Mas Aswat,
Peristiwa menarik yang anda angkat bisa dikomentari dari bermacam sudut.
Dari sudut orang dalam orang luar umpamanya:
Bagi seseorang yang menganggap mas Amin orang dalam, bakal setuju sekali
dengan sikap beliau. Lha wong dia itu "lambangnya" rakyat semua ini, ketua
Majelis Tertinggi Negara. Ya wajar, mesti marah dan tersinggung. Apa
disuruh diam saja?. bagaimana kalau nanti diulang terus-terusan ?. Dubes
asing kok berani ngancam2 ngatur2 kandang orang, cuma karena ngutangi
duit yang mesti kita bayar. Kalau Bung Karno almarhum, dubes itu pasti
digites , diuleg , dilemparkan balik pulang ke kampungnya secepat kilat !.
Bagi seorang yang menganggap mas Amin itu "orang luar", otaknya bakal muter
mlungker ruwet macam2. Langkah Poros Tengah apa lagi ya ? Apa mau
menggulingkan Mega ( bingung, To! )? Atau dugaan2 soal BPPN, langkah Islam
menguasai aset negara, dan lain-lain ( otak ngeres). Kok kurang PD , ya ?
Bukankah DPR sekarang Komposisinya sedemikian berimbang ? Bukankah
keadaan sudah memaksa semua harus transparan ? Tapi apa boleh buat ,
kalau sudah kadung alergi, sulit sekali jamunya.
Dari sudut kenegaraan:
Saya melihat permainan cantik . Amin dengan kuat sudah menjitak dubes
Amerika. Sudah pasti dubes tersebut dimarahi habis oleh bosnya. Amerika
pasti mendengar pesan: Agak halus sedikitlah !
Menlu kita Alwi Shihab main kalem buat menyelamatkan muka dubes Amerika.
Meskipun tidak membantah substansi pembicaraan, dia mengartikan dari
sangka-baik: Bukan ancaman tapi, harapan. Demikian pula Menkeu Sudibyo,
meskipun bilang amat terperangah dengan "nasihat" sang dubes, tapi dia turut
menyelamatkan muka sang dubes: saat itu saya belum Menkeu, baru ketua
MM UGM. Bukahkah Amerika itu masih negara yang amat penting buat kita ?
Manis, tapi cukup cerdas , bukan ?
Dari sudut susunan kabinet belum diumumkan :
Saya angkat tangan mas. Barangkali bagiannya Permadi S.H. pakar
paranormal itu. Kalau saya yang terang-terang saja. Yang terang, ada
Kezaliman terang didepan mata, harus terang tegas dihadapi.Yang
samar-samar bikit sakit mata dan bikin puyeng. Buat apa ?
Wassalam.
Abdullah Hasan
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
Ketua MPR dengan mata berapi-api mengatakan bahwa tidak bleh lagi
ada dubes asing yang mencampuri urusan DN Indonesia berkaitan
dengan isu mengenai tekanan Dubes AS kepada Pak Dib Menkeu.
Nah, pak Dib sendiri kemudian menjelaskan bahwa ia tidak
tersinggung atau merasa dicampuri urusannya karena pada saat itu
ia sebagai Direktur MM UGM. bahkan Pak Dib menambahkan bahwa
kalau hal itu dikatakan saat ini maka dirinya akan tersinggung.
Timbul pertanyaan didalam hati, menagapa Ketua MPR marah sekali
padahal hal itu terjadi ketika susunan kabinet belum dibentuk
apalagi diumumkan?
Ada yang bisa menjelaskan atau memberi komentar?
��
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!