalam.
>Abdullah Hasan.
>
>-----Original Message-----
>From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Wednesday, August 04, 1999 2:35 PM
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Pendapat Rakyat Ingusan
>
>
>Menurut etika demokrasi, pemenang Pemilu (sekalipun nggak mayoritas) diberi
>kesempatan pertama untuk membentuk Pemerintahan. Lalu diberi tengat waktu
>tertentu. Kalau berhasil, Pemerintahannya disahkan, kalau gagal, kesempatan
>diberikan kepada pemenang kedua dst.
>Begitu cara masyarakat demokrasi menghargai suara rakyat.
>
>Yang menjadi kontroversi disini, mengapa kita tidak berani memberi
>kesempatan itu, sementara kita cukup sabar dengan molor-molornya kerja KPU,
>atau pemberantasan KKN. Saya kira cukup fair memberi kesempatan membentuk
>Pemerintahan itu kepada pemenang Pemilu, misalnya seminggu atau dua minggu,
>sementara Pemerintah lama berstatus demisioner. Kalau terbukti gagal
>membentuk Pemerintahan, baru kesempatannya diberikan kepada yang lain.
>
>Saya kira dengan demikian tidak ada hati yang terluka, dan tidak ada yang
>bisa mencap akal-akalan, sehingga dampak kekerasan dapat diredusir.
>
>Banyak bukti pemenang pemilu tidak berhasil membentuk Pemerintahan. Yang
>lagi ngetop misalnya Partainya Ehud Barak (Israel). Partai ini hampir 
>setiap
>Pemilu selalu memenangkannya, tetapi juga hampir selalu gagal membentuk
>pemerintahan. Baru kali ini dia berhasil. Di Thailand lebih sering lagi.
>Juga di India. Begitulah demokrasi menurut pemahaman dunia.
>
>Kalau kesempatan ini tidak pernah diberikan, tentu ada yang berpandangan
>bahwa hal itu sengaja dilakukan untuk menjegal satu pihak untuk mendukung
>pihak lainnya. Atau untuk interest tertentu. Atau apalah. Dengan demikian
>Pemerintah yang terbentuk bukan sepenuhnya bekerja untuk memajukan bangsa,
>melainkan lebih sibuk mengatasi komplain pihak yang merasa dirugikan.
>
>Hal ini sangat mudah dilakukan, dan sudah sangat dipahami para elit politik
>kita, tetapi anehnya belum pernah ada niatan untuk menjalankannya. Malah
>muncul istilah istilah baru yang lama lama Negara ini nampak menjadi
>Fakultas Sospol Terebuka. Tiap hari melahirkan pengamat politik baru yang
>semakin membingungkan rakyat.
>
>Kalau sudah begini, kapan membangun Negaranya? Kapan kita bisa berharap
>keluar dari krisis?
>
>Yap
>(terbawa tahu tentang politik)
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
>To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke