Sambil menunggu rekan yang baik hati dan berkenan untuk membagi
informasi seperti harapan Bung Yap, saya ingin mengingatkan
kembali mengenai akar masalah BB yang telah pernah dibahas di
milis ini.

1. RR yang ingin mengambil hak BB atas
    dana di BBO dan BTO namun kesulitan
    padahal oportunity cost nya sangat tinggi.
2. Novanto, Manimaren yang mengurus PT
    EGP dan kebetulan bendahara Golkar
    yang memungkinkan RR mengambil
    hak BB itu.
3. Birokrat dan aparat kekuasaan yang
    memiliki wewenang untuk memutuskan
    apakah dana BB itu bisa keluar atau tidak.

Dalam hal ini, pihak 1 telah berusaha selama berbulan-bulan untuk
mengambil haknya kepada pihak 3 namun tidak berhasil padahal
padahal opportunity cost dana itu  sangat tinggi. Kemunculan
pihak 2
itu memang memungkinkan dana BB itu keluar. 1 Juni 1999,
pembayaran dari BI ke Bank Bali sebesar Rp 904 miliar; dan untuk
itu 1 Juni, Bank Bali mentransfer ke PT Era Giat Prima (EGP/Djoko
Tjandra) sebesar Rp 546 miliar.

Secara sederhana sebuah spekulasi bisa dibuat bahwa diantara 2
dan 3 telah terjadi hubungan tidak biasa mengingat bahwa hubungan
biasa yang telah dibuat oleh RR selama berbulan-bulan itu tidak
berhasil. Sepekulasi itu akan semakin kuat manakala banyak para
pejabat kunci entah karena tidak bisa mengendalikan diri, atau
karena reaksi formasi telah saling melontarkan pernyataan yang
justru
menunjukkan bagaimana hubungan tidak biasa itu bisa terjalin.
Bahkan belakangan muncul informasi bahwa dana 15M yang diterima
Golkar dari Manimaren adalah pinjaman yang harus dikembalikan.

Saya percaya bahwa masyarakat sangat menunggu gelar pengadilan
kasus BB itu untuk memuaskan rasa keadilan mereka karena bukan
hanya mereka sebagai pihak yang harus ikut menanggung untuk
membayar hutang bagi recovery process perbankan nasional namun
juga kasus itu sungguh sangat sarat dengan nuansa politis yang
akan menandai Indonesia Baru yang lebih baik akan diwujudkan atau
tidak. Utopia atau harapan?

��

----- Original Message -----
From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 07 November 1999 05:46
Subject: [Kuli Tinta] Skandal BB lagi


Sebuah publikasi diluar negeri baru baru ini menulis:

"...But the IMF halted lending to Indonesia earlier this year
amid a scandal
surrounding payments from Bank Bali to people linked to former
president
B.J. Habibie's Golkar party...."

Padahal dari aliran dana yang dimuat dilong form PwC, kalaupun
ada orang
Golkar yang disebut menerima dana yang diduga dari BB juga nggak
dekat dekat
amat dengan BJH. Kalau demikian halnya, penyebutan nama BJH
terlalu
tendensius, walaupun maksudnya hanya akan memberi ilustrasi
tentang apa itu
Golkar.

Adakah rekan yang bisa menjelaskan keterkaitan (orang dekat) BJH
dengan
skandal BB? Barangkali ada rekan yang beruntung dapat kesempatan
membaca
narasi hasil audit PwC (halaman 1 - 45).

Semoga sidang RR nanti kita mendapat kejelasan skenario
seutuhnya. Kalau
cuma aliran dana kan masih mudah diperdebatkan.

Yap





______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke