Bung Dave (juga Pak Amin dan Bung Fatah)

Saya jadi malu membaca surat Anda. Saya, yang selama ini cuma anggota pasif
di sini, akhirnya terpancing berkomentar soal Bali Gate semata-mata karena
merasa masyarakat sudah terlampau jauh menghukum RR. Saya merasa, Anda akan
terbuka menerima opini saya yang berbeda dari "mainstream" di milis ini.

Itu sebabnya saya tidak menanggapi terlalu jauh posting balik dari Pak Amin
Riza dan Pak Abdul Fatah. Padahal saya masih setia di sini, membaca dengan
seksama semua pendapat yang berseliweran, dan kadang gatal tangan juga untuk
sedikit memberi tanggapan balik. Hehehe ....

Buat saya semuanya sangat jelas: ada kolusi atau "konspirasi politik"
tingkat tinggi yang telah berhasil membobol kas negara dengan dalih program
penjaminan pemerintah, dan kemudian mencuri sebagian besar uang rakyat itu
untuk kepentingan pribadi dan kelompok mereka. RR, sang korban, malah
dituduh sebagai dalangnya.

Terus terang, akal sehat saya menolak spekulasi semacam itu, karena RR tidak
memiliki motif dan tidak mendapat keuntungan apapun dari pembobolan kas
negera itu. Buat apa ia mengorbankan reputasi, merusak "anak" yang sudah
dirawat dengan baik selama dua generasi, dan bahkan menghancurkan hidupnya
setelah ini, hanya untuk "nothing"?

Meskipun begitu, mungkin saja ada kesalahan/pelanggaran yang dilakukan RR
dalam masalah teknis perbankan menyangkut keabsahan perjanjian cessie BB -
EGP, soal off balance sheet, dan lain-lain. Dimensi ini mestinya bisa
terungkap dalam penyidikan yang dilakukan Polri. RR sudah ditanya polisi dan
menjawab panjang lebar hingga menghabiskan waktu pemeriksaan sampai 11 jam.
Tapi sayang, konstruksi kasus yang dibangun polisi, menurut kawan dari
kantor pengacara RR, tidak cukup kuat buat menyeret Direksi BB dan EGP ke
meja hijau. Alias, bakal macet lagi seperti kasus perbankan lain yang
disidik Polri sejak dulu.

Saya sedang mencari 'inside information' secara detil mengenai soal itu.
Tapi saya menduga pelanggaran teknis itu terjadi karena BB/RR berada dalam
tekanan. Penyebabnya, EGP memiliki bargaining position/power yang jauh lebih
kuat dari BB/RR. Bagaimana mungkin kita yang sudah 30 tahun lebih
bersama-sama hidup dalam "dunia serba ketakutan" tidak mampu memahami soal
ini, dan berlagak seolah-olah segala sesuatunya selalu berlangsung normatif.

Yang pasti, ketika merasa tekanan sudah melampaui batas daya tahan, RR
mengadu kepada Ketua Bapepam Jusuf Anwar (JA). JA adalah "pater" pertama
yang dijadikan tempat "pengakuan dosa" RR. Alasannya mungkin karena BB
adalah public company, dan RR mengetahui secara persis bahwa banknya tengah
mengalami pendarahan serius. JA-lah orang yang meminta RR untuk membuat
laporan tertulis. Laporan Harian RR itu kemudian menyebar setelah RR
dikontak seorang Mayjen (purn) bernama Hartoyo yang awalnya bermaksud
membantu, tapi malah menggiring RR ke Amin Arjoso (AA), Dimiyati Hartono,
dan Kwik Kian Gie.

Ketika RR menginginkan Adnan Buyung Nasution (ABN) untuk membelanya, ABN
sedang berada di Australia dan tidak bisa dikontak. Hartoyo dan AA malah
bilang kepada RR: "Abang tidak bakal mau membela Anda, karena dia kan
orangnya Habibie". Akhirnya, RR -- meskipun kemudian memakai juga ABN --
memberi kuasa kepada AA dan kawan-kawan dari Kantor Pengacara Dimiyati
Hartono & Rekan. (Anda percaya RR mau melakukan ini dalam keadaan "normal"?)
Dari sini persoalan kemudian melebar masuk ke wilayah high politics.

Itulah sebabnya saya menganggap RR hanya korban. Terbukti, tuduhan dan
tekanan kepada RR malah semakin melencengkan kasus ini dari fokusnya. Yaitu,
bahwa ada kolusi atau "konspirasi politik" tingkat tinggi yang telah
berhasil membobol kas negara dengan dalih program penjaminan pemerintah, dan
kemudian mencuri sebagian besar uang rakyat itu untuk kepentingan pribadi
dan kelompok mereka.

Siapa mereka? Begitu terang benderang: EGP, Otoritas Moneter, Tim Sukses
Habibie, dan bahkan Sang Napoleon sendiri, yang konon telah mengirimkan memo
kepada Menkeu. RR? Siapa itu RR? Siapa korbannya, dalam permainan secanggih
ini, sama sekali tidak penting. Tidak ada RR dan BB, kan masih ada Indra
Widjaja dan BII. Atau, siapa sajalah bisa jadi korban "keganasan" mereka
....

Menurut saya, Bung Dave, Anda dan teman-teman masih boleh bangga punya
mantan boss semacam RR, seorang bankir sejati yang penuh dedikasi dan
integritas.

Salam,

totot indrarto





______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke