Ma'af yaa, bukan gue mau mbelain siapa-siapa,
Didaerah saya sono, bila ada keluarga yang mengadakan hajatan, hajatan
pengantin misal-nya; maka si keluarga tersebut, biasanya, menaruh kotak
kosong penampung duwiit. Diletakan dibagian depan dimana tamu-tamu melewati
daerah tersebut sebelum masuk ke arena hajatan. Arena tersebut yaa mungkin
rumah, pendopo atau halaman. Nah, biasanya, tamu-tamu tersebut
mencemplungkan amplop ke kotak tersebut, Plaang-pluung, sebelum masuk ke
arena hajatan dan kemudian baru duduk. Kotak tersebut akan dibuka setelah
hajatan selesai; dan barulah diketahui isinya. Yaa ada amplop kosong, ada
amplop yang penuh uang, ada amplop yang tidak menulis nama penyumbang, jadi
segala macam amplop laah. Lhaa, sebetulnya siapa sih yang salaah dengan
segala aneka ragam amplop tersebut. Tuan rumah, penyumbang ? Lhaa siapa sih
yang dirugikan? Tuan rumah, penyumbang, tetangga, orang kampung? Tak ada
yang dirugikan, selama tuan rumah menggunakan uang tersebut dengan benar dan
bertingkah laku yang benar, tidak berubah dari tingkah laku sebelum-nya.
Rekan-rekan,
Saya yakin, tak ada orang yang netral-traal. Walau sedikit-kit pasti ada
rasa berpihak pada sesuatu. Yang berpihak pada Mas Amien atau Mbak Mega atau
Pak Habibie, pasti tetap akan berpihak pada mereka, walau sejelek apapun
yang dilakukannya. Karena terbukti, bahwa orang-orang Indonesia, tak peduli
Jawa, Cina, Batak, Melayu, Bugis dan semuanya, lebih banyak menggunakan
perasaan daripada akal-pikiran. Perasaan tersebut, yaa emosi, marah,
ngambek, cintrong dan sebagainya.
Kalau diumpamakan, kita ingin naik kesuatu platform yang bernama
penyelesaian masalah, dimana kita harus melewati tangga, sementara tangga
teratas bernama dialog, kemudian dibawahnya perdebatan atau argumentasi,
kemudian caci-maki, dan yang terbawah adalah kekerasan; dimanakah kita
berada? Mungkin, kita baru berada di tangga ke satu sampai ketiga. Belum
sampai ketangga dialog. Lha bagaimana kita mampu mencapai ke-tangga dialog,
belum apa-apa kita sudah marah. Dan sayang-nya, waktu sekolah dari SD sampai
bangkotan, nggak ada mata pelajaran yang bernama dialog.
Saya berharap semoga ada diantara rekan-rekan yang mau usul ke Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan untuk memasukan mata pelajaran; dari TK sampai
Bangkotan; yang bernama, dialog yang benar. Dengan demikian, semoga
nanti-nya, anak-anak kita lebih suka berdialog. Sehingga lain dengan kita
yang lebih suka caci-mencaci, maki-memaki dan gontok-gontokan.
> ----------
> From: ��[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Wednesday, September 01, 1999 2:07 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Dana kampanye mPDI-P
>
> Gampang kok Mas,
>
> Arah angin bertiup akan menunjukan dari mana dan hendak kemana.
>
> salam
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Andriecht <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: 01 September 1999 08:24
> Subject: [Kuli Tinta] Dana kampanye mPDI-P
>
>
> Salam,
> Dalam sebuah tabloid edisi 51, saya membaca bahwa dana kampanye yang
> dimiliki oleh PDI-P begitu besar,
> Tabloid ini menyebutkan bahwa donatur PDI Perjuangan adalah:
> 1.Arifin Panigoro = Rp 800 miliar.
> 2.Sofyan Wanamdi = Rp 1,2 trilyun.
> 3.Jaringan China Daratan dan Perantauan = Rp 4,5 trilyun.
> 4.Negara ISRAEL = Rp 400 miliar dan
> 5.Negara USA = Rp 1 trilyun
>
> Saya tidak tahu apakah tabloid ini jenis tabloid kuning, yang penuh gosip
> murahan atau tidak, mungkin ada teman-teman yang bisa meng-klarifikasi hal
> ini, karena sepertinya segala sesuatu yang negatif yang muncul ke
> permukaan
> tentang PDI-P entah mengapa kok lenyap begitu saja, tanpa bekas, tidak ada
> respon lebih lanjut. seakan-akan bahwa semua yang diperbuat oleh PDI-P
> adalah benar.
>
> Dan, Saya merasakan bahwa semua hal negatif yang muncul selalu dianggap
> sengaja dimunculkan oleh lawan politik dan status quo untuk menjatuhkan
> PDI-P, padahal, siapa yang tahu,..
>
> Saya ingat dulu pada awal kampanye telah ditetapkan dana maksimum
> kampanye
> dan sumbangan maksimum dari donatur, apakah hal ini telah dilaksanakan
> dengan konsekuen.
>
> Saya tidak setuju jika ada kekuatan asing yang ikut bermain dalam
> pelaksanaan kampanye, apakah mungkin info diatas diselidiki dan jika benar
> maka pelanggarnya didiskualifikasi,.
>
> Sebagai rakyat biasa, saya juga ingin mengetahui hal ini, apakah benar
> atau
> tidak.
>
> Demikianlah,.
>
>
>
>
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!