Butir 2 itu menarik. Mengapa untuk menagih kepada Pemerintah (BI) masih
diperlukan mediator?
Kejelasan skenario dan pola pikir ini jauh lebih menarik daripada sekedar
kisah aliran dana, karena bukan tidak mungkin kisah yang sama terjadi pada
kasus yang lain.
Pantesan IMF mogok beneran, rupanya penyelesaian kasus ini akan menjadi
acuan untuk membuka dan menyelesaikan kasus serupa lainnya.
Ada nggak kasus semacam ini lainnya ya?
Yap
>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Sun, 7 Nov 1999 08:07:50 +0700
>
>Sambil menunggu rekan yang baik hati dan berkenan untuk membagi
>informasi seperti harapan Bung Yap, saya ingin mengingatkan
>kembali mengenai akar masalah BB yang telah pernah dibahas di
>milis ini.
>
>1. RR yang ingin mengambil hak BB atas
> dana di BBO dan BTO namun kesulitan
> padahal oportunity cost nya sangat tinggi.
>2. Novanto, Manimaren yang mengurus PT
> EGP dan kebetulan bendahara Golkar
> yang memungkinkan RR mengambil
> hak BB itu.
>3. Birokrat dan aparat kekuasaan yang
> memiliki wewenang untuk memutuskan
> apakah dana BB itu bisa keluar atau tidak.
>
>Dalam hal ini, pihak 1 telah berusaha selama berbulan-bulan untuk
>mengambil haknya kepada pihak 3 namun tidak berhasil padahal
>padahal opportunity cost dana itu sangat tinggi. Kemunculan
>pihak 2
>itu memang memungkinkan dana BB itu keluar. 1 Juni 1999,
>pembayaran dari BI ke Bank Bali sebesar Rp 904 miliar; dan untuk
>itu 1 Juni, Bank Bali mentransfer ke PT Era Giat Prima (EGP/Djoko
>Tjandra) sebesar Rp 546 miliar.
>
>Secara sederhana sebuah spekulasi bisa dibuat bahwa diantara 2
>dan 3 telah terjadi hubungan tidak biasa mengingat bahwa hubungan
>biasa yang telah dibuat oleh RR selama berbulan-bulan itu tidak
>berhasil. Sepekulasi itu akan semakin kuat manakala banyak para
>pejabat kunci entah karena tidak bisa mengendalikan diri, atau
>karena reaksi formasi telah saling melontarkan pernyataan yang
>justru
>menunjukkan bagaimana hubungan tidak biasa itu bisa terjalin.
>Bahkan belakangan muncul informasi bahwa dana 15M yang diterima
>Golkar dari Manimaren adalah pinjaman yang harus dikembalikan.
>
>Saya percaya bahwa masyarakat sangat menunggu gelar pengadilan
>kasus BB itu untuk memuaskan rasa keadilan mereka karena bukan
>hanya mereka sebagai pihak yang harus ikut menanggung untuk
>membayar hutang bagi recovery process perbankan nasional namun
>juga kasus itu sungguh sangat sarat dengan nuansa politis yang
>akan menandai Indonesia Baru yang lebih baik akan diwujudkan atau
>tidak. Utopia atau harapan?
>
>��
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!