Ah...ini isu murahan & nggak berbobot. Kenapa ??. Karena yang pasti dia
tidak mau sebutkan nama tabloidnya. Wong sudah nyadur isinya saja, masih
takut-takut !!. Gimana kalau isinya dari dia sendiri.Ini yang disebut
meng-issue, nggak ada bahan lain & nggak ada kerjaan. Yang jantan dong, kan
enak untuk didiskusikan nantinya.

Trim's,  Fw.


> -----Original Message-----
> From: Mudjiman (KPC) [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Ma'af yaa, bukan gue mau mbelain siapa-siapa,
> Didaerah saya sono, bila ada keluarga yang mengadakan hajatan, hajatan
> pengantin misal-nya; maka si keluarga tersebut, biasanya, menaruh kotak
> kosong penampung duwiit. Diletakan dibagian depan dimana tamu-tamu
> melewati
> daerah tersebut sebelum masuk ke arena hajatan. Arena tersebut yaa mungkin
> rumah, pendopo atau halaman. Nah, biasanya, tamu-tamu tersebut
> mencemplungkan amplop ke kotak tersebut, Plaang-pluung, sebelum masuk ke
> arena hajatan dan kemudian baru duduk. Kotak tersebut akan dibuka setelah
> hajatan selesai; dan barulah diketahui isinya. Yaa ada amplop kosong, ada
> amplop yang penuh uang, ada amplop yang tidak menulis nama penyumbang,
> jadi
> segala macam amplop laah. Lhaa, sebetulnya siapa sih yang salaah dengan
> segala aneka ragam amplop tersebut. Tuan rumah, penyumbang ? Lhaa siapa
> sih
> yang dirugikan? Tuan rumah, penyumbang, tetangga, orang kampung? Tak ada
> yang dirugikan, selama tuan rumah menggunakan uang tersebut dengan benar
> dan
> bertingkah laku yang benar, tidak berubah dari tingkah laku sebelum-nya. 
> Rekan-rekan,
> Saya yakin, tak ada orang yang netral-traal. Walau sedikit-kit pasti ada
> rasa berpihak pada sesuatu. Yang berpihak pada Mas Amien atau Mbak Mega
> atau
> Pak Habibie, pasti tetap akan berpihak pada mereka, walau sejelek apapun
> yang dilakukannya. Karena terbukti, bahwa orang-orang Indonesia, tak
> peduli
> Jawa, Cina, Batak, Melayu, Bugis dan semuanya, lebih banyak menggunakan
> perasaan daripada akal-pikiran. Perasaan tersebut, yaa emosi, marah,
> ngambek, cintrong dan sebagainya.  
> Kalau diumpamakan, kita ingin naik kesuatu platform yang bernama
> penyelesaian masalah, dimana kita harus melewati tangga, sementara tangga
> teratas bernama dialog, kemudian dibawahnya perdebatan atau argumentasi,
> kemudian caci-maki, dan yang terbawah adalah kekerasan; dimanakah kita
> berada? Mungkin, kita baru berada di tangga ke satu sampai ketiga. Belum
> sampai ketangga dialog. Lha bagaimana kita mampu mencapai ke-tangga
> dialog,
> belum apa-apa kita sudah marah. Dan sayang-nya, waktu sekolah dari SD
> sampai
> bangkotan, nggak ada mata pelajaran yang bernama dialog. 
> Saya berharap semoga ada diantara rekan-rekan yang mau usul ke Departemen
> Pendidikan dan Kebudayaan  untuk memasukan mata pelajaran; dari TK sampai
> Bangkotan; yang bernama, dialog yang benar.  Dengan demikian, semoga
> nanti-nya, anak-anak kita lebih suka berdialog. Sehingga lain dengan kita
> yang lebih suka caci-mencaci, maki-memaki dan gontok-gontokan.  
> 
> > ----------
> > From:       ��[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent:       Wednesday, September 01, 1999 2:07 PM
> > To:         [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:    Re: [Kuli Tinta] Dana kampanye mPDI-P
> > 
> > Gampang kok Mas,
> > 
> > Arah angin bertiup akan menunjukan dari mana  dan hendak kemana.
> > 
> > salam
> > 
> >  
> > ----- Original Message ----- 
> > From: Andriecht <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: 01 September 1999 08:24
> > Subject: [Kuli Tinta] Dana kampanye mPDI-P
> > 
> > 
> > Salam,
> > Dalam sebuah tabloid edisi 51, saya membaca bahwa dana kampanye yang
> > dimiliki oleh PDI-P begitu besar,
> > Tabloid ini menyebutkan bahwa donatur PDI Perjuangan adalah:
> >      1.Arifin Panigoro = Rp 800 miliar.
> >      2.Sofyan Wanamdi = Rp 1,2 trilyun.
> >      3.Jaringan China Daratan dan Perantauan = Rp 4,5 trilyun.
> >      4.Negara ISRAEL = Rp 400 miliar dan
> >      5.Negara USA = Rp 1 trilyun
> > 
> > Saya tidak tahu apakah tabloid ini jenis tabloid kuning, yang penuh
> gosip
> > murahan atau tidak, mungkin ada teman-teman yang bisa meng-klarifikasi
> hal
> > ini, karena sepertinya segala sesuatu yang negatif yang muncul ke
> > permukaan
> > tentang PDI-P entah mengapa kok lenyap begitu saja, tanpa bekas, tidak
> ada
> > respon lebih lanjut. seakan-akan bahwa semua yang diperbuat oleh PDI-P
> > adalah benar.
> > 
> > Dan, Saya merasakan bahwa semua hal negatif yang muncul selalu dianggap
> > sengaja dimunculkan oleh lawan politik dan status quo untuk menjatuhkan
> > PDI-P, padahal, siapa yang tahu,..
> > 
> > Saya ingat dulu  pada awal kampanye telah ditetapkan dana maksimum
> > kampanye
> > dan sumbangan maksimum dari donatur, apakah hal ini telah dilaksanakan
> > dengan konsekuen.
> > 
> > Saya tidak setuju jika ada kekuatan asing yang ikut bermain dalam
> > pelaksanaan kampanye, apakah mungkin info diatas diselidiki dan jika
> benar
> > maka pelanggarnya didiskualifikasi,.
> > 
> > Sebagai rakyat biasa, saya juga ingin mengetahui hal ini, apakah benar
> > atau
> > tidak.
> > 
> > Demikianlah,.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ______________________________________________________________________
> > Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
> > dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> > Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> > Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> > 
> > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ______________________________________________________________________
> > Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
> > dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> > Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> > Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> > 
> > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> 
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke