Thanks..

saya sih tidak menggugat budaya Jawa. Saya menghargai keberagaman budaya.
Termasuk Jawa, yang walaupun mungkin sudah disalahgunakan dan disalahartikan
oleh Soeharto. Saya hanya me-refer ke "alasan"-nya Soeharto selama puluhan
tahun itu. Terimakasih, saya jadi tambah mengerti budaya --atau paling
sedikit idiom-- jawa.

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
_________________________________________________
E-mail: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Visit http://come.to/forma-kub

-----Original Message-----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 19 Agustus 1999 9:23
Subject: Re: [Kuli Tinta] Amien - Habibie


Maaf nih Bung Martin ikut andil di idiom Jawa itu,

Istilah "mendem jero mikul duwur" adalah salah satu ajaran Jawa yang
mengharap generasi penerus untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat
pendahulu. Namun, itu hanya salah satu saja dalam ajaran Jawa. Ada yang
lain, yaitu "Wong tuo ora keno nggo tulodo" artinya orang tua tidak bisa
menjadi panutan. Jadi, Istilah "mendem jero mikul duwur" mengasumsikan bahwa
orang tua menurunkan keteladanan dan keutamaan hidup kepada generasi
penerusnya sehingga diharapkan generasi penerus itu melanjutkan apa yang
telah diperbuat oleh orang tuanya agar menjadi lebih baik lagi (secara
berkesinambungan menyempurnakan). Tindakan yang mencoreng keteladanan dan
keutamaan hidup ang telah dirintis oleh pendahulu adalah tidak   "mendem
jero mikul duwur" karena menjauhkan diri dari tujuan "mangayu-ayu hayuning
bawono langgeng"

Mohon maaf, sekali lagi saya katakan bahwa kebiasaan Pak Harto untuk
menggunakan idiom-idom Jawa untuk pembenaran tindakannya telah dikritik
pedas oleh Sultan Yogya pada 20 Maret 1998 didepan "pisowanan ageng"
(bertandang secara besar-besaran) sejuta rakyat Yogyakarta.


----- Original Message -----
From: Martin Manurung <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 17 August 1999 16:45
Subject: Re: [Kuli Tinta] Amien - Habibie


BUng Sam..

Sejarah itu untuk dipelajari bukan ditertawakan. Bung Karno dengan sangat
jelas meminta agar dirinya di bawa ke pengadilan agar jelas duduk
perkaranya; apakah ia terlibat Gestapu dan siapakah sebenarnya otak dibalik
pembunuhan para jenderal senior AD. Tapi permintaan Bung Karno itu tidak
dikabulkan oleh Soeharto dengan alasan jawa: "mikul dhuwur mendem jero"
(nggak tau aku gimana nulisnya). Jadi, ada yang tidak beres dengan
ketidakmauan Soeharto mengadili Bung Karno, padahal yang bersangkutan
sendiri malah memintanya. Gitu lho..., jadi tak ada yang hutang budi pada
siapapun.

Baiknya, anda baca sejarah lebih cermat lagi lah.... ini bukan menggurui,
tapi supaya tidak salah menanggapi, apalagi dibecandakan..

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
_________________________________________________
E-mail: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Visit http://come.to/forma-kub

-----Original Message-----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 17 Agustus 1999 20:02
Subject: Re: [Kuli Tinta] Amien - Habibie



----- Original Message -----
From: Sams <[EMAIL PROTECTED]>

Bagaimanapun
Megawati berhutang budi pada Soeharto yang di awal kekuasaannya telah
menolak mengadili ayahnya Soekarno padahal sudah dimandatkan oleh MPRS
ketika itu. Dan saat ini Megawati dipergunakan sebagai kaki tangannya
menghadapi musuh-musuh lamanya seperti kelompok-kelompok Islam dan
menipu kekuatan-kekuatan reformis sehingga mereka percaya pada Megawati.

Sama nggak ? Hahahaha ....

S a m
================================

Bung Sam, di beragai milis sudah banyak diulas denga dukungan fakta.
Demikian juga di berbagai media. Seandainya Soekarno diadili maka kita
akhirnya akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

Bung, pasukan tanpa identitas mengepung sidang kabinet apakah bukan sebuah
pemberontakan apapun alasannya. Masih banyak hal yang gelap diseputar
peristiwa itu Bung!

Disamping itu, apakah Bung Sam mengetahui bahwa Soekarno memang dibuat
meninggal dalam kesendirian. Seandainya anda mengetahui penederitaan
keluarganya pada saat itu, diadili tidak - dinyatakan bersalah juga tidak -
namun seluruh kegiatan keluarga dimatikan secara perdata persis seperti
dilakukan terhadap Ali Sadikin dkk. Dewi telah mengatakan hal itu di
berbagai media masa.  Seandainya saja Soeharto memperhatikan Soekarno
seperti apa yang diterima Soeharto ketika sakit saat ini maka Soekarno belum
tentu meninggal! Penggunaan istilah jawa "mendem jero mikul duwur" apakah
tepat digunakan terhadap Soekarno?

Seandainya kita menempatkan diri kita pada diri Mega dan kemudian peristiwa
berulang dimana Soeharto dihujat maka apakah Anda akan bersikap seperti Mega
berani menentang arus dengan mengatakan :"Jangan menghujat Pak Harto"!
Wiranto yang langsung mengatakan akan melindungi mantan presiden dan
keluarganya setelah serah terima jabatan itu saja baru berani ngomong
setelah Mega ngomong. Come on Bung....!

Saya percaya bahwa keluarga Soekarno tidak merasa berhutang bdi kepada
Soeharto karena Soekarno tidak diadili. Soekarno tidak diadili karena ada
latar belakang politis yang tidak ingin dibuka  Sayang memang, karena itu
merupakan sejarah yang sangat berharga bagi bangsa ini.

��



______________________________________________________________________










______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan lakukan sendiri dengan mengirim e-mail 
kosong ke;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!








Kirim email ke