Ini nih salah satu orang yang diprotes oleh para Ekonom Banyak Tingkah itu.
Dan ternyata di belakang semua itu (poros tengah juga) masih tampak gambar
mantan Raja meski masih samar-samar. Bener bung BridWan, satu persatu mulai
tampak hidungnya.
Mb
Laporan Utama NO. 35/XXVIII/01 - 07 Nop 1999
Fuad Bawazier, Pencetak Raja, Penjaga
Raja
Bekas Menteri Keuangan Fuad Bawazier kembali ke panggung
politik
dan bisnis. Benarkah ia membawa kepentingan Soeharto?
SIAPAKAH king maker Indonesia sejati? Boleh jadi publik
akan menyebut
nama Amien Rais dengan mantap. Ketua Partai Amanat Nasional
itu bukan
cuma mengusung pencalonan Gus Dur sebagai presiden, tapi
juga
menempatkan ''orang-orangnya" di kabinet.
Tapi, Farid Prawiranegara, salah seorang pentolan Poros
Tengah, barangkali
akan menyebut nama lain: Fuad Bawazier. Menurut Farid,
bekas Menteri
Keuangan di zaman Soeharto itulah orang pertama yang
meyakinkan Amien
agar mencalonkan Gus Dur. Fuad jugalah yang melobi
tokoh-tokoh partai
Islam agar menerima kiai Denanyar, Jombang, itu sebagai
calon presiden.
''Kita semua semula ragu," kata Farid, ''tapi Fuad berhasil
meyakinkan kami."
Dan Fuad bukan cuma berhasil meyakinkan Farid. Ia membuka
jalan Gus Dur
ke Istana, sekaligus punya saham di kabinet. Menteri
Bambang Sudibyo, yang
sering disebut sebagai ''titipan" Amien, ternyata pilihan
Fuad. Kalau Anda
kebetulan melihat seorang lelaki yang selalu nginthil,
mendampingi ke mana
pun Menteri Bambang pergi, pastikan bahwa namanya Nasrun.
Ia adalah
asisten pribadi Fuad.
Sulit dibantah, nama Fuad Bawazier kini berkibar sebagai
''orang kuat" dalam
pemerintahan Gus Dur. Karena itu, permintaannya agar
pemerintah mengganti
Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Glenn
Yusuf, dua
pekan terakhir, agaknya tak bisa dianggap sepi. Menurut
Sekretaris Dewan
Ekonomi Nasional, Yusuf Faishal, sejak awal penyusunan
kabinet ia
mendengar bahwa Fuad minta dua portofolio keuangan: Menteri
Keuangan dan
Ketua BPPN. Kalau betul demikian, dari dua target itu, kini
tinggal satu yang
belum kesampaian.
Pergantian pejabat, di mana pun tempatnya, tentu bukan soal
istimewa,
apalagi jika mereka diganti karena tak cakap. Persoalannya,
apakah
pergantian Glenn benar-benar atas pertimbangan profesional,
atau karena
desakan dan skenario tertentu?
Pertanyaan itu penting karena Fuad, setidaknya oleh pasar,
dinilai berbau
Orde Baru. Fuad bukan cuma Menteri Keuangan di zaman
Soeharto, tapi juga
pengurus beberapa lembaga yang didirikan Keluarga Cendana.
Misalnya
sebagai wakil bendahara di Yayasan Dana Sejahtera Mandiri
(YDSM). Lebih
dari itu, anak saudagar batik dari Tegal ini tak termasuk
14 menteri yang
meneken pernyataan mundur pada hari-hari terakhir
pemerintahan Soeharto.
Muncul kesan-walaupun tak mudah dibuktikan-Fuad adalah
pendukung Pak
Harto.
Selain itu, BPPN adalah gudang harta terbesar yang pernah
dimiliki Indonesia.
Asetnya Rp 600 triliun. Selain kredit macet dari perusahaan
yang ngemplang
utang, BPPN juga mengelola aset-aset milik konglomerat yang
dijaminkan
kepada negara. Konglomerat terbesar Indonesia, Liem Sioe
Liong, misalnya,
menjaminkan lebih dari 100 perusahaan dengan nilai Rp 50
triliun. Pendek
kata, BPPN adalah tumpukan harta karun. Satu-satunya lemari
harta yang
isinya mendekati BPPN mungkin hanyalah Kantor Menteri
Negara BUMN,
yang mengurusi perusahaan-perusahaan negara.
Berbeda dengan setahun lalu ketika BPPN cuma mengoleksi
harta
konglomerat, kini lembaga di bawah Departemen Keuangan itu
sedang
menghadapi masa panen. Aset-aset sudah waktunya dijual.
Kredit yang macet
juga tiba saatnya dibuat lancar. Salah satu caranya, dengan
mengundang
pemodal baru. Siapa pun yang menguasai BPPN punya
kesempatan lebih
besar berupa harta ratusan triliun itu.
Dan Fuad tampaknya sudah menyiapkan prasarana untuk itu.
September lalu,
ia mendirikan Widari Sekuritas bersama Rini Suwandi dan
Renee Zecha,
bekas direktur riset di SBC Warburg Indonesia. Widari
merupakan nama baru
Astra Securities setelah dibeli Widari Saranacipta milik
trio Wiranto, (alm.)
Darmoko Slamet (bekas Sekjen Departemen Pertambangan dan
Energi), dan
Rini Suwandi.
Lalu, apa hebatnya perusahaan ini? Dengan modal pengalaman
Renee
memimpin SBC dan pergaulan Rini dalam masyarakat keuangan
internasional,
tak sulit menjadikan Widari sebagai perusahaan sekuritas
tangguh. Proyeksi
Widari akan tambah dahsyat jika BPPN bisa dikuasai. Seperti
Glenn, yang
kini banyak memberikan kontrak bisnis kepada Danareksa
(misalnya sebagai
penjamin penawaran saham BCA), Fuad bisa melakukan hal yang
sama
dengan Widari.
Menurut sumber TEMPO di BPPN, tak lama lagi Widari akan
mulai ''eksyen"
melalui penjualan saham baru Astra Internasional.
Perusahaan mobil ini perlu
suntikan dana untuk menambah arus kas. Dan manajemen Astra
di bawah
Rini sudah bulat untuk menjual saham baru.
Persoalannya, sebagian besar (40 persen lebih) saham Astra
kini dikuasai
BPPN. Untuk mempertahankan kepemilikannya, BPPN harus
membeli 40
persen saham baru Astra. Berapa nilainya, belum tahu pasti.
Tapi, di saat
pemerintah jungkir balik mencari sumber pendanaan bagi
rekapitalisasi bank,
injeksi dana ke Astra, berapa pun jumlahnya, tampaknya tak
akan jadi
prioritas utama.
Di sinilah terbuka peluang Widari untuk mengambil oper
(jika tak ada
halangan) saham pemerintah di Astra. Aksi ini kabarnya
diketahui oleh Glenn.
Ketua BPPN ini kemudian berupaya menjual saham Astra kepada
pihak
lain-cuma, hingga kini belum ketemu harga yang cocok.
Ganjalan inilah yang kabarnya membuat Fuad makin bernafsu
untuk
menggesar Glenn secepatnya. Fuad sudah punya calon. Siapa
lagi kalau
bukan Rini Suwandi, eksekutif sukses yang sudah sekian lama
menjadi
partner Fuad?
Hubungan Rini dengan Fuad sudah dimulai sedikitnya lima
tahun lalu pada
saat kelahiran PT Bursa Efek Jakarta (BEJ). Ketika itu,
Fuad terpilih menjadi
Presiden Komisaris BEJ yang pertama, didampingi Titiek
Soeharto dan Rini
Suwandi sebagai komisaris. Mereka bertiga, bersama Mar'ie
Muhammad,
kemudian mempererat hubungan dengan memprakarsai berdirinya
Capital
Market Society (CMS).
Rencananya, lembaga ini akan menjadi pusat pemikiran pasar
modal, seperti
New York Institute of Finance di Amerika Serikat. Hebatnya,
selain menjadi
pusat riset, data, dan pendidikan, CMS akan dibarengi
berdirinya tiga atau
empat pilar industri sekuritas. Para pemainnya tak akan
jauh dari kelompok
Cendana, seperti Hashim, Titiek Prabowo, dan Tutut. Mereka
bahkan sudah
bersiap-siap mengajak sejumlah raksasa keuangan Amerika
seperti Merrill
Lynch dan Lehman Brothers.
Kombinasi ini, kalau saja benar-benar kejadian, pasti akan
menjadi kekuatan
raksasa yang menguasai setiap lini bisnis di bursa saham.
Setiap penawaran
umum saham kepada publik (initial public offering), baik
perusahaan swasta
maupun perusahaan pemerintah, akan melalui salah satu dari
empat raksasa
ini. Untunglah, rencana besar ini tak menjadi kenyataan,
keburu ''kabinet
Fuad" di BEJ tumbang.
Tapi duet Fuad-Rini tak terputus sampai di situ. Maret
1998, ketika Fuad
dilantik sebagai Menteri Keuangan, Rini diangkat menjadi
Wakil Ketua BPPN
di bawah Iwan Prawiranata. Hubungan itu rupanya terus
berjalan sampai kini.
Jadi, benarkah ada koneksi khusus antara Farid, Rini, dan
keluarga Soeharto?
Benarkah sepak terjang Fuad adalah untuk menjaga
kepentingan bisnis Pak
Harto? Terlalu gampang untuk membeberkan beberapa petunjuk
ke arah itu,
tapi sekaligus terlalu sulit untuk membuktikannya. Memang
betul, ada banyak
kaitan antara mereka bertiga. Yang paling nyata ketika
mereka bertiga
mendatangkan Steve Hanke. Kampiun currency board system
(CBS) ini
merupakan guru Fuad di Universitas Maryland, AS. Selama di
Jakarta, Steve
menginap di Hotel Shangrilla dengan nama samaran sebagai
tamu dari Astra
Internasional.
Tapi, apakah fakta-fakta itu bisa menjadi petunjuk yang
cukup? Fuad sendiri
menganggap sepi tuduhan yang dinilainya bodoh dan ngawur
itu. ''Ini reaksi
dari orang-orang yang merasa kebakaran jenggot," katanya.
M. Taufiqurohman, Ali Nur Yasin, Dewi Rina dan Edi
Budiyarso
----- Original Message -----
From: bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, November 08, 1999 10:53 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Ekonom Banyak Tingkah
> ---
>
> Percayakan saja pada Gus Dur dan Mega, toh ini adalah
> pilihan yang terbaik pada saat kini. Percayalah, siapa yang
> bermaksud jelek, pasti akan terbongkar pada suatu saat.
>
> Sekarang saja issue Menteri2 yang ada masalah dengan
> Uang dan Hukum, pelan tapi pasti akan terbongkar.
> Kemudian apa-apa yang pernah terjadi semasa Pemilu dan
> semasa SU-MPR, pasti akan saling membongkar atau
> saling 'bernyanyi'. Kan seru lho....:)
>
> Mari kita doakan saja agar kabinet (ber-Garansi) ini akan
> dapat menyelesaikan permasalahan2 yang urgent, diantaranya
> masalah perekonomian kita. Ini yang mendesak, selain dari
> mengembalikan 'kepercayaan' dunia luar kepada kita.
>
>
> Salam,
> bRidWaN
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!