Bung Reva,

Points Anda menarik dan saya juga termasuk menyayangkan
seandainya Aceh nanti akan menjadi negara sendiri. Persoalannya
bukan pada keberatan bahwa Aceh akan menjadi negara sendiri namun
lebih kepada ketakutan bahwa hal itu akan memicu daerah-daerah
lain yang akan membuat Indonesia menjadi berkeping-keping dengan
ketidakpastian yang menghantui. Lagi, yang akan menjadi korban
pertama adalah rakyat kecil yang selalu tertradisi untuk bersedia
berkorban tanpa pamrih namun sekaligus menjadi korban pada setiap
ritual perjoangan.

Mudah-mudahan saudara-saudara kita di Aceh, seperti di awal
kemerdekaan dulu, menyadari bahwa posisi tawar menawar mereka
sangat kuat saat ini namun apapun putusan mereka akan bisa
berakibat sangat besar dan mungkin fatal bagi bangsa dan negara
yang namanya Indonesia yang terbentang diantara dua benua dan
lautan yang memiliki ribuan pulau, adat,  budaya, bahasa, dan
suku serta keaneka ragaman hayati.

Namun, kalau kita sedikit melihat kembali ke SU kemarin,
sebenarnya usul wakil rakyat Aceh yang meminta agar masalah Aceh
dijadikan Tap sendiri memiliki nilai strategis. Sayang sekali,
"mood" para wakil rakyat  pada saat itu masih terkonsenrasi pada
rebutan RI 1 demi masa depan masing-masing dan bukan demi bangsa
dan negara sehingga tekanan wakil dari Aceh yang akhirnya
meningalkan
sidang tidak terperhatikan padahal acara itu ditayangkan secara
nasional.

Menurut ungkapan para tokoh, pimpinan informal, dan Hasbalah yang
berbicara langsung di media TV pada berbagai pertemuan mengenai
Aceh, rakyat Aceh sudah tidak percaya lagi (berdasar pengalaman
masa lalu) terhadap Pemerintah  kecuali tindakan konkrit. Bahkan
kedatangan Gus Dur ke Aceh dikatakan tidak ada gunanya karena
rakyat Aceh kini membutuhkan konkritisasi ucapan dan janji.

Kita sudah mengetahui bahwa reformasi sedang berjalan dan masa
depan daerah yang berbeda dari masa lalu telah ditetapkan. Tanpa
UU mengenai otonomipun sebenarnya Aceh memiliki keIstimewaan
sesuai dengan UU. Sayang praktek kekuasaan dan realita politik
sering menepis apa yang telah disepakati bersama demi ambisi
kekuasaan pribadi dan golongan.

Bagaimanapun juga, sarapan pagi antara Gus Dur dengan tokoh-tokoh
GAM yang menentang akidah politik dan merupakan sebuah terobosan
model kepemimpinan negara mudah-mudahan menumbuhkan harapan bagi
penyelesaian Aceh yang lebih baik bukan hanya bagi rakyat Aceh
namun juga bagi bangsa dan negara Indonesia. Saya kemarin
menyaksikan di bengkel seorang karyawan memotong baja dengan
pisau potong yang terbuat dari bahan ebonit. Ini mengingatkan
saya bahwa sudah merupakan hukum alam kalau kekerasan tidak
mungkin diselesaikan dengan kekerasan untuk menyelesaikan
masalah.

��



----- Original Message -----
From: Reva Renaldo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 09 November 1999 04:05
Subject: [Kuli Tinta] Aceh akan berpisah?!


> Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU MPR) Aceh hari
Senin 8
> November 1999 berlangsung dengan sukses. Melihat suasana yang
ditayangkan
> televisi, rakyat begitu padat berjubel (dikabarkan sekitar dua
juta orang
> dari 4,3 juta penduduk Propinsi Aceh), saya terkesima. Luar
biasa! Tidak ada
> bentrokan, tidak ada kerusuhan, seluruhnya berlangsung dengan
aman, damai.
> Inilah kahikat demokrasi. Rakyat tanpa rasa takut mengungkapkan
aspirasinya.
> Tidak ada intimidasi, tidak ada bentrokan dengan aparat, tidak
ada ancaman
> "ditangkap karena makar". Merinding bulu roma menyaksikannya.
Tapi di lain
> pihak,. terus-terang, tak bisa diungkiri timbulnya rasa sedih
karena
> tampaknya kehendak rakyat Aceh untuk melepaskan diri dari
Republik Indonesia
> tercinta, cepat atau lambat akan menjadi kenyataan. Ibarat
keluarga besar,
> salah satu saudara kita tercinta akan pergi meninggalkan kita,
memisahkan
> diri dan keluar dari keluarga besar, betapa pun kita akui itu
merupakan hak
> yang bersangkutan, rasa sedih tak terhindarkan. Saudara kita,
yang sejak
> Indonesia merdeka terus menerus diabaikan, selalu luput dari
perhatian,
> diperlakukan tidak adil, tanpa kita sendiri bisa melakukan
apa-apa untuk
> menolong, tampaknya tak bisa lagi dicegah untuk meninggalkan
kita pergi
> membawa nasibnya sendiri.
> Maka bagaimana pun, yang tinggal adalah penyesalan.
Pemerintahan sudah tiga
> kali berganti, dan tidak ada yang melakukan sesuatu untuk
mencegah. Itu
> terjadi dengan Soekarno, Soeharto, Habibie, dan sayang sekali
pemerintahan
> Gus Dur pun belum sempat berbuat apa-apa. Bisa dibayangkan
betapa kecewa
> rakyat Aceh karena pemimpin baru yang tadinya mereka sempat
menaruh harapan,
> ternyata lebih mendahulukan bertandang ke negeri orang daripada
datang ke
> Aceh untuk mencoba mencari jalan keluar. Lebih mendahulukan
berbaikbaik
> dengan negara Yahudi Israel daripada mengurus Serambi Mekah.
Dan, Sang Ibu
> Rumah Tangga, yang mengurusi "rumah" selama kepala rumah tangga
> melanglangbuana, seperti biasa hanya diam seribu basa. Cut Nya'
tidakkah
> Anda dapat berbuat sesuatu, atau setidak-tidaknya mengatakan
sesuatu untuk
> sekadar menghibur rakyat Aceh?
>
> Reva Renaldo
>




______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke