> Saya juga tidak lagi mencela banyaknya inkonsistensi mas Amien dalam banyak
> hal, termasuk pengingkaran dia yang katanya menolak Capres alternatif non
> partisan. Yang jelas saya merasa dapat menangkap jalan pikirannya, dan
> mendukungnya. Pemunculan Capres alternatif melalui poros tengah yang begitu
> gencar dimotori mas Amien sungguh saya dukung sepenuhnya. Juga kalau
> misalnya Gus Dur keberatan dan akhirnya Mas Amien sendiri yang maju. Itu
> benar-benar harapan yang perlu disemangati kelanjutannya.
>
> Yap.
Tulisan ini bikin penasaran. Perubahan sikap pada seorang 'dewasa' (dalam
hal ini Bung Yap bukan AR) selalu menarik utk diamati. Dia hanya mungkin
terjadi jika orang itu tiba-tiba mendapat pencerahan atau menerima suatu
informasi yg benar2 berbeda. Saya jadi ingin menerka-nerka apa yg
berkecamuk dalam pikiran Bung Yap sehingga kini mendukung poros tengah.
Secara politis poros tengah bisa dipahami menjadi tiga hal yg berbeda
menurut tujuannya. Pertama poros tengah ini bertujuan memunculkan seorang
capres dengan mengabaikan Habibie (HB) dan Megawati (MG). Kedua diam2
poros tengah ini bermaksud mendukung Habibie. Dan yang terakhir ternyata
poros tengah ini bermaksud mendukung Megawati.
Yg pertama, poros tengah ini bermaksud benar2 memunculkan seorang capres.
Penampakan luar memang ini yg terjadi. Jadi Gus Dur atau siapapun yg
kemudian dimunculkan memang dimaksudkan utk menjadikan org tsb menjadi
presiden, dg 'menendang' HB dan MG. Pikiran buruk yg muncul akan
mengatakan bahwa hal ini terjadi karena mereka haus kekuasaan dengan
mengabaikan 'pilihan rakyat'. Sedang pikiran baik yg muncul adalah mereka
ingin menetralisir pengkutuban yg terjadi dengan memunculkan capres yg
paling sedikit ditentang. (Ingat walaupun PDIP & Golkar meraih 2 besar,
tapi menurut jajak pendapat Tempo - dulu - kedua partai itu juga paling
banyak mempunyai penentang). Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi
'kekerasan fisik' yg disinyalir mungkin saja terjadi jika pengkutuban ini
semakin mengental.
Becanda atau enggak, saya pernah mendengar komentar orang :
"Kalau Habibie naik, rusuh deh", simpatisan PDIP.
"Kalau Megawati naik, NII punya alasan lagi untuk perang", pengecam Mega.
Mudah2an lontaran di atas cuman becanda, walaupun memang benar2
dinyatakan.
Terus yg kedua, bisa saja ternyata poros tengah diam2 mendukung Habibie.
Caranya tentu saja dengan meminimalisir suara yg mungkin mendukung
Megawati. Dengan adanya poros tengah, sebagian (besar) suara dari PAN dan
sebagian (kecil) suara dari PKB akan tersedot ke kubu ini, walaupun
sebelumnya mereka potensial utk mendukung Mega. Dengan demikian Mega gagal
melenggang ke Istana, kubu poros tengah juga tidak terlalu besar,
akibatnya Habibie naik lagi menjadi presiden. Pikiran ini memang nyeleneh,
tapi kita inventarisir saja.
Yang terakhir, poros tengah ternyata merupakan 'gerakan bawah tanah' untuk
mendukung Mega. Adanya poros tengah dimaksudkan untuk menarik suara PPP yg
ditengarai akan lebih mendukung HB dibanding MG. Dengan demikian suara yg
potensial mendukung Habibie akan berkurang. Poros tengah juga tidak
terlalu besar, sehingga Mega naik menjadi presiden.
Untuk memahami mana yang lebih mendekati kebenaran, sepantasnya jika kita
mengamati langkah2 tokoh poros tengah sebelum isyu ini digulirkan. Siapa
saja tokoh2 tsb, apakah mereka dominan dalam poros tengah. Bagaimana sikap
mereka thd HB, thd MG dan terhadap isyu2 reformasi.
beDoer
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!