Saya jadi sedih juga................
----------
> From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
> To: Kuli Tinta <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Aceh akan berpisah?!
> Date: 09 Nopember 1999 7:34
>
> Bung Reva,
>
> Points Anda menarik dan saya juga termasuk menyayangkan
> seandainya Aceh nanti akan menjadi negara sendiri. Persoalannya
> bukan pada keberatan bahwa Aceh akan menjadi negara sendiri namun
> lebih kepada ketakutan bahwa hal itu akan memicu daerah-daerah
> lain yang akan membuat Indonesia menjadi berkeping-keping dengan
> ketidakpastian yang menghantui. Lagi, yang akan menjadi korban
> pertama adalah rakyat kecil yang selalu tertradisi untuk bersedia
> berkorban tanpa pamrih namun sekaligus menjadi korban pada setiap
> ritual perjoangan.
>
> Mudah-mudahan saudara-saudara kita di Aceh, seperti di awal
> kemerdekaan dulu, menyadari bahwa posisi tawar menawar mereka
> sangat kuat saat ini namun apapun putusan mereka akan bisa
> berakibat sangat besar dan mungkin fatal bagi bangsa dan negara
> yang namanya Indonesia yang terbentang diantara dua benua dan
> lautan yang memiliki ribuan pulau, adat, budaya, bahasa, dan
> suku serta keaneka ragaman hayati.
>
> Namun, kalau kita sedikit melihat kembali ke SU kemarin,
> sebenarnya usul wakil rakyat Aceh yang meminta agar masalah Aceh
> dijadikan Tap sendiri memiliki nilai strategis. Sayang sekali,
> "mood" para wakil rakyat pada saat itu masih terkonsenrasi pada
> rebutan RI 1 demi masa depan masing-masing dan bukan demi bangsa
> dan negara sehingga tekanan wakil dari Aceh yang akhirnya
> meningalkan
> sidang tidak terperhatikan padahal acara itu ditayangkan secara
> nasional.
>
> Menurut ungkapan para tokoh, pimpinan informal, dan Hasbalah yang
> berbicara langsung di media TV pada berbagai pertemuan mengenai
> Aceh, rakyat Aceh sudah tidak percaya lagi (berdasar pengalaman
> masa lalu) terhadap Pemerintah kecuali tindakan konkrit. Bahkan
> kedatangan Gus Dur ke Aceh dikatakan tidak ada gunanya karena
> rakyat Aceh kini membutuhkan konkritisasi ucapan dan janji.
>
> Kita sudah mengetahui bahwa reformasi sedang berjalan dan masa
> depan daerah yang berbeda dari masa lalu telah ditetapkan. Tanpa
> UU mengenai otonomipun sebenarnya Aceh memiliki keIstimewaan
> sesuai dengan UU. Sayang praktek kekuasaan dan realita politik
> sering menepis apa yang telah disepakati bersama demi ambisi
> kekuasaan pribadi dan golongan.
>
> Bagaimanapun juga, sarapan pagi antara Gus Dur dengan tokoh-tokoh
> GAM yang menentang akidah politik dan merupakan sebuah terobosan
> model kepemimpinan negara mudah-mudahan menumbuhkan harapan bagi
> penyelesaian Aceh yang lebih baik bukan hanya bagi rakyat Aceh
> namun juga bagi bangsa dan negara Indonesia. Saya kemarin
> menyaksikan di bengkel seorang karyawan memotong baja dengan
> pisau potong yang terbuat dari bahan ebonit. Ini mengingatkan
> saya bahwa sudah merupakan hukum alam kalau kekerasan tidak
> mungkin diselesaikan dengan kekerasan untuk menyelesaikan
> masalah.
>
> ��
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Reva Renaldo <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: 09 November 1999 04:05
> Subject: [Kuli Tinta] Aceh akan berpisah?!
>
>
> > Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU MPR) Aceh hari
> Senin 8
> > November 1999 berlangsung dengan sukses. Melihat suasana yang
> ditayangkan
> > televisi, rakyat begitu padat berjubel (dikabarkan sekitar dua
> juta orang
> > dari 4,3 juta penduduk Propinsi Aceh), saya terkesima. Luar
> biasa! Tidak ada
> > bentrokan, tidak ada kerusuhan, seluruhnya berlangsung dengan
> aman, damai.
> > Inilah kahikat demokrasi. Rakyat tanpa rasa takut mengungkapkan
> aspirasinya.
> > Tidak ada intimidasi, tidak ada bentrokan dengan aparat, tidak
> ada ancaman
> > "ditangkap karena makar". Merinding bulu roma menyaksikannya.
> Tapi di lain
> > pihak,. terus-terang, tak bisa diungkiri timbulnya rasa sedih
> karena
> > tampaknya kehendak rakyat Aceh untuk melepaskan diri dari
> Republik Indonesia
> > tercinta, cepat atau lambat akan menjadi kenyataan. Ibarat
> keluarga besar,
> > salah satu saudara kita tercinta akan pergi meninggalkan kita,
> memisahkan
> > diri dan keluar dari keluarga besar, betapa pun kita akui itu
> merupakan hak
> > yang bersangkutan, rasa sedih tak terhindarkan. Saudara kita,
> yang sejak
> > Indonesia merdeka terus menerus diabaikan, selalu luput dari
> perhatian,
> > diperlakukan tidak adil, tanpa kita sendiri bisa melakukan
> apa-apa untuk
> > menolong, tampaknya tak bisa lagi dicegah untuk meninggalkan
> kita pergi
> > membawa nasibnya sendiri.
> > Maka bagaimana pun, yang tinggal adalah penyesalan.
> Pemerintahan sudah tiga
> > kali berganti, dan tidak ada yang melakukan sesuatu untuk
> mencegah. Itu
> > terjadi dengan Soekarno, Soeharto, Habibie, dan sayang sekali
> pemerintahan
> > Gus Dur pun belum sempat berbuat apa-apa. Bisa dibayangkan
> betapa kecewa
> > rakyat Aceh karena pemimpin baru yang tadinya mereka sempat
> menaruh harapan,
> > ternyata lebih mendahulukan bertandang ke negeri orang daripada
> datang ke
> > Aceh untuk mencoba mencari jalan keluar. Lebih mendahulukan
> berbaikbaik
> > dengan negara Yahudi Israel daripada mengurus Serambi Mekah.
> Dan, Sang Ibu
> > Rumah Tangga, yang mengurusi "rumah" selama kepala rumah tangga
> > melanglangbuana, seperti biasa hanya diam seribu basa. Cut Nya'
> tidakkah
> > Anda dapat berbuat sesuatu, atau setidak-tidaknya mengatakan
> sesuatu untuk
> > sekadar menghibur rakyat Aceh?
> >
> > Reva Renaldo
> >
>
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!