Menurut berita yang beredar, BB adalah salah satu.  Ada beberapa
bank lain yang sudah ditawari oleh model tidak biasa itu.

Yang menjadi masalah sekarang adalah bahwa arus besar informasi
mengenai masalah disekitar aliran dana sehingga hulu masalah itu
mulai tersamarkan.

Sepak terjang Djoko S Chandra di Warta Ekonomi mungkin bisa
menjadi salah satu referensi untuk menguak skenario itu. Apalagi
kalau itu dikaitkan dengan pengakuan RR di DPR mengenai telephone
DSC dihadapan RR ke seseorang yang membuat RR yakin mengenai
pihak ke 2 itu.

��


----- Original Message -----
From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 08 November 1999 00:42
Subject: Re: [Kuli Tinta] Skandal BB lagi


> Butir 2 itu menarik. Mengapa untuk menagih kepada Pemerintah
(BI) masih
> diperlukan mediator?
> Kejelasan skenario dan pola pikir ini jauh lebih menarik
daripada sekedar
> kisah aliran dana, karena bukan tidak mungkin kisah yang sama
terjadi pada
> kasus yang lain.
> Pantesan IMF mogok beneran, rupanya penyelesaian kasus ini akan
menjadi
> acuan untuk membuka dan menyelesaikan kasus serupa lainnya.
> Ada nggak kasus semacam ini lainnya ya?
>
> Yap
>
> >From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
> >Date: Sun, 7 Nov 1999 08:07:50 +0700
> >
> >Sambil menunggu rekan yang baik hati dan berkenan untuk
membagi
> >informasi seperti harapan Bung Yap, saya ingin mengingatkan
> >kembali mengenai akar masalah BB yang telah pernah dibahas di
> >milis ini.
> >
> >1. RR yang ingin mengambil hak BB atas
> >     dana di BBO dan BTO namun kesulitan
> >     padahal oportunity cost nya sangat tinggi.
> >2. Novanto, Manimaren yang mengurus PT
> >     EGP dan kebetulan bendahara Golkar
> >     yang memungkinkan RR mengambil
> >     hak BB itu.
> >3. Birokrat dan aparat kekuasaan yang
> >     memiliki wewenang untuk memutuskan
> >     apakah dana BB itu bisa keluar atau tidak.
> >
> >Dalam hal ini, pihak 1 telah berusaha selama berbulan-bulan
untuk
> >mengambil haknya kepada pihak 3 namun tidak berhasil padahal
> >padahal opportunity cost dana itu  sangat tinggi. Kemunculan
> >pihak 2
> >itu memang memungkinkan dana BB itu keluar. 1 Juni 1999,
> >pembayaran dari BI ke Bank Bali sebesar Rp 904 miliar; dan
untuk
> >itu 1 Juni, Bank Bali mentransfer ke PT Era Giat Prima
(EGP/Djoko
> >Tjandra) sebesar Rp 546 miliar.
> >
> >Secara sederhana sebuah spekulasi bisa dibuat bahwa diantara 2
> >dan 3 telah terjadi hubungan tidak biasa mengingat bahwa
hubungan
> >biasa yang telah dibuat oleh RR selama berbulan-bulan itu
tidak
> >berhasil. Sepekulasi itu akan semakin kuat manakala banyak
para
> >pejabat kunci entah karena tidak bisa mengendalikan diri, atau
> >karena reaksi formasi telah saling melontarkan pernyataan yang
> >justru
> >menunjukkan bagaimana hubungan tidak biasa itu bisa terjalin.
> >Bahkan belakangan muncul informasi bahwa dana 15M yang
diterima
> >Golkar dari Manimaren adalah pinjaman yang harus dikembalikan.
> >
> >Saya percaya bahwa masyarakat sangat menunggu gelar pengadilan
> >kasus BB itu untuk memuaskan rasa keadilan mereka karena bukan
> >hanya mereka sebagai pihak yang harus ikut menanggung untuk
> >membayar hutang bagi recovery process perbankan nasional namun
> >juga kasus itu sungguh sangat sarat dengan nuansa politis yang
> >akan menandai Indonesia Baru yang lebih baik akan diwujudkan
atau
> >tidak. Utopia atau harapan?
> >
> >��
> >



______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke