bRidWaN wrote:
> 
> Betul bung Yap, kayanya para tokoh2 yang sering ngomong2
> meramaikan sembari membuat bingung, masih rada2 terbawa
> era jaman dahulu kala....masih kuno....atau belagak kuno ?

Ah jangan apriori dululah. Kalau banyak yang bingung ya wajar saja. Wong
kita baru merdeka satu tahun kok maunya serba jelas. Nggak mungkin itu.
Jadi kalau banyak orang bingung sekarang ini ya wajar-wajar saja toh.
Saya kira pelaku politiknya sendiri tidak seperti itu. Bagaimanapun
mereka politikus bukan, pasti punya kepentingan sendiri-sendiri.

> Apalagi bila musyawarah untuk mufakat dikaitkan dengan
> 'BULAT' (bukan LONJONG), ini yang berabe.....

Saya paling tidak suka dengan kata-kata mufakat. Memangnya orang
dilarang untuk berbeda pendapat. Apa bedanya dengan jaman sebelum
merdeka. 
 
> Seharusnya menurut saya seperti ini kira2 pemilihan Presiden :
> 
> A mendapat suara 194
> B mendapat suara 182
> C mendapat suara 168
> D mendapat suara 157
> 
> Yang menang kan seharusnya si A...
> Betul ngga sih ??

Salah ! Kalau calonnya empat orang salah ! Dari sisi jumlah suara,
mungkin dia menang, tetapi menangnya adalah minoritas. Artinya, kalau si
B, C dan D menggabungkan suaranya maka si A jelas nggak punya arti
apa-apa. Mungkin si A bisa memimpin, tetapi kepemimpinannya tidak akan
efektif karena semua kebijakannya di tingkat pengambilan keputusan akan
dijegal, dan buntutnya adalah kebuntuan politik !

Yang benar adalah -- dengan asumsi Bung bRidwan -- maka sebelum diadakan
pemilihan terhadap empat calon maka mesti ditetapkan dulu suara minimal
yang mesti dicapai seorang calon. Atau calon-calon tersebut diuji dulu
di depan para pemilih dengan membuka debat terbuka berbentuk tanya jawab
agar para calon pemilih bisa mempertimbangkan pilihannya kembali.

Lantas adakan pemilihan lagi, sampai nantinya tinggal dua calon terbesar
yang memenuhi syarat minimal. Misalkan dalam contoh Bung Ridwan tadi
maka A dan B adalah dua suara terbesar. Maka C dan D harus berbesar hati
untuk menyingkir (katakan saja suara minimal yang mesti dicapai adalah
180 suara) dan pilihan tinggal A (dengan pendukung 194) dan B (dengan
pendukung 182).

Mereka berdua (A dan B) harus dipilih oleh 168 suara (mantan pemilih C)
dan 157 suara (mantan pemilih D). Jadi ada 325 suara yang diperebutkan.
Dan tidak tertutup kemungkinan ada yang abstain nantinya. 

Kalau kemudian ternyata hasilnya adalah A dipilih 194 dan B dipilih 182,
serta ada 325 orang yang abstain. Maka barulah kita boleh menyatakan
bahwa A adalah calon pilihan kita semua. 

Dan itulah yang selama ini lazim diterapkan pada berbagai organisasi
dimanapun di dunia.

Terkecuali A, B, C dan D dipilih langsung ! Dan tidak ada mekanisme
pemilihan bertingkat sebagaimana aturan UUD 1945 kita.

Dulu karena melalui pemilihan langsung, saya juga menjadi Ketua Senat
Mahasiswa dengan suara minoritas. Saya dipilih dengan 245 suara, pesaing
terdekat saya 180 suara, rangking tiga 120 suara, rangking empat 80
suara sampai rangking ketujuh. Bila suara saya dibandingkan dengan
gabungan suara kedua sampai ketujuh maka saya hanya didukung kurang dari
20 % suara, belum termasuk yang tidak ikut memilih  alias abstain !

Dan begitulah demokrasi di jalankan.

Karena itu bila Megawati ingin jadi Presiden tanpa perlu repot-repot
negosiasi maka adakan amandemen UUD 1945 secepatnya. Presiden bisa
dipilih langsung, dan mungkin Sri Bintang Pamungkas akan mendapat suara
yang cukup besar, mungkin mengalahkan Amien Rais.

Yang terjadi sekarang inikan tidak begitu. Pemilih Golkar dan PPP,
sebagai contoh. Apa dalam benak pemilihnya sudah terbayangkan bahwa
dengan memilih Golkar dan PPP maka mereka juga sekaligus memilih Calon
Presiden Akbar Tandjung atau Hamzah Haz. Kan nggak begitu toh ?

Atau mungkin saya yang keliru. Silahkan dilanjutkan ....

Lam Salam,


S a m


> 
> Salam,
> bRidWaN
> 
> > ----------
> >From: Yap C. Young
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >Subject: Re: [Kuli Tinta] Poros bingungnya Amien Rais....?
> >Date: Wednesday, August 04, 1999 9:21PM
> >
> >Saya kira nggak masalah kalau memang Mas Amien bersama poros tengah-nya maju
> >terus mengusulkan Gus Dur sebagai Capres. Itu baik saja.
> >Justru disini bakal teruji, siapa sebenarnya yang mendapat dukungan terbesar
> >suara MPR, dan sekaligus kita lihat korelasi antara suara MPR dan suara
> >rakyat.
> >
> >Yang agak membingungkan adalah pernyataan Prof Ryas Rasyid : Pemilihan
> >Capres harus diulang sampai salah satu calon mendapat suara minimal 351,
> >untuk menjamin kestabilan Pemerintahan.
> >Angka 351 ini juga terus diulang-ulang oleh mas Amien.
> >
> >Kalau capresnya lebih dari 2 mengapa angka 351 masih disakralkan juga?
> >Bukankah yang penting suara terbanyak, yaitu lebih banyak dibanding capres
> >lainnya.
> >
> >Kalau soal stabilitas Pemerintahan, kan bisa dimanajemeni melalui pembagian
> >portofolio Pemerintahan antar parpol yang punya wakil di DPR, sehingga
> >menjamin dukungan untuk Pemerintah di DPR lebih dari setengahnya. Itupun
> >idealnya ada sebagian yang kritis, sehingga kalau kebijakan Pemerintah
> >memang salah, DPR tetap mampu mengoreksinya. Bukan menjadi loyalitas
> >fanatik.
> >
> >Walaupun aturan demokrasi di Indonesia ini agak berbeda dengan pemahaman
> >demokrasi didunia, ya sudahlah, kita kan maunya begitu.
> >
> >Semua pihak sebaiknya besar hati agar urusan pergantian pemerintahan ini
> >selesai dan kita dapat berharap segala krisis dapat diakhiri satu persatu.
> >
> >Semoga yang terbaik yang terjadi di Indonesia.
> >
> >Yap.
> >
> >>From: "Mas  Kojen" <[EMAIL PROTECTED]>
> >>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> >>To: <[EMAIL PROTECTED]>
> >>Subject: [Kuli Tinta] Poros bingungnya Amien Rais....?
> >>Date: Tue, 3 Aug 1999 10:18:13 +0700
> >>
> >>Assalamu'alaikum  wr .wb
> >>
> >>Poros "bingungnya" Amien Rais mencalonkan Gus Dur sebagai Presiden
> >>dengan maksud menarik PKB dari PDI-P dan menyeret PPP dari Golkar.
> >>Apa yang diperbuat Amien ini saya kira tidak disokong oleh pengikut
> >>PAN dan Amienpun telah mengkhianati para pemilih PAN yang memilih
> >>PAN waktu pemilu. Untunglah Mattori Abdul Jalil dari PKB dan
> >>Sekjennya Muahaimin Iskandar tidak begitu "buta" saja untuk
> >>meninggalkan PDI-P yang memang telah meraih suara terbanyak dalam
> >>pemilu, sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa Ibu Mega dari PDI-P
> >>adalah pilihan rakyat terbanyak untuk menjabat Presiden negeri ini.
> >>
> >>
> >>Tindakan Mattori dan Muhaimin ini adalah tindakan yang tepat dan
> >>saya kira juga tidak akan mengkhianati pemilih PKB sendiri. Dengan
> >>mendukung Ibu Mega PKB telah bertindak yang tepat pada waktu yang
> >>tepat dengan pilihan yang juga tepat pula.
> >>
> >>Wassalamu'alaikum wr.wb
> >>
> >>Mas Kojen
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
> To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke